Kekhawatiran Calon Jemaah Haji 2026 di Kalimantan Utara
Sejumlah calon jemaah haji dari Kalimantan Utara mengungkapkan kekhawatiran terkait keamanan perjalanan mereka pada tahun 2026. Hal ini muncul akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang dikabarkan menyerang pangkalan militer di wilayah Arab Saudi. Keadaan ini memicu ketakutan di kalangan para calon jemaah.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Tarakan, H. Asmawan, mengakui adanya kekhawatiran tersebut. Ia langsung memberikan penjelasan kepada para calon jemaah haji. Menurutnya, meskipun ada ketidakpastian, pihaknya tetap optimis bahwa keberangkatan haji 2026 akan berjalan normal.
“Saya bilang, itu kan kita masih ada waktu tiga bulan. Jemaah haji insyaAllah aman. Insyaallah kita tetap berangkat,” tegas Asmawan. Ia juga menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada instruksi atau kebijakan dari pemerintah pusat terkait perubahan atau pembatalan keberangkatan haji 2026.
Asmawan menegaskan bahwa seluruh tahapan persiapan tetap berjalan sebagaimana mestinya. “Dan tetap kita melaksanakan tindakan-tindakan kelanjutan untuk persiapan keberangkatan, untuk dokumen-dokumen dan sebagainya,” tambahnya.
Pengamanan Diperketat oleh Pemerintah Arab Saudi
Terkait informasi bahwa pemerintah Arab Saudi memperketat pengamanan, Asmawan membenarkannya. “Ya, menambah pasukan kalau nggak salah. Mensteril area untuk nanti kedatangan,” ujarnya. Ia menilai langkah tersebut justru sebagai bentuk keseriusan Arab Saudi dalam meningkatkan pelayanan kepada jemaah.
“Artinya ya sepertinya Arab Saudi sekarang kan lebih ingin meningkatkan pelayanannya kepada jemaah. Sekarang dia lebih memprioritaskan ke wisatanya ketimbang minyaknya lagi. Kayaknya lebih menjanjikan wisatanya kan,” katanya.
Tahapan Persiapan Haji Terus Berjalan
Di tengah dinamika global, tahapan pelaksanaan persiapan pemberangkatan haji di Tarakan tetap berjalan. Asmawan menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan di tingkat kota sudah selesai. Selain itu, pelaksanaan manasik juga telah selesai. “Kemarin mulai pembagian buku petunjuk makanya kemarin banyak jemaah datang,” ujarnya.
Buku yang dimaksud adalah buku manasik haji yang dibagikan kepada para jemaah sebagai panduan pelaksanaan ibadah. “Ada buku manasik haji, kita serahkan. Dan insyaallah hari Minggu kami bersilaturahmi dengan jemaah untuk buka bersama dan juga memberikan manasik,” tambahnya.
Setelah itu, pihaknya masih menunggu informasi terkait kloter penerbangan. “Setelah itu kita ini masih menunggu juga kloter yang back from Garuda. Sementara yang kita persiapkan ada hal-hal yang terkecil, misalnya mempersiapkan sampul, membungkus paspor. Apa istilahnya sampul? Buatan selebaran untuk jemaah,” jelasnya.
Ia menyebut kemungkinan setelah Lebaran akan ada lagi kegiatan lanjutan. “Entahlah nanti setelah Lebaran mungkin ada lagi kegiatan-kegiatan berikutnya,” katanya.
Pemeriksaan Kesehatan di Embarkasi
Pemeriksaan kesehatan tahap selanjutnya akan dilakukan di embarkasi. “Tahap selanjutnya itu di embarkasi. Kalau untuk tahap satu dan dua sudah dilakukan di tingkat kabupaten dan kota. Begitu juga tes kebugaran,” jelasnya.
Asmawan menjelaskan bahwa jika dalam pemeriksaan di embarkasi ditemukan jemaah yang kondisinya kurang sehat, maka keberangkatan bisa ditunda. “Kalau misalkan pada saat tes kesehatan di embarkasi ada jemaah yang kondisinya kurang sehat itu bisa dibatalkan? Ditunda. Jadi bukan dibatalkan, jadi ditunda keberangkatannya sambil proses penyembuhan,” tegasnya.
Jika masih ada kloter berikutnya dan jemaah sudah sehat, maka bisa diberangkatkan. “Kalau pada saat itu masih ada kloter selanjutnya terbang ke Arab Saudi, biasanya diikutkan kalau sudah sehat. Tapi kalau sampai penerbangan habis, jemaahnya tidak sehat-sehat, jadi ditunda keberangkatannya. Dibatalkan ditunda untuk tahun berikutnya,” jelasnya.
Kasus Jemaah yang Tidak Memenuhi Syarat Kesehatan
Asmawan membenarkan kemarin juga saat tahap pemeriksaan kesehatan sebelumnya, terdapat tiga jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan. “Untuk yang semestinya berangkat tahun ini tidak memenuhi syarat itu ada tiga orang. Tertunda berarti. Dan mudah-mudahan tahun depan,” ujarnya.
Ketiganya terdiri dari dua orang penderita diabetes dan satu orang dengan gangguan kejiwaan serta usia lanjut. “Biasanya penyakit yang bisa menunda keberangkatan, itu gula atau diabetes. Kemudian untuk yang kejiwaan, memang kondisinya sudah tua, sudah pikun,” katanya.
Ia mengungkapkan pihaknya sempat memberikan semangat kepada jemaah tersebut. Karena kondisi kesehatan, jemaah tersebut dinyatakan tidak lagi wajib berangkat haji. “Bahkan kemarin dibawa umrah oleh keluarganta dan sudah lama pulanh umrah,” jelasnya.
Ia menambahkan untuk kuota, karena tidak berangkat maka bisa digantikan keluarga terdekat. “Semestinya itu nanti bisa dilimpahkan ke keluarganya. Keluarga terdekat berarti anak, suami kalau masih hidup,” pungkasnya.











