Washington — Banyak prajurit militer Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan moral yang signifikan akibat kritik publik internasional terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dalam perang bersama Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran. Dalam laporan yang diterbitkan, disebutkan bahwa para serdadu Paman Sam, baik yang sudah ditarik maupun yang direncanakan untuk tugas di wilayah Timur Tengah (Timteng), mengalami tingkat stres dan frustrasi yang tinggi.
Menurut wawancara dengan banyak prajurit aktif, prajurit cadangan, dan kelompok advokasi, banyak anggota militer merasa tertekan oleh tekanan publik yang mempertanyakan tujuan perang AS terhadap Iran. Mereka juga merasa frustasi karena meningkatnya perlawanan Iran terhadap agresi Amerika Serikat dan sekutunya, Israel.
Seorang pejabat militer yang bertugas dalam perawatan psikologis para serdadu AS menyampaikan bahwa banyak personel yang ditarik dari negara-negara Timteng dan dievakuasi ke Jerman mengalami dampak kejiwaan yang rentan. Bahkan, banyak dari mereka mengalami keruntuhan moral akibat serangan drone dan misil Iran yang menargetkan pangkalan militer AS di berbagai negara Timteng.
“Perencanaan militer saat ini tidak cukup melindungi pasukan,” kata pejabat tersebut. “Kita bahkan tidak bisa sepenuhnya mempertahankan satu pangkalan di medan perang saat ini.”
Laporan sementara menyebutkan bahwa hingga hari ke-25 perang AS-Zionis melawan Iran, sebanyak 13 tentara AS tewas dan sedikitnya 230 serdadu mengalami luka-luka serius. Awal Maret 2026 lalu, AS mengevakuasi ribuan personel militernya dari negara-negara Timteng setelah intensitas perlawanan Iran meluas hingga ke Teluk Arab.
“Kami tidak ingin mati karena Israel”
Jajak pendapat terbaru di AS menunjukkan bahwa mayoritas warga negara tidak setuju dengan invasi AS terhadap Iran. Lebih dari separuh warga AS tidak percaya bahwa perang dengan Iran disebabkan oleh faktor kepentingan nasional AS. Mereka menganggap keputusan Trump untuk menginvasi Iran hanya demi membela kepentingan Zionis Israel, yang dianggap bermusuhan dengan pemerintahan Para Mullah di Teheran.
Polemik di dalam negeri AS ini memengaruhi moralitas para serdadu Paman Sam. Penentangan mayoritas warga AS atas invasi ke Iran didasarkan pada anggapan bahwa keputusan Trump adalah keputusan politik yang salah. Mayoritas warga AS meyakini bahwa keputusan Trump hanya demi membela kepentingan Israel.
Pertanyaan serius juga muncul dari para serdadu cadangan yang dijadwalkan dikerahkan ke medan perang. Seorang prajurit cadangan yang berkomunikasi langsung dengan personel aktif menyampaikan bahwa, “Kami tidak ingin mati untuk Israel. Kami tidak mau hanya menjadi pion politik peperangan Israel.”
Tren penolakan wajib militer meningkat
Penelusuran lebih dalam oleh media menunjukkan adanya peningkatan pertanyaan dari para serdadu cadangan tentang prosedural penolakan wajib militer. Direktur Eksekutif Center on Conscience and War di AS, Mike Prysner, melaporkan adanya tren peningkatan yang sama dari para serdadu cadangan AS.
“Saya telah membagikan informasi tentang bagaimana prosedur dalam penolakan wajib militer karena alasan hati nurani. Saya belum pernah dihubungi oleh orang-orang secara masif seperti ini,” kata Prysner. Menurut dia, peningkatan pertanyaan tersebut mencapai 1.000 persen dengan minimal satu anggota militer cadangan yang menghubunginya tiap hari.
Direktur About Face: Veterans Against the War, Matt Howard, juga menyampaikan bahwa semakin banyak anggota militer yang mempertanyakan posisi AS dalam perang bersama Israel menginvansi Iran kali ini, menunjukkan adanya pemahaman hati nurani.
Empati terhadap kekacauan di Timteng
Banyak anggota militer AS saat ini terbakar empati melihat kekacauan besar di Timteng yang berangkat dari genosida yang dilakukan Zionis Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Mereka menyebut genosida Israel yang didukung Amerika di Gaza sebagai pengaruh terhadap persepsi mereka tentang peperangan yang saat ini terjadi di kawasan.
Para serdadu AS juga mengalami degradasi kepercayaan diri dalam meyakini berada di posisi yang benar melihat pengeboman di sekolah Minab, Teheran yang menewaskan 170-an anak-anak. Pasukan semakin mempertanyakan peran mereka dalam apa yang mereka anggap sebagai perang yang didorong oleh sikap politik yang salah, dan perang yang didorong oleh pihak lain tanpa tujuan yang jelas.
Para veteran perang AS menyampaikan bahwa sikap mental para serdadu AS yang runtuh saat ini merupakan peringatan yang terang bagi kepemimpinan di Gedung Putih agar tak mengulangi fatalisme tetap memilih peperangan dengan Iran yang tak ada kaitannya dengan AS. “Jika perang ini tidak sesuai dengan niat dan tujuan kemiliteran saya, saya akan keluar,” begitu kata seorang prajurit AS kepada media.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











