JAKARTA — Ketegangan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak, sementara emas mengalami kenaikan tajam hingga menembus angka US$5.500 per troy ons sebelum stabil di kisaran US$5.300. Harga emas naik sekitar 80% dalam setahun terakhir. Di tengah reli besar aset safe haven tersebut, apakah Bitcoin mampu memainkan peran serupa emas?
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menjelaskan bahwa kripto memiliki karakteristik unik karena tidak terikat pada sistem keuangan atau negara tertentu. Namun hingga saat ini, mayoritas investor masih menganggap kripto sebagai aset berisiko (risk-on), sehingga fungsinya sebagai safe haven masih terbatas.
“Jika narasi pasar bergeser dan kripto mulai dipandang sebagai aset penyimpan nilai layaknya emas, dinamika yang sangat berbeda bisa terjadi,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Untuk saat ini, Fahmi menyarankan investor berpengalaman memanfaatkan volatilitas secara aktif, sementara investor pemula dapat menerapkan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian.
Lebih jauh, Fahmi menilai konflik yang melibatkan Iran secara langsung mendorong permintaan aset lindung nilai ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, gangguan besar di Selat Hormuz hampir selalu membuat harga komoditas melesat melampaui proyeksi pasar.
“Tren ini berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik belum mereda. Namun investor perlu lebih disiplin dalam manajemen risiko karena valuasi mulai meninggi,” kata Fahmi.
Namun demikian, risiko terbesar berikutnya dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah adalah inflasi. Jika harga minyak menembus US$100 per barel, tekanan harga bisa menyebar ke berbagai sektor ekonomi global. Dalam skenario tersebut, bank sentral menghadapi dilema menjaga pertumbuhan atau menekan inflasi. Ketidakpastian ini berpotensi memicu volatilitas lebih luas di pasar obligasi, saham, hingga mata uang.
Sementara itu, Tokocrypto menyebut pasar kripto kembali menunjukkan pola volatilitas yang kerap dikaitkan dengan fenomena musiman Ramadan Effect. Perubahan intensitas investasi hingga aksi ambil untung mewarnai pasar kripto tanah air selama bulan Ramadan.
CEO Tokocrypto, Calvin Kizana mengatakan meski bukan faktor fundamental, data historis menunjukkan bahwa dalam enam dari tujuh Ramadan terakhir (2019–2025), Bitcoin cenderung mengalami pergerakan tajam di awal periode, diikuti fase naik-turun, lalu melemah atau kehilangan momentum di penghujung bulan.
Pola ini bukan berarti Bitcoin selalu reli saat Ramadan. Dalam lima tahun terakhir, misalnya, Bitcoin justru sempat mencatat koreksi cukup dalam selama bulan suci, seperti -21,71% (2021), -16,00% (2022), -3,73% (2023), dan -4,14% (2024).
“Pola yang lebih konsisten bukan arah kenaikannya, melainkan struktur pergerakannya volatilitas terkonsentrasi di awal, kemudian pasar memasuki fase kelelahan sebelum menentukan arah berikutnya,” ujarnya.
Dari sisi on chain, indikator menunjukkan gambaran campuran. Beberapa sinyal seperti tekanan beli di exchange yang mulai melemah menjadi indikasi peluang relief bounce. Namun di sisi lain, aktivitas jaringan yang masih relatif rendah dan tekanan jual dari investor jangka pendek yang masih merugi menunjukkan bahwa struktur permintaan belum sepenuhnya pulih. Artinya, potensi kenaikan tetap ada, tetapi cenderung rapuh dan penuh resistensi.
Riset internal Tokocrypto juga mencatat adanya perubahan perilaku investor ritel selama Ramadan. Aktivitas transaksi biasanya melambat di siang hari dan meningkat kembali pada malam hari setelah berbuka hingga menjelang sahur. Selain itu, aksi ambil untung menjelang Ramadan juga kerap memicu tekanan jual di fase awal bulan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.











