"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Iran siap buka Selat Hormuz, tapi dengan syarat ketat: bayar dan patuhi aturan

Iran Membuka Kembali Selat Hormuz dengan Syarat Ketat

Iran kini membuka peluang pembukaan kembali Selat Hormuz, sebuah jalur vital bagi distribusi energi dunia. Namun, kebijakan ini disertai dengan syarat-syarat yang ketat, termasuk pembayaran biaya transit bagi kapal-kapal yang ingin melintasi wilayah tersebut. Langkah ini disebut sebagai sistem “gerbang tol” dan bertujuan untuk mengganti kerugian akibat konflik di kawasan.

Pemulihan jalur pelayaran ini memicu kekhawatiran global, terutama karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melalui jalur sempit ini. Jika kebijakan tersebut diterapkan secara penuh, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap stabilitas kawasan dan harga energi dunia.

Syarat-Syarat yang Ditetapkan Iran

Pemerintah Iran menegaskan bahwa selat tetap terbuka, tetapi hanya bagi pihak yang memenuhi aturan ketat yang telah ditetapkan. Kapal-kapal yang dianggap sebagai “musuh” Iran, termasuk yang berafiliasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya, tidak akan diizinkan melintas. Sementara itu, kapal dari negara lain harus melakukan koordinasi serta mematuhi prosedur keamanan sebelum memasuki wilayah tersebut.

Selain itu, Iran juga berencana memberlakukan biaya transit sebagai kompensasi atas kerusakan akibat konflik yang terjadi di kawasan tersebut. Kebijakan ini disampaikan oleh pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran, Seyyed Mehdi Tabatabaei, seperti dikutip dari The Guardian, Minggu (5/4/2026).

Gagasan “Rezim Hukum Baru”

Tabatabaei menjelaskan bahwa kompensasi yang dimaksud akan diatur melalui skema yang disebut sebagai “rezim hukum baru”. Dalam konsep tersebut, Iran membuka kemungkinan penerapan biaya bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa selat hanya akan dibuka kembali jika seluruh kerugian akibat perang yang dipaksakan sudah diganti melalui rezim hukum baru, yakni dengan mengambil sebagian dari pendapatan biaya transit.

Skema Mirip “Gerbang Tol”

Laporan AP News pada 27 Maret 2026 menyebut Iran telah mulai menerapkan skema yang menyerupai “gerbang tol” bagi kapal yang melintas. Menurut Lloyd’s List Intelligence, Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut telah menjalankan mekanisme tersebut di lapangan.

Dalam praktiknya, sejumlah kapal dilaporkan diminta membayar biaya transit menggunakan mata uang China, yuan. Setidaknya dua kapal telah melakukan pembayaran, meskipun tidak semua kapal dikenai biaya secara langsung. Beberapa kapal, seperti kapal India yang mengangkut gas petroleum cair, disebut dapat melintas melalui jalur diplomasi.

Menuju Sistem Permanen?

Sejumlah laporan menyebut Iran tengah menggodok sistem permanen terkait pengelolaan Selat Hormuz. Dalam surat kepada International Maritime Organization (IMO), Iran menyatakan telah menerapkan berbagai langkah untuk menjamin keselamatan dan keamanan maritim. Pemerintah Iran juga menegaskan kebijakan tersebut sesuai dengan hukum internasional.

Di sisi lain, parlemen Iran dilaporkan tengah menyusun undang-undang untuk meresmikan pungutan biaya bagi kapal. Media yang dekat dengan IRGC menyebut langkah ini sebagai upaya menegaskan kedaulatan Iran sekaligus membuka sumber pendapatan baru.

Menuai Kecaman Internasional

Rencana tersebut mendapat kritik dari berbagai pihak. IMO menyoroti pentingnya menjaga kebebasan pelayaran dan mengecam serangan terhadap kapal. Seorang eksekutif industri minyak dari Uni Emirat Arab bahkan menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk “terorisme ekonomi”.

Kritik juga datang dari kalangan ahli hukum maritim yang menilai pungutan tersebut berpotensi melanggar hukum internasional. Dalam Konvensi Hukum Laut PBB, kapal sipil memiliki hak lintas damai di perairan teritorial. “Tidak ada dasar dalam hukum internasional untuk memungut biaya seperti ini. Ini semata-mata karena Iran ingin menguasai Selat Hormuz,” ujar seorang ahli maritim.

Selain itu, keterlibatan IRGC dalam mekanisme pembayaran juga dinilai berisiko melanggar sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terhadap kelompok tersebut.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *