Keheningan dan Tangis di Bandara Soekarno-Hatta
Di bawah cahaya lampu apron Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Sabtu (4/4/2026) malam, suasana hening memenuhi ruang. Tangis keluarga pecah saat tiga jenazah prajurit TNI yang gugur dalam misi perdamaian di Lebanon terbujur dalam balutan bendera. Mereka disambut dengan keheningan yang penuh luka, namun juga penuh rasa hormat.
Di sisi landasan, kursi-kursi telah disiapkan, dilapisi sarung putih. Di tempat itu, para orang tua duduk dengan tatapan kosong, sementara istri dan anak-anak mencoba memahami kehilangan yang mereka alami. Wajah-wajah mereka memancarkan kepedihan yang dalam, saat satu per satu anggota TNI menghampiri keluarga. Suasana berubah menjadi haru, dengan tangan saling menggenggam, pelukan hangat diberikan, dan air mata tak lagi bisa disembunyikan.
Ucapan belasungkawa yang lirih justru terdengar menggema di tengah keheningan. Tangisan pecah, menggelegar tanpa bisa ditahan. Ada isak tangis sambil terduduk lemas, dan menutup wajah dengan kedua tangan. Beberapa anggota keluarga bahkan tidak sanggup berdiri, tubuh mereka lunglai dan harus ditopang serta dipapah oleh kerabat maupun prajurit yang ada di sekitar.
Dengan langkah tertatih, mereka dibimbing mendekati pesawat, tempat di mana para prajurit itu akan melakukan perjalanan terakhir menuju kampung halaman. Upacara penghormatan dan pelepasan telah dilaksanakan diiringi suasana haru yang menyelimuti seluruh rangkaian prosesi. Setelah penghormatan terakhir diberikan, jenazah mendiang kemudian diberangkatkan menuju kampung halaman untuk disemayamkan dan dimakamkan secara layak di tengah keluarga serta kerabat tercinta.
Pesawat yang Digunakan untuk Pengangkutan Jenazah
Pesawat CASA CN-295 dan Lockheed Martin C-130J Super Hercules milik TNI Angkatan Udara disiapkan untuk membawa jenazah ke daerah asal. Kedatangan jenazah dilakukan melalui jalur udara sipil menggunakan maskapai Turkish Airlines dengan nomor penerbangan TK 056. Tiga prajurit yang gugur tersebut adalah Mayor Inf (Anm) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anm) M Nur Ichwan, dan Kopda (Anm) Farizal Rhomadon.
Mereka merupakan bagian dari kontingen Indonesia dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kepala Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kombes Wisnu Wardana menjelaskan bahwa pesawat CN 295 dan C-130J dipilih karena memiliki kemampuan angkut personel dan logistik dalam berbagai kondisi. Selain itu, fleksibilitas operasional kedua pesawat tersebut memungkinkan membawa jenazah ke lebih dari satu tujuan secara efisien.
Jenazah selanjutnya akan diterbangkan ke daerah asal, yakni Bandung dan Yogyakarta. Wisnu memastikan situasi keamanan di Bandara Soekarno-Hatta tetap kondusif selama proses berlangsung. “Kami pastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib,” kata Wisnu.
Prosesi Pemakaman yang Penuh Rasa Hormat
Prosesi pemakaman ini bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga simbol penghargaan bagi ketiga prajurit TNI yang gugur dalam menjalankan tugas negara. Mereka meninggalkan jejak kesetiaan dan dedikasi yang tak tergantikan. Keluarga dan masyarakat turut merasakan kehilangan yang mendalam, namun juga bangga atas pengabdian yang telah diberikan.
Pemakaman dilakukan di tengah keluarga dan kerabat terdekat, dengan doa-doa yang dipanjatkan agar arwah para prajurit diterima di sisi Tuhan. Semua rangkaian acara berjalan dengan lancar, sesuai dengan protokol yang ditetapkan. Para prajurit yang hadir memberikan dukungan moral dan fisik kepada keluarga, sehingga prosesi pemakaman dapat berlangsung dengan penuh kehormatan.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











