Penjelasan Panji Sukma terkait Tuduhan Pelecehan Seksual
Seniman dan sastrawan asal Sukoharjo, Panji Sukma, secara blak-blak menanggapi tuduhan pelecehan seksual yang viral di media sosial. Ia membantah tegas semua tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa hubungan antara dirinya dengan pihak yang menuduh tidak sesuai dengan narasi yang beredar.
Bantah Tuduhan Peristiwa 5 November
Panji menegaskan bahwa tuduhan peristiwa pada 5 November tidak benar. Ia menyebut bahwa hari itu berjalan seperti biasa tanpa ada peristiwa yang sesuai dengan dugaan. Bahkan setelah tanggal tersebut, hubungan antara dirinya dan pihak yang menuduh tetap berjalan normal.
“Hari itu berjalan seperti hari-hari biasanya. Setelah tanggal 5 November pun, hubungan kami masih berjalan seperti biasa,” ujarnya.
Hubungan yang Tidak Sepenuhnya Sederhana
Menurut Panji, kedekatan antara dirinya dan SS (sosok yang menuduh) bukanlah hubungan yang sederhana. Ia mengakui bahwa mereka pernah memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman diskusi.
“Saya mengenalnya bukan semata sebagai rekan diskusi, tetapi juga sebagai teman yang cukup sering beraktivitas bersama saya,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa SS kerap menginap di rumahnya selama masa pandemi. Aktivitas yang dilakukan selama itu berlangsung seperti biasa, termasuk ngobrol dan beraktivitas di kamar.
Keterlibatan dalam Kehidupan Pribadi
Panji menjelaskan bahwa SS juga memiliki hubungan cukup akrab dengan ibunya. Hal ini menunjukkan bahwa keakraban antara mereka tidak sepenuhnya terbatas pada hubungan profesional atau diskusi.
Namun, ia menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak mencerminkan tindakan pelecehan seksual sebagaimana dituduhkan.
Munculnya Isu di Media Sosial
Dalam wawancaranya, Panji menyebut bahwa isu ini mulai ramai dibicarakan setelah SS membuat unggahan di media sosial. Ia mengaku tidak ingat persis kapan isu itu mulai muncul, tetapi ia merasa bahwa situasi membesar setelah unggahan tersebut.
Selain itu, ia juga menyebut bahwa SS pernah mendatangi mantan pacarnya, yang menurutnya memperburuk situasi.
Tanggapan terhadap Permintaan Akui Secara Publik
Setelah isu ini muncul, Panji menerima pesan dari SS yang meminta dirinya mengakui secara publik bahwa telah melakukan tindakan yang dituduhkan. Namun, ia menolak permintaan tersebut karena menilai bahwa hal itu tidak benar.
“Ia meminta saya mengakui secara publik bahwa saya telah melakukan pelecehan seksual. Saya sampaikan dengan jelas bahwa saya tidak bisa mengakui sesuatu yang memang tidak saya lakukan,” ujarnya.
Penjelasan tentang Botol Urine
Panji juga menjelaskan soal penggunaan botol untuk buang air kecil. Ia mengatakan bahwa ia pernah mengalami masalah kesehatan serius, yaitu batu saluran kemih, yang membuatnya harus menjalani tindakan medis. Setelah operasi, ia mengalami kesulitan buang air kecil dan beberapa kali menggunakan botol dalam kondisi darurat.
“Ada beberapa situasi di mana saya tidak sempat ke kamar mandi. Dalam kondisi darurat seperti itu, saya memang pernah menggunakan botol untuk buang air kecil,” ujarnya.
Dampak Sosial yang Dirasakan
Panji mengaku bahwa isu ini memberikan dampak sosial yang besar. Banyak teman dan komunitas yang sebelumnya dekat dengannya mulai menjauh. Ia merasa seperti dikucilkan meskipun proses hukum belum selesai.
“Saya sangat terpukul. Dampaknya buat saya luar biasa. Teman-teman banyak yang tidak berani menghubungi saya. Komunitas yang selama ini dekat dengan saya pun mulai menjauh,” ujarnya.
Penjelasan tentang Batasan dan Kenyamanan
Panji juga mengakui bahwa mungkin ada orang yang melihat pola interaksi antara dirinya dan SS sebagai hubungan yang terlalu cair. Namun, ia menegaskan bahwa konteks hubungan mereka perlu dipahami secara utuh.
“Hubungan kami memang sudah sangat akrab. Cara bercanda, cara ngobrol, dan cara berinteraksi kami memang kadang sangat terbuka,” ujarnya.
Menegaskan Kooperatif terhadap Proses Hukum
Di tengah polemik ini, Panji menyatakan bahwa ia akan kooperatif terhadap proses hukum yang berjalan. Ia tidak ingin menggiring persoalan ini menjadi perang narasi di media sosial.
“Saya memilih untuk kooperatif terhadap proses hukum. Saya tidak ingin menghakimi siapapun lewat media sosial,” katanya.
Pernyataan Kuasa Hukum
Kuasa hukum Panji Sukma, Nanang Hartanto, juga menyampaikan bahwa pihaknya akan menghormati seluruh proses hukum yang berjalan. Ia menyesalkan opini publik yang dinilai telah lebih dulu membentuk vonis sosial.
“Kami juga menyayangkan bagaimana opini publik sudah lebih dulu membentuk vonis sosial. Padahal, proses hukum sendiri belum selesai dan belum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap,” ujarnya.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











