Kehidupan Abdul Karim: Mengajar Ngaji Tanpa Upah Selama 12 Tahun
Abdul Karim adalah seorang perantau yang telah mengabdikan dirinya dalam mengajar ngaji selama 12 tahun tanpa menerima upah. Ia menjalani kehidupannya dengan penuh ketabahan dan kesadaran bahwa tujuan utamanya adalah untuk beribadah dan mencari pahala, bukan sekadar mencari nafkah.
Pengabdian Tanpa Harapan Upah
Bagi Abdul, mengajar ngaji merupakan bentuk pengabdian yang sangat bermakna. Ia tidak pernah memandang profesi ini sebagai sumber pendapatan tetapi lebih sebagai ladang pahala. Ia mengatakan, “Saya hanya ingin terus melanjutkan apa yang sudah saya pelajari di pesantren.”
Abdul Karim mulai mengajar ngaji sejak tahun 2014. Ia memiliki dasar ilmu agama yang ia dapatkan saat belajar di pesantren. Meskipun demikian, ia tidak pernah menuntut upah dari pondok pesantren tempat ia mengajar. Justru, pihak pesantren sering memberikan sedikit uang secara sukarela untuk kebutuhan pribadi seperti sabun atau keperluan lainnya.
Kehidupan Sehari-hari yang Sederhana
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Abdul bekerja sebagai penjual telur gulung dan tukang sapu. Setiap pagi, ia memulai hari dengan membersihkan halaman Stadion Gelora Bangkalan (SGB). Pekerjaan ini ia ambil sebagai tambahan pemasukan.
Setelah selesai menyapu, ia pulang ke rumah untuk menyiapkan dagangan telur gulungnya. Ia mulai berjualan pada pukul 09.00 dan biasanya berakhir pada pukul 1 siang. Setelah itu, ia kembali ke rumah untuk beristirahat dan shalat.
Pukul 15.00, ia berangkat ke pesantren untuk mengajar para santri hingga pukul 17.00. Jarak antara rumah dan pesantren hanya sekitar 500 meter, sehingga ia bisa berjalan kaki. Namun, jika hujan, ia menggunakan motor.
Kegiatan Setelah Shalat Maghrib
Selepas shalat maghrib, Abdul melanjutkan kegiatan mengajar ngaji kepada 15 hingga 20 santrinya. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu shalat isya. Ia membagi santri agar pengajaran lebih efektif.
Selain mengajar ngaji, ia juga mengajar santri untuk membaca kitab. Biasanya, ia selesai mengajar pada pukul 22.00 dan pulang ke rumah.
Perubahan Saat Bulan Ramadan
Pada bulan Ramadan, kegiatan Abdul berubah. Ia tidak berjualan telur gulung sebulan penuh karena pelanggan-pelanggannya juga berpuasa. Ia bergantung pada tabungan yang ia kumpulkan sebelum puasa.
Meski ada kesempatan untuk berjualan di malam hari, ia memilih untuk fokus pada ibadah dan mengabdi di pesantren. Menurutnya, bulan Ramadan adalah momen penting untuk meningkatkan kualitas ibadah dan tadarus.
Kesabaran dan Keyakinan
Abdul Karim percaya bahwa kesulitan dan kesenangan selalu datang dalam kehidupan. Baginya, kesabaran adalah kunci untuk melewati segala tantangan. Ia tidak pernah merasa kecewa dengan keterbatasan ekonomi yang ia alami.
Meskipun pemerintah Kabupaten Bangkalan memiliki program insentif untuk guru ngaji, Abdul memilih untuk tidak mengajukan diri. Menurutnya, ia sudah cukup bersyukur dengan kesempatan untuk mencari pahala melalui pengabdian di pesantren.
Kesimpulan
Abdul Karim adalah contoh nyata dari ketabahan dan kesadaran akan tujuan hidup. Dengan semangat pengabdian dan keyakinan bahwa setiap amal baik akan membuahkan hasil, ia terus berjuang tanpa harapan upah. Keberadaannya menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang ingin mengabdi tanpa pamrih.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











