Upacara Pemakaman Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal (Purn) Try Sutrisno
Upacara pemakaman jenazah Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal (Purn) Try Sutrisno berlangsung secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026). Prosesi ini dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang didampingi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Acara dimulai dengan tembakan salvo sebagai tanda penghormatan terakhir bagi almarhum.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat meski diguyur hujan deras. Para hadirin, termasuk keluarga besar, tokoh nasional, dan purnawirawan TNI, hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang telah berjasa bagi bangsa dan negara.
Prosesi Pemakaman yang Khidmat
Jenazah tiba di lokasi sekitar pukul 13.18 WIB. Delapan anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) mengangkat peti jenazah dari ambulans dan membawanya menuju pusara di blok M. Peti jenazah yang diselimuti bendera Merah Putih dibawa menggunakan keranda besi. Seorang prajurit TNI membawa foto almarhum, sementara prajurit lainnya tampak membawa karangan bunga.
Iringan drum band mengantar jenazah memasuki kompleks pemakaman hingga prosesi pemakaman dilaksanakan. Upacara pemakaman dipimpin oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, yang didampingi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming. Dalam pidatonya, Prabowo menyampaikan doa agar arwah almarhum mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan.
Tembakan salvo dan doa dari keluarga dan kerabat mengiringi penghormatan terakhir bagi jenazah. Hujan deras turun ketika prosesi upacara militer mengiringi pemakaman Try Sutrisno. Langit kelabu menambah suasana haru ketika penghormatan terakhir diberikan kepada almarhum.
Kehadiran Tokoh Nasional dalam Pemakaman
Menteri Agama Nasarudin Umar menjadi pembaca doa dalam prosesi pemakaman kali ini. Sebelum meninggalkan tempat pemakaman, Prabowo sempat menabur bunga di pusara Try Sutrisno. Kemudian, taburan bunga diikuti oleh keluarga besar Try Sutrisno.
Sejumlah keluarga, kerabat, purnawirawan TNI, serta tokoh nasional turut hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Hadir dalam prosesi pemakaman eks Panglima TNI Laksamana Yudo Margono, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar, eks Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, serta Pakar Telematika yang juga mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo.
Sebelumnya, ratusan pelayat telah memadati area masjid untuk memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh militer sekaligus negarawan tersebut. Peti jenazah berwarna putih yang diselimuti bendera Merah Putih tiba di dalam masjid dan langsung disiapkan untuk pelaksanaan salat jenazah.
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Wakil Presiden ke-13 RI Ma’ruf Amin serta Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla yang ikut menunaikan salat jenazah bersama para pelayat. Suasana hening terasa ketika ratusan jamaah berdiri rapat, mengiringi doa-doa yang dipanjatkan untuk almarhum.
Kehadiran para tokoh lintas generasi mencerminkan penghormatan besar atas pengabdian panjang Try Sutrisno bagi bangsa dan negara. Sejumlah tokoh politik dan pejabat juga tampak hadir, di antaranya Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto hingga Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat.
Usai salat jenazah, prosesi dilanjutkan dengan penyerahan jenazah dari pihak keluarga kepada negara dalam upacara militer. Panglima TNI Agus Subianto memimpin langsung prosesi tersebut, menandai penghormatan negara atas jasa dan pengabdian almarhum. Dengan iringan doa para pelayat, jenazah kemudian diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata untuk dimakamkan secara militer.
Perjalanan Hidup yang Menarik
Perjalanan hidup Try Sutrisno adalah potret perjalanan panjang dari kehidupan sederhana menuju puncak kekuasaan negara. Lahir bukan dari keluarga elite, ia pernah menjadi penjual rokok, loper koran, hingga pedagang air minum di stasiun sebelum akhirnya menjabat Wakil Presiden RI ke-6 periode 1993–1998.
Mantan ajudan Presiden Soeharto ini tak lahir dari keluarga elite, namun justru meniti karier dari bawah—pernah jadi penjual rokok, loper koran, hingga pedagang air minum di stasiun. Namun siapa sangka, lelaki kelahiran Surabaya, 15 November 1935, itu kemudian menjelma menjadi Wakil Presiden RI ke-6, mendampingi Soeharto pada periode 1993–1998.
Ironisnya, dia justru bukan sosok yang diinginkan oleh Soeharto sendiri untuk posisi strategis itu. Karier militer Try Sutrisno dimulai tahun 1956 saat dia diterima sebagai taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Hanya setahun menimba ilmu, ia sudah diterjunkan langsung ke medan tempur, memperlihatkan dedikasi dan keberaniannya sejak muda.
Biografi dan Jejak Karier
Try Sutrisno lahir di Surabaya pada 15 November 1935. Istri almarhum bernama Tuti Sutiawati.
Jejak Karier Militer
– Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) (1986–1988)
– Panglima ABRI (kini TNI) (1988–1993)
– Ketua Umum PBSI (1985–1993)
Karier Politik
– Wakil Presiden RI ke-6 (11 Maret 1993 – 11 Maret 1998)
– Menggantikan Soedharmono
– Digantikan oleh B. J. Habibie
Pernah berafiliasi dengan Partai Golkar dan PKP. Kisah Try Sutrisno adalah refleksi nyata bahwa jalan menuju kekuasaan bisa hadir dari rute yang tak terduga. Meski bukan pilihan utama Soeharto, dia membuktikan bahwa kesetiaan, dedikasi, dan kerja keras bisa mengantar siapa pun ke panggung tertinggi republik, dari penjual air minum menjadi Wakil Presiden RI.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











