JAKARTA — Gagalnya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman Presiden Donald Trump untuk melakukan blokade Selat Hormuz telah memengaruhi harga minyak mentah dan mengakibatkan Wall Street memasuki fase konsolidasi.
Berdasarkan data dari Yahoo Finance, Jumat (10/4/2026), indeks Dow Jones mengalami penurunan sebesar 0,56% menjadi 47.916,57. Sementara itu, S&P 500 turun 0,11% ke level 6.816,89, dan Nasdaq naik 0,35% menjadi 22.902,89.
Di sisi lain, harga minyak mentah WTI melonjak hingga 9,3% ke atas US$105, sedangkan harga minyak Brent juga meningkat sejalan dengan kenaikan sebesar 7,98% ke level US$102,80.
Kondisi ini berdampak pada inflasi AS yang meningkat tajam menjadi 3,3% pada Maret 2026, dibandingkan dengan 2,4% pada periode sebelumnya. Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh lonjakan harga energi sebesar 12,5%.
Menurut tim riset Sinarmas Sekuritas, pergerakan pasar ini menunjukkan bahwa pasar mulai memasuki fase konsolidasi setelah mengalami reli kuat. Hal ini terjadi di tengah penantian terhadap hasil negosiasi geopolitik yang masih berlangsung.
Sementara itu, indeks pasar saham Asia secara kompak mengalami penguatan pada perdagangan Jumat (10/4/2026). Nikkei memimpin kenaikan sebesar 1,84%, Shanghai naik 0,51%, dan Hang Seng menguat 0,55%. Secara mingguan, penguatan terlihat cukup solid, termasuk indeks utama seperti Nikkei 225.
Penguatan tersebut didorong oleh membaiknya sentimen global, karena potensi kelancaran jalur distribusi energi dinilai mampu menekan risiko inflasi dan mengurangi tekanan kenaikan suku bunga.
Namun, meskipun demikian, pasar tetap waspada terhadap risiko geopolitik yang masih tinggi. Terutama ketegangan di Timur Tengah dan dinamika negosiasi yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar di masa depan.
Berdasarkan catatan, Minggu (12/4/2026), Presiden Trump menyatakan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokade kapal-kapal yang memasuki atau keluar dari Selat Hormuz dan mencegat kapal-kapal yang telah membayar tol kepada Iran.
Pernyataan ini disampaikan setelah pembicaraan maraton di Pakistan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua Kapal yang mencoba memasuki, atau meninggalkan, Selat Hormuz,” kata presiden dilansir dari CBS News.
Trump juga menyatakan bahwa dia telah menginstruksikan Angkatan Laut untuk mencari dan mencegat setiap kapal di Perairan Internasional yang telah membayar tol kepada Iran. Selain itu, AS akan mulai menghancurkan ranjau yang ditanam Iran di Selat tersebut.
Setidaknya dua kapal yang telah melintasi selat tersebut telah membayar biaya kepada Iran dalam yuan China untuk menjamin perjalanan yang aman, menurut analis dari Lloyd’s List Intelligence dalam laporan terbaru.
Secara teknis, Selat Hormuz tidak sepenuhnya tertutup. Iran secara bertahap mengizinkan beberapa kapal tanker untuk melewatinya dengan imbalan biaya hingga US$2 juta per kapal.
Yang terpenting, Iran telah mengizinkan minyaknya sendiri untuk masuk dan keluar dari wilayah tersebut selama perang. Berdasarkan data dari perusahaan Kpler, Iran berhasil mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari hingga Maret — sekitar 100.000 barel per hari lebih banyak daripada tiga bulan sebelumnya.
Dengan menutup Selat Hormuz, Trump dapat memutus sumber pendanaan utama bagi pemerintah dan operasi militer Iran.











