Tantangan dan Target Produksi Migas di Tahun 2026
Pada tahun 2026, sejumlah perusahaan sektor migas di Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan target produksinya. Dua perusahaan yang telah menyampaikan rencana mereka adalah PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Kedua emiten ini menunjukkan komitmennya dalam menghadapi tantangan industri migas.
Target Produksi Minyak dan Gas dari MEDC
CEO MEDC, Roberto Lorato, menjelaskan bahwa panduan produksi pada tahun 2026 akan menargetkan produksi minyak dan gas (migas) antara 165.000 hingga 170.000 barrel oil equivalent per day (boepd). Angka ini merupakan tingkat produksi tertinggi sepanjang sejarah perseroan.
Selama tahun 2025, MEDC mencatat produksi migas sebesar 156.000 boepd. Puncak produksi terjadi pada kuartal IV/2025 dengan capaian 178.000 boepd dan rata-rata 176.000 boepd selama kuartal tersebut.
Roberto juga melaporkan bahwa semua indikator cadangan migas perseroan menunjukkan peningkatan. Indikator tersebut meliputi:
- Cadangan 2P (proved+probable reserves): Mengukur cadangan migas yang kemungkinan besar dapat diproduksi secara ekonomis.
- Reserve Life Index (RLI): Mengukur seberapa lama cadangan bisa diproduksi.
- Sumber Daya Kontijensi 2C (contigent resources): Mengukur potensi cadangan migas yang masih menunggu pengembangan.
Peningkatan cadangan 2P di akhir 2025 mencapai 564 juta barrel of oil equivalent (boe), meningkat dari 493 juta boe pada 2024. Sementara itu, sumber daya kontijensi 2C meningkat menjadi sekitar 1 miliar boe dari 896 juta boe pada 2024. Indeks umur cadangan 2P juga meningkat menjadi 11,4 tahun dibanding 10,4 tahun pada 2024.
PGEO Berupaya Menciptakan Rekor Baru
Selain MEDC, PGEO juga sedang memburu rekor baru. Pada 2025, entitas usaha Pertamina ini mencatat rekor produksi listrik tertinggi sepanjang perusahaan berdiri. Di tahun ini, manajemen PGEO berambisi memecahkan rekor tersebut.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa sepanjang 2025 perseroan mencatat total produksi 5.095 gigawatt hour (GWh) atau meningkat 5,55% secara tahunan (year on year) dibanding produksi 2024 sebanyak 4.827 GWh.
“Melalui berbagai inisiatif dan inovasi yang secara konsisten dijalankan, PGE optimistis dapat kembali mencatatkan rekor produksi tertinggi pada 2026. Perseroan memproyeksikan produksi listrik mencapai sekitar 5.255 GWh atau tumbuh sekitar 3,14% secara tahunan,” ujar Yani dalam rilis resmi.
PGEO saat ini mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang sebesar 1.932 MW. Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW dikelola dengan skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas terpasang panas bumi di wilayah kerja PGE berkontribusi sekitar 70% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 10 juta ton CO2 per tahun.
Empat proyek PGEO telah masuk dalam Blue Book 2025–2029 oleh Kementerian PPN/Bappenas, yaitu Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Total nilai investasi untuk keempat proyek tersebut mencapai lebih dari US$1,09 miliar.
Realisasi proyek-proyek tersebut diproyeksikan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi yang direncanakan beroperasi secara bertahap mulai 2029 hingga 2032. Dalam jangka panjang, PGE membidik pengembangan potensi 3 gigawatt (GW) panas bumi yang dimiliki.
Perusahaan Lain yang Menjaga Pertumbuhan
Selain dua emiten tadi, ada pula perusahaan komoditas lainnya yang sedang bersiap mendongkrak kinerja operasionalnya tahun ini. Contohnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), yang menargetkan produksi emas 80.000 ons pada 2026.
Direktur BRMS, Herwin Wahyu Hidayat, menjelaskan bahwa produksi emas BRMS di 2024 mencapai 64.000 oz, dan pada 2025 mencapai 70.000 sampai 72.000 oz emas. Tahun ini, produksi emas perseroan ditargetkan akan tumbuh sejalan dengan peningkatan produksi emas di anak usaha BRMS, PT Citra Palu Mineral (PT CPM).
Di tahun 2026, salah satu pabrik emas BRMS di Palu akan ditingkatkan kapasitasnya dari 500 ke 2.000 ton bijih per hari. Target produksi emas BRMS di 2026 adalah sekitar 80.000 ons emas.
Secara historis, BRMS sukses mencatat pertumbuhan produksi emas secara signifikan sejak 2020. Saat itu, produksi emas BRMS baru mencapai 2.271 ons, kemudian meningkat menjadi 23.270 ons pada 2023 dan 64.983 ons pada 2024. Herwin mengatakan dalam dua tahun ke depan produksi emas BRMS akan meningkat seiring dengan pengerjaan tambang emas bawah tanah yang kini sedang berlangsung.
Di semester kedua tahun 2027 nanti, BRMS akan mulai mengoperasikan tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, dengan kadar emas tinggi yaitu di kisaran 3,5 sampai 4,9 gram per ton. Sehingga diharapkan produksi emas akan naik lagi di akhir 2027 atau awal 2028 nanti.











