Keluhan Pedagang Akibat Kenaikan Harga Plastik yang Drastis
Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini telah menimbulkan berbagai keluhan dari para pedagang di berbagai wilayah. Mereka mengeluhkan dampak kenaikan harga yang sangat signifikan, terutama pada jenis plastik seperti kresek, thinwall, dan mika untuk wadah makanan. Hal ini disebabkan oleh perang antara Iran dan Israel yang memicu ketidakstabilan pasar global.
Efek Kenaikan Harga Plastik pada Daya Beli
Salah satu pedagang yang mengeluh adalah Sahrul (30), yang menjual berbagai jenis plastik di Pasar Baung, Jakarta Selatan. Ia menyatakan bahwa kenaikan harga plastik pasca Idul Fitri mencapai hampir 70 persen dari harga sebelum Lebaran. Misalnya, harga plastik kiloan naik dari Rp9.000-10.000 menjadi Rp15.000-17.000, sedangkan harga plastik kresek juga melonjak dari Rp15.000 menjadi Rp25.000.
Sahrul mengatakan bahwa kenaikan harga ini membuat daya beli pelanggan menurun. “Biasanya beli banyak sekarang udah beli sedikit gitu,” ujarnya. Ia juga menyebut bahwa harga jual yang tinggi membuatnya sulit untuk mendapatkan keuntungan.
Pengaruh pada Harga Bahan Pokok Lainnya
Selain itu, kenaikan harga plastik juga berdampak pada harga bahan pokok lainnya. Arsy (22), seorang pedagang lainnya, menyebutkan bahwa harga beras juga mulai naik. Ia mengatakan bahwa setiap pack plastik sudah naik dari Rp5.000 hingga Rp10.000. Kenaikan ini terasa parah setelah Hari Raya Idul Fitri 2026 lalu.
“Naiknya tiba-tiba dari 10 ribu ke 15 ribu,” tutur Arsy. Ia juga menyebut bahwa masyarakat mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik di media sosial, termasuk X dan Instagram.
Ketakutan Pedagang untuk Menaikkan Harga Jual
Beberapa pedagang mengaku takut untuk menaikkan harga jual produk mereka karena khawatir akan kehilangan pembeli. Nafis Ghifary, pemilik usaha Oriteh Indonesia, menyatakan bahwa kenaikan biaya operasional sangat memberatkan, terutama bagi bisnis minuman yang mengandalkan kemasan plastik sekali pakai.
“Untuk cup, lid sealer, dan plastik rata-rata naik sampai 65 persen,” kata Nafis. Ia juga menyebut bahwa kenaikan biaya produksi ini membuat margin keuntungan yang didapat para mitra dan pemilik usaha merosot tajam.
Nafis menjelaskan bahwa harga es teh saat ini dipatok di kisaran Rp 3.000 per gelas, tetapi dengan harga tersebut, pedagang hanya mendapatkan keuntungan bersih yang sangat tipis. “Di kondisi seperti ini sudah tidak cukup untuk biaya operasional,” katanya.
Tantangan bagi UMKM
Keluhan serupa datang dari Wulandari, seorang penjual madu yang menggunakan kemasan botol plastik. Ia menyebut harga satu botol plastik kini naik sebesar Rp 2.000. Berbeda dengan penjual es teh, Wulandari terpaksa berencana menaikkan harga jual produknya meski berisiko kehilangan pembeli.
“Naiknya Rp 2.000 sendiri per botol. Kita kan lagi merintis ya. Pembeli pasti berkurang,” ungkap Wulandari. Ia mengatakan bahwa kenaikan harga ini sangat berdampak pada bisnisnya, terutama dalam hal daya beli konsumen.
Dengan situasi ini, banyak pedagang mengharapkan adanya kebijakan pemerintah atau intervensi pasar untuk membantu mengurangi beban mereka. Namun, hingga saat ini belum ada solusi yang jelas untuk mengatasi masalah kenaikan harga plastik yang terus berlangsung.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











