Fenomena “Matinya Kepakaran” di Era Digital
Tahun 2026 belum genap berjalan dua bulan, namun lini masa media sosial sudah dipenuhi berbagai perdebatan dan keriuhan. Mulai dari isu-isu tentang investasi kripto yang mengalami penurunan tajam hingga perbedaan pendapat terkait program makan bergizi gratis (MBG). Di tengah situasi ini, muncul fenomena yang menimbulkan kekhawatiran, yaitu ketidakpercayaan publik terhadap para pakar dan institusi ilmiah.
Kini, banyak orang lebih mempercayai pernyataan influencer dengan akun bercentang biru daripada analisis ilmiah dari para ahli. Hal ini dikenal sebagai “Death of Expertise” atau matinya kepakaran. Dalam episode SuarAkademia kali ini, The Conversation Indonesia berbincang dengan Anggi M. Lubis, Redaktur Pelaksana dan Content Director, serta Nurul Fitri Ramadhani (Fifi), Editor Politik dan Masyarakat, untuk membahas fenomena ini secara mendalam.
Penyebab Ketidakpercayaan Publik
Menurut Fifi, fenomena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tunggal, melainkan hasil dari krisis kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga seperti universitas dan lembaga riset. Banyak masyarakat merasa bahwa kampus-kampus ternama lebih sering terlibat dalam politik daripada menyuarakan kepentingan masyarakat. Akibatnya, ketika para pakar memberikan pernyataan, publik sering curiga apakah itu benar-benar analisis ilmiah atau ada kepentingan politik di baliknya.
Selain itu, minimnya literasi digital dan sains juga turut memperparah ketidakpercayaan ini. Masyarakat awam cenderung kesulitan memahami informasi yang disampaikan oleh para pakar karena bahasa yang digunakan seringkali terlalu teknis dan kaku.
Peran Influencer dan Algoritma Media Sosial
Di sisi lain, Anggi menyoroti masalah yang berasal dari para pakar itu sendiri. Banyak dari mereka terlalu nyaman berada di lingkungan akademis dan kurang mampu berkomunikasi dengan masyarakat umum. Pesan-pesan mereka seringkali terasa jauh dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, influencer dan content creator hadir dengan cara yang lebih menarik. Mereka mahir dalam menyusun narasi, menggunakan bahasa populer, dan memanfaatkan algoritma media sosial dengan baik. Meskipun pesan mereka belum tentu didasarkan pada fakta ilmiah, mereka justru lebih mudah diterima oleh publik karena terasa dekat dan relevan.
Fifi juga menekankan peran algoritma media sosial dalam memperburuk situasi ini. Platform seperti X (dahulu Twitter), Instagram, dan TikTok dirancang untuk meningkatkan interaksi, bukan untuk menyebarkan kebenaran. Narasi yang provokatif dan emosional seringkali lebih disukai oleh algoritma dibandingkan penjelasan akademis yang mendalam.
Bahaya Ilusi Kepakaran
Kondisi ini menciptakan apa yang disebut “ilusi kepakaran”. Seseorang dengan jumlah pengikut besar bisa dengan mudah mengklaim dirinya sebagai ahli di suatu bidang hanya bermodalkan kemampuan berargumen yang meyakinkan tanpa bukti empiris. Hal ini sangat berbahaya, terutama dalam isu-isu krusial seperti kesehatan masyarakat atau kebijakan ekonomi, di mana kesalahan informasi dapat memiliki konsekuensi fatal.
Solusi untuk Menghadapi Tantangan Ini
Menghadapi tantangan ini, tidak ada jalan pintas. Edukasi publik mengenai literasi digital dan kemampuan berpikir kritis harus terus digalakkan. Masyarakat perlu diajarkan untuk tidak langsung percaya pada informasi yang viral, tetapi selalu melakukan verifikasi ulang terhadap sumber informasi.
Namun, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak masyarakat. Para pakar dan institusi pendidikan juga dituntut untuk berbenah. Mereka harus berani keluar dari zona nyaman dan belajar cara berkomunikasi yang efektif di era digital tanpa mengorbankan substansi keilmuannya.
Kampus dan lembaga riset juga perlu menegaskan kembali independensinya agar kepercayaan publik terhadap sains dan kepakaran dapat kembali pulih. Di era di mana siapa saja bisa bicara, memastikan bahwa suara yang benar adalah suara yang didengar menjadi tugas kolektif kita bersama.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











