Kemenangan Iran dalam Konflik dengan AS dan Israel
Dalam suasana gencatan senjata yang baru saja disepakati dengan Amerika Serikat, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi mendeklarasikan kemenangan mutlak atas aliansi AS-Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam pesan publiknya yang disiarkan pada Kamis (9/4/2026). Mojtaba menegaskan bahwa keteguhan bangsa Iran selama 40 hari pertempuran telah menjadi simbol perlawanan global.
Meskipun Iran harus kehilangan tokoh-tokoh kunci, termasuk sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur pada awal agresi 28 Februari lalu, Mojtaba menekankan bahwa kekuatan revolusi tidak pernah surut. Sebaliknya, duka tersebut diklaim telah bertransformasi menjadi energi keberanian yang tidak terduga di medan pertempuran.
“Meski menghadapi agresi musuh dan kerugian yang diderita, tak diragukan lagi bahwa bangsa Iran telah meraih kemenangan.”
“Rakyat Iran mengubah kesedihan mereka menjadi perlawanan dan tekad yang membuat musuh-musuh mereka takjub, serta menginspirasi dunia yang mengamati,” tegas Khamenei.
Sumpah Pembalasan dan Kompensasi
Dalam pernyataan yang dibacakan melalui televisi nasional Iran, Mojtaba memperingatkan bahwa gencatan senjata bukan berarti pengampunan atas kejahatan perang yang terjadi. Iran tetap berkomitmen untuk menuntut keadilan bagi para martir dan pemulihan infrastruktur yang hancur. Ia secara eksplisit bersumpah akan membalas kematian para pejabat tinggi dan memastikan para agresor menerima hukuman yang setimpal.
“Kami jelas tak akan membiarkan penjahat agresor yang menyerang negara kami tak dihukum.”
“Iran akan menuntut kompensasi untuk semua kerusakan, begitu juga bagi para martir, dan semua yang terluka,” tambahnya dengan nada mengancam.
Fase Baru Selat Hormuz
Menutup pesannya, Pemimpin Tertinggi baru tersebut memberikan sinyal misterius mengenai masa depan jalur energi dunia di Selat Hormuz. Tanpa merinci langkah teknisnya, ia menegaskan bahwa Iran akan segera memasuki “fase terbaru” dalam pengelolaan selat strategis tersebut guna mempertahankan hak sah negaranya. Dunia kini menanti manuver diplomatik maupun militer Teheran selanjutnya dalam perundingan damai yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad.
Ancaman Perang Lagi Akibat Serangan Israel
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang baru berusia seumur jagung terancam kolaps. Pemerintah Iran kembali mengeluarkan peringatan keras. Peringatan itu yakni akan kembali meluncurkan operasi militer berskala penuh setelah menuding Israel melakukan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata yang baru saja berlaku pada Rabu (8/4/2026).
Meskipun mediator kesepakatan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, menegaskan gencatan senjata antara AS dan Iran turut mencakup wilayah Lebanon, realita di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Militer Israel dilaporkan meluncurkan lebih dari 100 serangan udara ke Lebanon dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kesepakatan dimulai. Otoritas Lebanon melaporkan dampak mengerikan dari agresi tersebut, dengan sedikitnya 254 orang tewas.
Pejabat Iran menyatakan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan dan mendesak negara-negara mediator untuk segera melakukan intervensi guna menghentikan Israel.
Krisis Kepercayaan terhadap Washington
Pelanggaran ini memicu kemarahan di parlemen Iran. Juru Bicara Parlemen, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa kepercayaan Teheran terhadap Amerika Serikat kini berada di titik terendah. Menurutnya, pihak agresor tidak hanya menyerang Lebanon, tetapi juga melakukan provokasi langsung ke kedaulatan Iran.
“Pada hari pertama gencatan senjata, mereka mengirimkan drone ke wilayah Iran dan secara terbuka menolak hak pengayaan uranium kami. Dalam situasi seperti itu, gencatan senjata bilateral atau perundingan tidak bisa dilakukan,” tegas Qalibaf.
Selat Hormuz Sebagai Kartu Truf
Teheran memberikan peringatan bahwa Selat Hormuz, jalur nadi energi dunia yang sempat akan dibuka, bisa kembali ditutup total jika aksi militer Israel tidak dihentikan. Hal ini menjadi ganjalan besar bagi rencana perundingan damai lanjutan yang sedianya akan dilangsungkan di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10/4).
Hingga saat ini, dunia menanti apakah mediasi Shehbaz Sharif mampu meredam emosi kedua belah pihak, ataukah kegagalan hari pertama ini akan menyeret Timur Tengah kembali ke dalam perang terbuka yang lebih dahsyat.











