Mahasiswi Universitas Lampung Hilang, Diduga Karena Tekanan Akademik
Osmycin Amelia, seorang mahasiswi Ilmu Komputer FMIPA Universitas Lampung (Unila), dilaporkan hilang sejak 26 Maret 2026. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan keluarga dan pihak kampus. Meski belum ada bukti pasti bahwa ia menjadi korban tindak kriminal, dugaan kuat mengarah pada kemungkinan bahwa Osmycin memilih untuk menjauh sementara karena tekanan akademik.
Fakta-fakta Terkait Kasus Hilangnya Osmycin
- Sengaja Pergi
Polsek Labuhan Ratu sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus hilangnya Osmycin. Menurut Kapolsek Labuhan Ratu Kompol Budi Harto, pihak kepolisian telah menerima laporan dari orang tua Osmycin. Ia menyatakan bahwa polisi tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan bantuan dari keluarga serta rekan-rekan yang mengenal korban.
Selain itu, ada dugaan bahwa Osmycin tidak benar-benar hilang, melainkan sengaja pergi untuk menenangkan diri. “Mungkin korban pergi dengan temannya karena ada masalah dengan keluarga atau dimarahi orangtuanya,” ujar Budi.
- Hilang Menjelang Wisuda
Kakak kandung Osmycin, Fajar Roman Hariosa, menjelaskan bahwa adiknya hilang dua hari sebelum acara wisuda yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (28/3/2026). Pada Kamis (26/3/2026) pukul 14.00 WIB, Osmycin bersama ibu dan adik bungsunya pergi ke kampus Unila setelah berbelanja perlengkapan wisuda.
Osmycin turun di depan Kopma Unila dan menyuruh ibu dan adik bungsu untuk parkir di dekat kandang rusa. Namun, hingga pukul 16.00 WIB, Osmycin tidak muncul lagi. Ponselnya juga tidak dapat dihubungi. Sejak saat itulah keberadaannya tidak diketahui.
- Belum Selesaikan Skripsi
Osmycin Amelia, yang memiliki IPK 3,8, ternyata belum menyelesaikan skripsi. Hal ini menjadi alasan utama mengapa ia tidak bisa mengikuti prosesi wisuda. Kepala Jurusan Ilmu Komputer FMIPA Unila, Dwi Sakethi, menjelaskan bahwa Osmycin masih harus menyelesaikan skripsi beserta seminar usul dan seminar hasil.
Dwi menyatakan bahwa kondisi tersebut mungkin menjadi tekanan bagi Osmycin. “Ini mungkin bukan hilang mahasiswinya, tetapi mungkin menyembunyikan diri,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa semua ini hanya dugaan.
- IPK Tinggi Tapi Mengalami Tekanan
Secara akademis, Osmycin dinilai sangat baik. IPK-nya mencapai 3,8, yang menunjukkan prestasi yang luar biasa. Namun, tekanan menjelang kelulusan justru membuatnya terjebak dalam situasi sulit.
Fenomena seperti ini tidak jarang terjadi. Skripsi sering kali menjadi sumber kecemasan dan rasa malu, terutama ketika ekspektasi tinggi datang dari keluarga maupun diri sendiri. Bagi Osmycin, hal ini mungkin menjadi pemicu untuk menyembunyikan diri.
Upaya Keluarga dan Pihak Kampus
Fajar Roman Hariosa, kakak Osmycin, mengungkapkan bahwa pihak keluarga sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Mereka berharap Osmycin segera ditemukan dalam keadaan selamat. Saat ini, keluarga dan pihak kampus terus mencari informasi tentang keberadaan Osmycin.
Dwi Sakethi juga mengatakan bahwa pihak kampus sedang memantau situasi secara aktif. Ia mencoba menghubungi Osmycin melalui pesan chat, tetapi belum mendapatkan balasan. Selain itu, pihak kampus juga telah bertanya kepada dosen dan mahasiswa lainnya, tetapi belum ada kabar terbaru.
Kesimpulan
Kasus hilangnya Osmycin Amelia menjadi peringatan akan pentingnya dukungan psikologis bagi mahasiswa, terutama menjelang kelulusan. Tekanan akademik yang tinggi bisa berdampak besar pada kesehatan mental. Dengan penanganan yang tepat, kasus seperti ini bisa diminimalkan.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











