Festival Planet Preneur 2: Membangun Wirausaha Muda yang Peduli Lingkungan
Semangat untuk membentuk wirausaha muda yang peduli lingkungan terus diupayakan sejak tahap awal pembelajaran. Tidak hanya berorientasi pada keuntungan, model bisnis kini mulai diarahkan agar memperhatikan dampak terhadap alam, mulai dari bahan baku hingga proses produksi. Semangat tersebut diwujudkan dalam Festival Planet Preneur 2 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Soegijapranata Catholic University (SCU), pada Jumat (10/4).
Acara ini berlangsung di selasar Yustinus, kampus SCU Bendan, dengan mengambil tema “Kreasi yang Bersahabat dengan Alam”. Tujuan dari acara ini adalah agar mahasiswa dan pelajar dapat membangun bisnis yang berpihak pada kelestarian alam, mulai dari bahan baku hingga kemasan.
Kepala Laboratorium Kewirausahaan (KWU) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Soegijapranata Catholic University, Dr Chatarina Yekti Prawihatmi, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang jualan, melainkan tahap implementasi dari perencanaan bisnis yang sebelumnya telah disusun. Ia menekankan bahwa pendekatan kewirausahaan yang dikembangkan menitikberatkan pada prinsip ramah lingkungan secara menyeluruh. Tidak hanya produk akhir, tetapi juga seluruh rantai produksi harus mengandung nilai keberlanjutan.
Dalam praktiknya, berbagai inovasi mulai bermunculan. Produk makanan, misalnya, tidak lagi bergantung pada bahan tambahan kimia, melainkan memanfaatkan bahan alami. Bahkan, limbah seperti kulit buah naga diolah kembali menjadi produk bernilai. Di sektor lain, seperti fesyen, peserta mulai mengadopsi teknik ramah lingkungan seperti ecoprint untuk menghasilkan produk yang tetap menarik tanpa merusak alam.
Keterlibatan peserta dalam acara ini cukup luas. Dari SMA Kolese Loyola, sekitar 60 siswa yang terbagi dalam 16 kelompok ikut ambil bagian. Sementara dari kalangan mahasiswa dan pelaku usaha, total terdapat sekitar 40 stan yang terlibat dalam kegiatan ini.
Yekti menyatakan bahwa kolaborasi antara kampus dan sekolah itu bukan hal baru. Kerja sama telah berjalan selama dua tahun, meski untuk expo bersama baru pertama kali dilaksanakan. Ke depan, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang dalam bentuk pelatihan, workshop, hingga kompetisi bersama.
Valencia Celline Jovinsky, siswi SMA Kolese Loyola, mengaku mendapat banyak pembelajaran dalam mengembangkan produk yang tidak hanya menarik, tetapi juga lebih bertanggung jawab. Kelompoknya mengembangkan roti berbasis fermentasi alami (sourdough), yang dinilai lebih sehat karena minim bahan tambahan. Selama prosesnya, mereka banyak mendapat kritik, misalnya soal rasa. Itu mereka terima supaya produk mereka bisa lebih baik dan lebih diterima.
Dari sisi pemasaran, mereka juga mencoba pendekatan berbeda dengan metode penjualan langsung (door to door) di lingkungan sekolah. Cara itu dinilai efektif sekaligus membantu memahami kebutuhan konsumen secara langsung.
Upaya mendorong bisnis hijau ini diharapkan tidak berhenti sebagai tren sesaat. Edukasi sejak dini dinilai penting agar generasi muda tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.











