"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Syahrul Yasin Limpo: Bukan Pemimpin Jika Hanya Bilang Suku Makassar di Sini, Bugis di Sana

Kepemimpinan yang Benar, Bukan Sekadar Pemimpin

Mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyampaikan pandangan mendalam tentang arti kepemimpinan dalam sebuah ceramah yang viral di grup percakapan WhatsApp. Ia menekankan bahwa inti dari kepemimpinan bukan sekadar memberi perintah, melainkan mampu menyatukan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Menurut Syahrul, seorang pemimpin harus mampu menciptakan harmoni antara para anak buahnya, seperti konduktor yang memastikan setiap alat musik berpadu dalam satu irama. “Salah satu tugas pemimpin adalah mengharmonisasi anak buah, membuat mereka mesra satu dengan yang lain. Tidak boleh kita menjadi pemimpin yang membuat mereka saling berbenturan,” ujarnya dalam video rekaman yang sempat viral.

Ceramah ini disampaikan oleh Syahrul dalam sebuah acara di masjid Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu, ia juga membahas pentingnya menghindari polarisasi berbasis suku atau identitas tertentu. Menurutnya, praktik tersebut justru kehilangan esensi kepemimpinan.

“Kamu bukan pemimpin kalau mengatakan, ‘Oh kamu suku Makassar di sini, kamu suku Bugis di sana.’ Tidak boleh. Kita pemimpin, kita bapaknya. Kita harus membuat harmonisasi satu dengan yang lain,” katanya.

Kesejahteraan Anak Buah Harus Diperhatikan

Selain menciptakan harmoni, Syahrul menilai bahwa seorang pemimpin wajib memperhatikan kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Ia mengibaratkan kepemimpinan yang baik sebagai tangan yang memberi, bukan tangan yang mengambil. “Tidak boleh kamu menyuruh orang pergi ke sana, pergi ke pasar, tetapi tidak diberi ongkos. Itu bukan pemimpin,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kesejahteraan anak buah, termasuk gaji mereka, harus diperhatikan. “Jadi salah kalau ada pemimpin yang suka memalak ke bawah,” tambahnya.

Syahrul juga mengaitkan prinsip ini dengan nilai kepemimpinan dalam tradisi Bugis. Dalam pandangan tersebut, pemimpin justru menjadi pihak yang memberi kepada rakyat. “Dalam konsep kepemimpinan orang Bugis, justru raja yang memberi uang kepada rakyatnya, bukan sebaliknya. Bukan rakyat yang memberi uang kepada pemerintah,” katanya.

Pengalaman Sebagai Anak Buah Membentuk Kepemimpinan

Lebih lanjut, Syahrul menekankan bahwa kemampuan menjadi pemimpin yang baik berawal dari pengalaman menjadi bawahan yang baik. Kepatuhan dan integritas ketika menjadi anak buah, menurutnya, merupakan fondasi bagi kepemimpinan yang sehat.

“Kalau kalian ingin menjadi pemimpin yang baik, kalian harus bisa menjadi anak buah yang baik. Kamu baru bisa menjadi pemimpin yang baik kalau ketika menjadi anak buah kamu taat kepada komandanmu,” kata Syahrul.

“Kalau kamu menjadi anak buah yang jahat atau pengkhianat, kamu tidak akan bisa menjadi pemimpin yang baik,” tambahnya.

Kemampuan Membaca Harapan dan Kebutuhan Orang Lain

Dalam pandangannya, kepemimpinan juga menuntut kemampuan membaca harapan dan kebutuhan orang lain—baik bawahan, rakyat, maupun atasan. Ia mencontohkan pengalamannya saat menjabat Menteri Pertanian di kabinet Presiden Joko Widodo.

“Waktu saya menjadi menteri, salah satu yang harus saya penuhi adalah bagaimana Presiden Pak Jokowi bisa merasa puas. Bagaimana saya menemukan harapan dan kebutuhan Presiden,” ujarnya.

Di saat yang sama, ia berusaha memahami harapan para pejabat di kementeriannya serta kebutuhan para petani yang menjadi tulang punggung sektor pertanian.

“Kalau kita bersama lima orang, kita harus tahu apa kebutuhan mereka dan apa harapan mereka kepada kita. Itu baru pemimpin,” kata dia.

Pemimpin yang Baik Bukan Sekadar Paling Pintar

Syahrul menutup ceramahnya dengan menekankan bahwa pemimpin tidak boleh merasa paling pintar dalam menyelesaikan masalah. Dalam pandangannya, solusi terbaik lahir dari kebersamaan.

“Semua masalah tidak boleh hanya dipecahkan sendiri oleh pemimpin. Jangan merasa pemimpin paling jago,” katanya. “Pemimpin yang baik adalah yang menyelesaikan masalah bersama rakyat.”

Ia memberi contoh sederhana: ketika seorang pemimpin melihat kawasan kumuh, tugasnya bukan sekadar menunjuk kesalahan, tetapi membuka jalan agar masyarakat dapat bergerak bersama.

“Misalnya membuatkan penerangan listrik agar masyarakat bisa bergotong royong memperbaikinya,” ujar Syahrul.

Bagi Syahrul, kepemimpinan pada akhirnya bukan soal kekuasaan, melainkan tentang merawat kepercayaan—menyatukan banyak kepala dalam satu tujuan, seperti simpul yang mengikat berbagai benang menjadi satu kain kebersamaan.


Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *