"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Hukum  

Dipaksa Menikah dengan ASN yang Merendahkan, Remaja Perempuan Coba Bunuh Diri di Depan Istana Merdeka

Perempuan Muda yang Hendak Bunuh Diri di Depan Istana Merdeka, Korban Pelecehan Seksual ASN

Seorang perempuan muda berinisial JSLP (20) yang diamankan oleh pihak kepolisian karena diduga hendak bunuh diri di depan gerbang Istana Merdeka, Jakarta Pusat, ternyata merupakan korban pelecehan seksual seorang aparatur sipil negara (ASN). Kejadian ini menimbulkan banyak pertanyaan terkait proses hukum dan perlindungan terhadap korban pelecehan seksual.

Kasus Pelecehan Seksual yang Tidak Terungkap

JSLP menjadi korban pelecehan seksual pada 2023 di Jakarta Pusat. Saat itu, ia melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Pusat. Namun, keluarga pelaku dan JSLP kemudian sepakat untuk menikahkan keduanya. Pernikahan dilakukan di daerah asal pelaku yakni Tegal, Jawa Tengah. Akibatnya, status laporan pelecehan seksual terhadap JSLP gugur demi hukum.

Pelaku, yang merupakan ASN di Toli-Toli (Sulawesi Tengah), tinggal di Jakarta. Setelah menikah, JSLP dibawa ke Toli-Toli. Namun, beberapa waktu kemudian, ia kembali ke Jakarta dan tinggal di rumah keluarganya di Jakarta Timur.

Kondisi Mental yang Mengkhawatirkan

JSLP disebut mengalami gangguan kejiwaan akibat depresi. Ia pun menjadi pasien Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Menurut Kompol Rita Oktavia, Kepala Satuan Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO), Polres Metro Jakpus, setelah menikah, JSLP dan pelaku belum memiliki anak.

Kasus ini juga memicu kecurigaan bahwa JSLP sempat mengalami pelecehan seksual saat masih di bawah umur. “Dia (JSLP) di bawah umur yang sepantasnya tidak dibegitukan,” ujar Rita.

Percobaan Bunuh Diri yang Menggemparkan

Pada Minggu (22/3/2026) malam, JSLP diamankan polisi karena diduga hendak bunuh diri di depan pintu gerbang Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Kejadian bermula saat seorang anggota Pasukan Pengamanan Kepresidenan (Paspampres) yang berjaga di pos 02 Istana melihat seorang perempuan bertindak mencurigakan sekitar pukul 23.35 WIB.

Anggota Paspampres itu lalu mendatangi perempuan tersebut. Saat didatangi, tas perempuan itu sudah berada di bawah, sepatu sudah terlepas. Selanjutnya anggota melapor ke Komandan Posko. Selanjutnya Paspampres melapor ke anggota Brimob yang sedang berjaga.

Senin (23/3/2026) pukul 00.10 WIB, dokter dari Bidokkes Polres Metro Jakarta Pusat tiba di lokasi kejadian. Dokter berupaya melakukan pendekatan dan komunikasi terhadap wanita tersebut. Namun, yang bersangkutan terus menjauh setiap kali akan didekati. Akhirnya, pukul 00.56 WIB, wanita tersebut berhasil diamankan.

Penanganan Lebih Lanjut

Perempuan itu kemudian dibawa ke Posko Pengamanan Polri Istana untuk dimintai keterangan. Pukul 01.16 WIB, JSLP dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk diperiksa lebih lanjut. Petugas menemukan tali tambang sepanjang sekitar 2 meter. Kondisi korban saat itu menunjukkan tanda-tanda depresi berat.

Setelah diamankan, JSLP dibawa ke Polres Metro Jakarta Pusat. Saat dilakukan pemeriksaan awal, ia cenderung irit bicara dan hanya menjawab singkat setiap pertanyaan petugas. Polisi kemudian menemukan buku kontrol kejiwaan dari RSCM di dalam tas korban.

Berdasarkan temuan tersebut, petugas berkoordinasi dengan dokter yang sebelumnya menangani JSLP. Atas rekomendasi dokter, JSLP kemudian dibawa ke RSCM untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. “Kondisinya sekarang sehat. Kami sudah antarkan ke RSCM bagian kejiwaan,” ujar Rita.

Masalah Sosial dan Hukum yang Memperparah

Rita menambahkan, korban diketahui merupakan warga Jakarta Timur dan memiliki riwayat gangguan kejiwaan. “Memang sudah ada riwayat kejiwaan, ya mungkin depresi. Terlalu depresinya sehingga mengganggu kejiwaannya,” ucapnya.

Saat dimintai keterangan terkait keluarga, korban lebih banyak diam dan menolak memberikan kontak orangtuanya. Ia bahkan berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengakhiri hidup. “Yang dia katakan hanya, ‘Saya pengIn bunuh diri, saya pengen bunuh diri,’” tutur Rita.


Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *