Kritik Terhadap Prolog Surat Perintah TNI Siaga 1
Legislator Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) TB Hasanuddin mengkritik prolog atau pembuka dalam surat perintah TNI Siaga 1 yang mengaitkan status kesiapsiagaan dengan konflik di Timur Tengah. Ia menilai bahwa hubungan tersebut terlalu jauh dan tidak relevan dengan situasi nyata di Indonesia.
TB Hasanuddin menyampaikan pendapatnya dalam program Satu Meja di kanal YouTube KompasTV, Rabu (11/3/2026). Menurutnya, dampak militer dari eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta Israel masih jauh dari Indonesia. Ia juga mempertanyakan alasan penghubungan antara status siaga TNI dengan konflik di kawasan Timur Tengah.
“Secara pasti, dampak militer dari konflik itu masih jauh,” ujarnya. “Sehingga saya bertanya, ketika ada sebuah prolog STR yang mengatakan karena situasi adanya peperangan antara AS dan Israel lawan Iran, lalu di-siagasatu-kan, itu justru menimbulkan banyak pertanyaan.”
TB Hasanuddin menjelaskan bahwa status siaga dalam militer merupakan alat kendali komando dari Panglima TNI kepada satuan pasukan untuk latihan dan mempersiapkan kekuatan atau pengerahan prajurit dalam kondisi tertentu. Ia juga memaparkan tahapan status siaga militer, mulai dari Siaga 3 yang berada dalam kondisi normal hingga Siaga 1 yang diterapkan ketika ancaman meningkat.
Menurut TB Hasanuddin, tidak ada ancaman serangan darat yang mengarah ke Indonesia. Perang antara AS-Israel vs Iran saat ini masih bersifat udara, bukan darat. Oleh karena itu, jika pun untuk siap siaga sebagai antisipasi konflik Timur Tengah, maka seharusnya TNI bersiaga di sektor Angkatan Udara-nya.
“Kalau penjelasannya panglima itu adalah bahwa ini hanya untuk menguji kesiapsiagaan, salah satunya juga bencana, tapi juga tidak dibantah kalau memang itu kaitannya dengan situasi yang saya mendengarkan langsung penjelasan dari Kapuspen TNI, prolognya bahwa itu adanya kondisi perang di Timur Tengah,” tuturnya.
“Nah, kalau ini saya melihat dihubungkan, misalnya siaga ada penempatan pasukan di Kelapa Gading, itu too early lah kalau menurut saya. Malah menimbulkan pertanyaan ya, karena belum tentu ada pasukan darat dari mana, mungkin dari Israel mau mendarat atau bagaimana, enggak jelas ya begitu.”
“Kalau toh ada perang, perang ini sekarang yang dilakukan antara Amerika dengan Iran itu kan perang dengan menggunakan media udara, belum ada serangan darat. Kalau toh ada siap siaga dalam konteks perang di Timur Tengah, mestinya adalah angkatan udara atau mungkin satuan-satuan pertahanan udara atau artileri pertahanan udara.”
Sekilas tentang Instruksi TNI Siaga 1
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengeluarkan perintah Siaga Tingkat 1 bagi seluruh jajaran TNI sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan situasi global, khususnya eskalasi konflik di kawasan Asia Barat (Timur Tengah). Perintah tersebut tertuang dalam Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026 yang ditandatangani oleh Asisten Operasi Panglima TNI Letjen Bobby Rinal Makmun pada 1 Maret 2026.
Dalam telegram itu disebutkan bahwa semua satuan TNI harus meningkatkan kesiapsiagaan operasional seiring meningkatnya dinamika konflik internasional dan potensi dampaknya terhadap situasi keamanan di dalam negeri. Tujuh instruksi dalam Telegram Siaga Tingkat 1 berkaitan dengan dampak serangan AS dan Israel ke Iran terhadap kondisi dalam negeri, sehingga dipandang perlu dilakukan penjagaan ketat objek vital transportasi darat (stasiun kereta, terminal, dll), laut (pelabuhan) dan udara (bandara).
Status Siaga Tingkat 1 tersebut berlaku sejak 1 Maret 2026 hingga waktu yang belum ditentukan.
7 Poin dalam Telegram Panglima TNI Nomor TR/283/2026
- Pangkotamaops TNI diminta menyiagakan personel dan alutsista untuk melakukan patroli di objek vital strategis dan pusat perekonomian. Objek vital meliputi bandara, pelabuhan laut maupun sungai, stasiun kereta, terminal bus, hingga fasilitas penting seperti kantor perusahaan listrik negara dan lain-lain.
- Kohanudnas diminta melakukan pengamatan udara secara terus-menerus selama 24 jam.
- Bais TNI diminta memerintahkan atase pertahanan RI di negara-negara terdampak konflik untuk mendata dan memetakan kondisi WNI, serta menyiapkan rencana evakuasi apabila diperlukan. Bais diminta berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, KBRI dan otoritas terkait sesuai eskalasi di kawasan Timur Tengah.
- Kodam Jaya diperintahkan meningkatkan patroli di berbagai objek vital strategis dan kawasan kedutaan besar untuk menjaga kondusifitas DKI Jakarta.
- Satuan intelijen TNI diperintahkan melakukan deteksi dini dan pencegahan potensi kelompok yang memanfaatkan situasi di Timur Tengah untuk membuat situasi dalam negeri tidak kondusif.
- Balakpus TNI diminta melaksanakan kesiapsiagaan di satuan masing-masing.
- Setiap perkembangan situasi yang terjadi harus segera dilaporkan kepada Panglima TNI.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











