"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Mengungkap Jejak Silas Papare, Kakek Kapolda Papua Tengah yang Kini Jenderal Bintang Dua

Jejak Perjuangan Silas Papare dan Estafet Kebangkitan di Tangan Cucunya

Alfred Papare resmi menjabat sebagai Irjen Pol (Bintang Dua) setelah naik pangkat dalam upacara korps raport kenaikan pangkat 47 Perwira Tinggi (Pati) di Rupatama Mabes Polri, Kamis (19/3/2026). Ia menjadi salah satu dari puluhan Pati yang mendapat kenaikan pangkat. Namun, kenaikan ini bukan hanya prestasi karier semata, melainkan kelanjutan dari garis dedikasi keluarga Papare bagi kedaulatan Indonesia, khususnya di Tanah Papua.

Alfred Papare adalah cucu kandung dari Pahlawan Nasional Silas Papare (1918–1978), sosok penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kedaulatan Irian Barat pada tahun 1962. Nama sang kakek kini terabadikan dalam berbagai nama institusi, seperti Kapal Perang KRI Silas Papare-386 dan Lanud Silas Papare di Jayapura. Selain itu, ada juga jalan-jalan yang dinamai sesuai dengan nama besar Silas Papare.

Sebagai Kapolda pertama Papua Tengah, Alfred kini mengemban amanah untuk menjaga keamanan dan kedaulatan di wilayah baru tersebut. Ia menjadi pengingat kuat akan garis keturunan pejuang besar yang pernah mempertaruhkan nyawa demi bangsa.

Sejarah Perjuangan Silas Papare

Sebelum dikenal sebagai tokoh politik, Silas Papare memulai perjalanan pengabdiannya sebagai juru rawat di rumah sakit Serui dan perusahaan minyak NNGPM di Sorong sejak tahun 1935. Namun, perang yang meletus pada masa pendudukan Jepang mengubah jalannya hidupnya. Pada tahun 1944, keahliannya membuat Silas direkrut sebagai mata-mata untuk Amerika Serikat dan organisasi intelijen Belanda (NEFIS) guna melawan pendudukan Jepang.

Namun, kesetiaannya tetap pada tanah air. Ia kemudian memimpin pemberontakan di Kampung Harapan pada Desember 1945 melawan Belanda yang ingin kembali menduduki Papua. Aksi berani ini berujung pada penangkapan dan pemenjaraannya di Jayapura.

Titik Balik dan Pendirian PKII

Titik balik perjuangan Silas semakin menguat saat ia diasingkan ke Serui dan bertemu dengan Dr. Sam Ratulangi. Perkenalan dengan Gubernur Sulawesi tersebut memantapkan keyakinan Silas bahwa Papua adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Pada November 1946, ia mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII). Meski organisasi ini dinyatakan ilegal oleh Belanda, anggotanya melonjak hingga 4.000 orang pada tahun 1949.

Silas sempat kembali dipenjara di Biak dengan tuduhan “hilang ingatan”—sebuah alasan yang justru ia manfaatkan untuk melarikan diri ke Yogyakarta dan mendirikan Badan Perjuangan Irian.

Peran dalam Perjanjian New York 1962

Nama Silas Papare tercatat sebagai tokoh kunci dalam Perjanjian New York pada 15 Agustus 1962. Bersama Presiden Soekarno, ia menjadi delegasi yang mengakhiri konfrontasi dengan Belanda. Atas jasa besarnya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 14 September 1993 melalui Keppres No.77/TK/1993.

Estafet Perjuangan Sang Cucu

Kini, tongkat estafet pengabdian itu berada di tangan Irjen Pol. Alfred Papare. Lulusan Akpol 1995 ini memiliki rekam jejak mumpuni di bidang intelijen, bidang yang juga pernah digeluti sang kakek di masa perang.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa kenaikan pangkat ini adalah amanah besar bagi para perwira tinggi. “Kenaikan pangkat ini bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi juga amanah dan tanggung jawab yang lebih besar untuk terus meningkatkan profesionalisme, integritas, serta pelayanan kepada masyarakat,” ujar Johnny, Jumat (20/3/2026).

Dengan pangkat bintang dua di pundaknya, Irjen Alfred Papare kini memimpin keamanan di provinsi baru Papua Tengah, melanjutkan sejarah panjang keluarga Papare dalam menjaga marwah Indonesia di ujung timur nusantara.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *