Kasus Kematian Ermanto Usman: Keluarga Curiga Ada Unsur Pembunuhan
Kasus kematian Ermanto Usman (65) di kediamannya di Perumahan Prima Lingkar Asri, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Pria yang merupakan pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JICT), anak perusahaan Pelindo, ditemukan meninggal dunia di rumahnya. Kejadian ini memicu kecurigaan dari pihak keluarga terhadap penyebab kematian korban.
Putra sulung korban, Fiandy A Putra (33), mengungkapkan bahwa ayahnya sudah lama tidak lagi bekerja sejak pensiun sekitar sembilan tahun lalu. “Bapak saya sudah 9 tahun yang lalu pensiun dari PT JICT, anak perusahaan dari Pelindo,” ujar Putra kepada awak media.
Semasa aktif bekerja, Ermanto dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan organisasi pekerja di lingkungan perusahaan peti kemas tersebut. Bahkan setelah pensiun, ia masih aktif dalam komunitas mantan karyawan dan organisasi pekerja. Ia diketahui menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pensiunan JICT. Belakangan, Ermanto juga tengah mengembangkan kegiatan baru dengan membuat podcast.
“Beberapa waktu ini bapak sempat aktif dan antusias untuk membuat podcast. Bapak bagian dari serikat pekerja waktu di JICT. Itu termasuk mungkin aktivis ya,” ujar Putra. Menurutnya, aktivitas yang dijalani ayahnya tidak sepenuhnya tanpa risiko karena sering berkaitan dengan kepentingan para pekerja di lapangan.
Keluarga Curiga Ada Unsur Pembunuhan
Meski belum mengetahui secara rinci apa yang sebenarnya terjadi, Fiandy mengaku memiliki kecurigaan bahwa kematian ayahnya tidak semata-mata akibat aksi perampokan. Ia menduga ada kemungkinan tindak pidana yang lebih serius, yakni pembunuhan. Atas peristiwa tragis tersebut, keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Ermanto.
Dalam kesempatan itu, Fiandy juga menyampaikan harapan keluarganya kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar kasus yang menimpa ayahnya dapat diusut secara menyeluruh. “Kami dari keluarga memohon keadilan kepada Bapak Presiden semoga kasus ayahanda kami bisa terungkap siapa pelakunya. Karena menurut kami ini lebih mengarah kepada kasus pembunuhan,” ungkap Putra.
Meski demikian, ia menegaskan pihak keluarga tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari kepolisian. “Tapi kami tunggu klarifikasinya langsung dari kepolisian, pihak yang berwajib. Dan kami akan mengikuti proses hukum yang ada di Indonesia,” ujarnya.
Tidak Ada Tanda Teror Sebelumnya
Fiandy mengatakan, dirinya tidak mengetahui apakah orang tuanya pernah menerima ancaman atau teror sebelum kejadian tersebut. Menurutnya, sang ayah tidak pernah menceritakan masalah tertentu kepada keluarga. Ia juga menyinggung kondisi lantai dua rumah yang dinyatakan steril saat dilakukan pemeriksaan oleh polisi. Saat peristiwa terjadi, adik perempuannya, Dinda Nada Alifah, sedang tidur di kamar lantai dua.
“Kemarin sudah dicek dari pihak kepolisian itu steril ya di atas. Adik saya juga kunci pintu setiap tidur,” katanya.
Dokumen Penting Utuh, Namun Ada Barang Hilang
Keluarga juga menemukan sejumlah kejanggalan terkait barang-barang di dalam rumah. Menurut Fiandy, dokumen penting milik keluarga masih tersimpan utuh di tempatnya. Namun, beberapa barang dilaporkan hilang, termasuk kunci mobil. Hal itu memunculkan tanda tanya bagi keluarga karena kendaraan tersebut tidak dibawa pelaku.
“Barang penting yang saya dan keluarga tahu itu tidak diambil oleh pelaku. Walaupun kunci mobil itu diambil, apa fungsinya kalau mobilnya tidak diambil?” ujarnya. Ia juga menyebut ibunya masih mengenakan kalung saat ditemukan. Sementara informasi mengenai gelang emas yang hilang diketahui dari keterangan sang adik.
Anggota DPR Desak Polisi Tangkap Pelaku
Anggota DPR RI Komisi VI, Rieke Diah Pitaloka, mendorong kepolisian mengungkap otak kasus perampokan disertai pembunuhan terhadap Ermanto Usman (65). “Mohon doanya se-Indonesia, mudah-mudahan kasus ini bisa terungkap bukan hanya eksekutor, tapi siapa otak dibalik peristiwa yang sangat keji, sangat tragis di bulan Ramadan ini terjadi pembunuhan yang sangat kejam,” kata Rieke di Kantor LPSK, Jakarta Timur.
Rieke menegaskan, pihaknya tak ingin mendahului proses penyidikan yang dilakukan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian. “Tapi kami memberikan support penuh. Kami percaya kepada Kapolri Bapak Sigit beserta seluruh jajarannya bahwa kasus ini tidak akan dipetieskan seperti kasus JICT-nya sendiri,” ungkap Rieke.
Adapun Rieke mendatangi kantor LPSK pada hari ini untuk mendampingi keluarga korban yang mengajukan permohonan perlindungan. “Pagi hari ini mengantar, meminta perlindungan untuk keluarga korban, dua orang anak yang kami minta bantuan untuk mendapatkan asesmen secara klinis juga, secara psikologis dari LPSK, terutama yang paling kecil karena berada di lokasi peristiwa saat kejadian,” kata Rieke.
Rieke mengungkapkan, total ada enam anggota keluarga korban yang mengajukan perlindungan ke LPSK, salah satunya istri korban. “Totalnya kami minta perlindungan terutama untuk istri korban yang sekarang masih dalam keadaan kritis di rumah sakit, untuk empat orang anak dan menantunya, dan siapa pun yang berkorelasi dekat dengan korban, begitu,” ungkap Rieke.
Sebelumnya diberitakan, Ermanto dan istrinya, Pasmilawati (60), diduga menjadi korban perampokan disertai penganiayaan yang berujung maut pada Senin (2/3/2026). Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengatakan dugaan sementara mengarah pada tindak perampokan, meski motif pastinya masih dalam penyelidikan.
“Masih dalam lidik, kami belum bisa menyimpulkan saat ini. Tapi yang disampaikan anak korban, gelang emas di tangan ibunya hilang, kunci mobil dua-duanya hilang,” ujar Andi di lokasi kejadian, Senin.
Saat ditemukan, Ermanto berada di atas kasur dalam kondisi bersimbah darah, sementara Pasmilawati tergeletak di lantai kamar. Ermanto meninggal dunia di lokasi, sedangkan istrinya dalam kondisi kritis dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Pemeriksaan awal medis menunjukkan keduanya mengalami luka akibat pukulan benda tumpul di bagian belakang kepala.
Saat ini, penyelidikan melibatkan personel Polsek Pondok Gede, Polres Metro Bekasi Kota, hingga Jatanras Polda Metro Jaya guna mengungkap pelaku dan motif dalam kasus tersebut.











