Kesepakatan Kabinet Nasional untuk Reformasi Senjata Api
Setelah terjadinya penembakan massal yang menargetkan perayaan Yahudi Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan sedikitnya 15 orang, pemerintah Australia mengambil langkah penting untuk memperketat undang-undang senjata api. Perdana Menteri Anthony Albanese mengumumkan bahwa pemerintah akan mengusulkan undang-undang nasional yang lebih ketat, dengan fokus pada beberapa perubahan utama.
Beberapa rencana reformasi mencakup pembatasan kepemilikan senjata api hanya untuk warga negara, batasan jumlah senjata yang dapat dimiliki oleh satu orang, dan pembatasan jenis senjata api yang legal. Pernyataan ini datang setelah pihak berwenang mengungkapkan bahwa pelaku penembakan, yang merupakan ayah dan anak, memiliki enam senjata api secara legal.
“Pemerintah siap untuk mengambil tindakan apa pun yang diperlukan. Termasuk di dalamnya adalah kebutuhan akan undang-undang senjata api yang lebih ketat,” kata Albanese kepada wartawan. Ia menekankan bahwa “keadaan orang dapat berubah. Orang dapat menjadi radikal dalam jangka waktu tertentu. Lisensi seharusnya tidak berlaku selamanya.”
Asosiasi Kepolisian Federal Australia menyambut baik kesepakatan kabinet tersebut. Mereka menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah untuk meningkatkan keamanan masyarakat dan memberikan alat pencegahan yang lebih kuat untuk mengurangi risiko terkait senjata api. Asosiasi ini juga berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga terkait untuk memastikan implementasi reformasi yang efektif dan konsisten di semua yurisdiksi.
Tragedi di Pantai Bondi
Tragedi di Pantai Bondi, yang merupakan tempat populer di Australia, menewaskan banyak korban, termasuk seorang gadis berusia 10 tahun, seorang rabi, dan seorang penyintas Holocaust. Setidaknya 38 orang dirawat di rumah sakit setelah pembantaian. Penembakan ini dianggap sebagai yang paling mematikan dalam hampir tiga dekade di negara dengan undang-undang pengendalian senjata yang ketat.
Albanese menyebut serangan tersebut sebagai tindakan terorisme anti-Semit yang menyerang jantung negara. Ia berjanji akan melakukan perubahan cepat dan rencananya untuk mempresentasikan proposal undang-undang senjata api kepada rapat kabinet nasional yang mencakup para pemimpin negara bagian.
Revisi Undang-Undang Senjata
Undang-undang senjata Australia direvisi setelah pembantaian pada 1996 di kota Port Arthur, Tasmania, di mana seorang penembak tunggal membunuh 35 orang. Namun, upaya pemerintah untuk memperketat undang-undang senjata api tidak boleh mengesampingkan reformasi sosial yang lebih luas, menurut ahli kekerasan senjata api.
Samara McPhedran, seorang peneliti utama di Universitas Griffith, menyatakan bahwa politisi di seluruh spektrum politik telah menggunakan “retorika yang cukup provokatif dan memecah belah,” yang telah memecah belah warga Australia berdasarkan ras, agama, budaya, etnis, dan lainnya. Ia berharap ke depannya, Australia dapat berupaya menuju pendekatan yang jauh lebih positif dan kolektif terhadap masalah sosial.
Identitas Pelaku dan Tindakan Pemerintah
Detail lebih lanjut tentang para pelaku penembakan mulai terungkap. Izin senjata api yang dimilikinya memberikan hak kepada orang dewasa dengan “alasan yang sah” untuk memiliki senapan atau shotgun. Alasan yang diterima termasuk menembak sasaran, berburu rekreasi, dan pengendalian hama, tetapi membela diri bukanlah alasan yang diterima.
Seorang pria yang tiba di Australia pada 1998 dengan visa pelajar, merupakan penduduk Australia ketika dia meninggal. Putranya yang berusia 24 tahun, kelahiran Australia, yang ditembak dan terluka, sedang dirawat di rumah sakit. Pihak berwenang tidak akan mengkonfirmasi dari negara mana dia bermigrasi.
Serangan Antisemit
Penembakan massal tersebut memicu pertanyaan tentang apakah pemerintah telah melakukan cukup banyak untuk mengekang meningkatnya antisemitisme. Para pemimpin Yahudi dan para penyintas serangan tersebut mengungkapkan rasa takut dan kemarahan saat mereka mempertanyakan mengapa para pelaku tidak terdeteksi sebelum mereka melepaskan tembakan.
“Ada banyak sekali kelalaian,” kata Lawrence Stand, seorang pria Sydney yang bergegas ke perayaan Bar Mitzvah di Bondi ketika kekerasan meletus untuk mencari putrinya yang berusia 12 tahun. “Tetapi orang-orang telah diperingatkan tentang hal ini. … Dan pemerintah kita masih belum melakukan cukup banyak.”
Korban dan Respons Masyarakat
Korban termasuk anak-anak dan orang tua. Tidak satu pun dari korban tewas atau terluka yang secara resmi disebutkan namanya oleh pihak berwenang. Identitas mereka yang tewas, yang berusia antara 10 hingga 87 tahun, mulai muncul dalam laporan berita pada Senin.
Di antara mereka adalah Rabbi Eli Schlanger, asisten rabbi di Chabad of Bondi dan penyelenggara acara Hanukkah keluarga yang menjadi sasaran. Kementerian Luar Negeri Israel mengkonfirmasi kematian seorang warga negara Israel, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan seorang warga negara Prancis, yang diidentifikasi sebagai Dan Elkayam, termasuk di antara mereka yang tewas.
Larisa Kleytman mengatakan kepada wartawan di luar Rumah Sakit St. Vincent bahwa suaminya, Alexander Kleytman, termasuk di antara yang tewas. Pasangan itu sama-sama selamat dari Holocaust, menurut surat kabar The Australian.
Respons Pemerintah dan Komunitas
Pada Senin, ratusan orang tiba di dekat lokasi kejadian untuk meletakkan bunga di tumpukan karangan bunga yang semakin besar. Ada juga kata-kata kebanggaan untuk seorang pria yang terekam dalam video tampak menaklukkan dan melucuti senjata seorang pria bersenjata, sebelum mengarahkan senjata pria itu kepadanya, lalu meletakkan senjata itu di tanah.
Pria itu diidentifikasi oleh Menteri Dalam Negeri Tony Burke sebagai Ahmed al Ahmed. Pemilik toko buah keturunan Suriah Muslim berusia 42 tahun itu ditembak di bahu dan kaki oleh penembak lainnya. Ia kini tengah menjalani operasi pertama dari serangakaian operasi akibat luka yang dideritanya.
Australia, negara dengan 28 juta penduduk, adalah rumah bagi sekitar 117.000 orang Yahudi, menurut angka resmi. Selama setahun terakhir, negara itu diguncang oleh serangan anti-Semit di Sydney dan Melbourne. Sinagoge dan mobil dibakar, bisnis dan rumah dicoret-coret, dan orang Yahudi diserang di kota-kota tersebut, tempat 85 persen populasi Yahudi negara itu tinggal.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Ahad bahwa dia telah memperingatkan para pemimpin Australia beberapa bulan yang lalu tentang bahaya kegagalan untuk mengambil tindakan terhadap anti-Semitisme. Dia mengklaim keputusan Australia, sejalan dengan puluhan negara lain, untuk mengakui negara Palestina “menambah bahan bakar pada api anti-Semit.”
Pada Senin, Albanese bersumpah bahwa kekerasan tersebut akan ditanggapi dengan “momen persatuan nasional di mana warga Australia secara keseluruhan akan merangkul sesama warga Australia yang beragama Yahudi.” “Tidak ada tempat di Australia untuk antisemitisme,” katanya.











