Perempuan, Lansia, dan Orang dengan Disabilitas Menghadapi Beban Berat Akibat Krisis Iklim
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia akibat krisis iklim, kelompok-kelompok tertentu seperti perempuan, lansia, dan orang dengan disabilitas mengalami beban yang lebih berat. Terutama di wilayah Indonesia Timur, dampak krisis iklim tidak dirasakan secara merata. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Monash University melalui proyek Model of Future-proofing for Climate Resilience by Engaging Communities (MoFCREC) menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini sering kali luput dari perhatian kebijakan iklim nasional.
Kebijakan iklim di Indonesia masih bersifat top-down dan cenderung mengabaikan realitas di lapangan. Padahal, strategi adaptasi iklim seharusnya mengintegrasikan praktik komunitas lokal ke dalam kebijakan. Banjir, panas ekstrem, kekeringan panjang, dan gagal panen kini semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Namun, dampaknya tidak merata. Di banyak daerah, khususnya di Indonesia Timur, perempuan, lansia, dan orang dengan disabilitas menghadapi tantangan yang lebih berat dibanding kelompok lain.
Dampak Kekeringan pada Kehidupan Perempuan
Penelitian MoFCREC dilakukan di tiga wilayah Indonesia, yaitu Lombok (Nusa Tenggara Barat), Kupang (Nusa Tenggara Timur), dan Makassar (Sulawesi Selatan) selama Maret hingga Mei 2024. Ketiga wilayah ini dipilih karena rentan terhadap perubahan pola hujan, kekeringan berkepanjangan, banjir, dan abrasi laut. Melalui pendekatan Participatory Action Research (PAR), metode penelitian partisipatif yang melibatkan komunitas langsung dalam diskusi kelompok, wawancara mendalam, dan observasi lapangan, kami mendengar pengalaman warga secara langsung.
Dari penelitian tersebut, ditemukan pola tantangan yang konsisten di berbagai wilayah: perubahan iklim tidak hanya memengaruhi lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat sehari-hari. Bagi perempuan, perubahan iklim berarti tambahan beban kerja. Di Lombok, misalnya, kekeringan di musim kemarau menyebabkan kelangkaan air bersih. Akibatnya, masyarakat—yang mayoritasnya perempuan—terpaksa membeli air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk menyiram lahan pertanian mereka.
Masalah Kesehatan bagi Lansia
Suhu panas ekstrem dan cuaca yang berubah-ubah berdampak langsung pada kondisi kesehatan warga, terutama lansia. Banyak lansia mengeluhkan sakit kepala, demam, batuk, atau kelelahan akibat suhu yang terlalu tinggi. Sementara itu, akses layanan kesehatan di wilayah pedesaan masih terbatas. Fasilitas kesehatan terdekat umumnya hanya puskesmas pembantu dengan fasilitas minim. Banyak lansia bukan peserta BPJS aktif, sehingga tidak bisa berobat gratis di fasilitas kesehatan yang tersedia. Akibatnya, ketika masalah kesehatan kambuh, mereka berobat ke mantri (praktik kesehatan informal) dengan biaya sekitar Rp100 ribu per kunjungan.
Dampak Ekonomi pada Petani
Bagi petani, pola cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat mereka kesulitan menentukan waktu tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Akibatnya, pendapatan keluarga menurun. Krisis iklim membuat kondisi ekonomi keluarga semakin tertekan. Saat pendapatan menurun sementara harga kebutuhan pokok naik, banyak keluarga akhirnya terjebak dalam siklus utang demi bertahan hidup atau agar bisa menanam kembali.
Inisiatif Lokal untuk Ketahanan Iklim
Meski menghadapi tantangan kompleks yang berlapis, komunitas tempat kami melakukan penelitian tidak pasrah dengan keadaan. Justru di tengah keterbatasan, muncul berbagai inisiatif lokal. Untuk membantu keluarga tetap memiliki sumber pendapatan ketika cuaca ekstrem menggagalkan panen atau hasil tangkapan laut menurun, kaum perempuan mencari sumber ekonomi alternatif. Di luar aktivitas utama seperti bertani dan melaut, mereka mengembangkan usaha rumahan, antara lain produksi makanan ringan seperti kerupuk, keripik, dan abon ikan serta udang. Ada juga yang menjalankan usaha kerajinan, bekerja sebagai tukang pijat atau menjadi tukang masak tambahan pada acara-acara desa.
Solidaritas Sosial dan Praktik Keagamaan
Solidaritas sosial menjadi pilar penting. Nelayan bekerja bersama dan berbagi hasil tangkapan. Komunitas membangun usaha kolektif untuk saling menopang. Di beberapa wilayah, koperasi lokal membuka peluang ekonomi di tingkat desa, membuat warga tidak perlu pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Praktik keagamaan dan spiritual menjadi sumber kekuatan mental tersendiri bagi masyarakat untuk menghadapi ketidakpastian akibat krisis iklim.
Kebijakan yang Kurang Responsif
Walaupun komunitas lokal sudah mengembangkan banyak cara beradaptasi secara mandiri, upaya-upaya ini jarang diakui atau dimasukkan ke dalam kebijakan adaptasi iklim nasional. Salah satu penyebab utamanya adalah kebijakan yang cenderung top-down, berbasis pendekatan teknis dan indikator makro. Akibatnya, solusi yang dimunculkan selalu infrastruktur berskala besar, kurang menangkap realitas, pengetahuan, dan praktik yang hidup di tingkat komunitas.
Kolaborasi dengan Masyarakat
Temuan MoFCREC menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan strategi adaptasi menghadapi krisis iklim. Masalahnya ada pada sistem yang kurang mampu mengenali, mendukung, dan memperkuat apa yang sudah dikerjakan masyarakat. Mengintegrasikan praktik komunitas ke dalam kebijakan adaptasi bukan berarti menggantikan peran negara, melainkan membuat kolaborasi dengan masyarakat yang menjadi aktor utama, bukan sekadar penerima bantuan. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih aktif berpartisipasi dalam perencanaan kebijakan, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih adil, tepat sasaran, dan efektif.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











