Perjalanan Dedy Wahyudi dalam Memimpin Kota Bengkulu
Satu tahun telah berlalu sejak Dedy Wahyudi resmi menjabat sebagai Wali Kota Bengkulu. Ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025, dan sejak saat itu, ia berupaya membangun kota yang dipimpinnya dengan penuh tanggung jawab. Dalam sebuah podcast yang diadakan di Studio Jalan Jati, Kelurahan Padang Jati, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu, Dedy menceritakan bagaimana proses perubahan dari posisi Wakil Wali Kota menjadi Wali Kota.
Dari Wakil ke Wali Kota, Tak Ada Lagi Alasan
Sebelumnya, Dedy Wahyudi menjabat sebagai Wakil Wali Kota Bengkulu, mendampingi Gubernur Bengkulu Helmi Hasan. Pada masa itu, ada alasan untuk tidak melakukan banyak perubahan karena keputusan tidak sepenuhnya ada di tangan dirinya. Namun, setelah dilantik, ia menyadari bahwa tidak ada lagi alasan untuk tidak bekerja keras.
“Ketika saya dilantik, saya langsung memetakan berbagai persoalan di kota ini. Karena sebelumnya saya juga merupakan bagian dari pemerintahan, Alhamdulillah proses adaptasi dengan aparatur dan para pejabat menjadi lebih mudah. Kedua, saya sudah mengetahui titik-titik mana saja yang harus dibenahi,” ujarnya.
Infrastruktur dan Perkembangan Kota yang Pesat
Setelah duduk di kursi Wali Kota, Dedy mengaku menemukan sejumlah masalah di Kota Bengkulu. Meskipun infrastruktur kota cukup baik, perkembangan kota yang pesat membuat infrastruktur lama mulai membutuhkan pembaruan. Ia mencontohkan program Seribu Jalan Mulus yang pernah dijalankan, namun kondisinya kini berbeda.
“Dulu ada program seribu jalan mulus, dengan capaian yang luar biasa, namun karena perkembangan kota sangat cepat, terutama pembangunan perumahan, kondisinya berbeda sekarang. Dalam satu tahun bisa muncul sekitar 2.000 unit perumahan. Jumlah itu tersebar di banyak titik satu lokasi bisa 100 rumah, lokasi lain 200 rumah. Perkembangan perumahan yang sangat cepat ini tentu memerlukan fasilitas, yaitu jalan,” jelas Dedy.
Jalan Perumahan Lama Jadi PR
Dedy mengaku sempat merenung tentang anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan jalan. Saat masih menjabat Wakil Wali Kota, anggaran tersebut dinilai kurang. Setelah dicek, ternyata banyak perumahan baru yang bermunculan.
Untuk perumahan yang benar-benar baru, Dedy meminta masyarakat bersabar. Namun, untuk perumahan yang dibangun pada tahun 2010 atau 2014 dan telah berusia lebih dari sepuluh tahun, jalannya mulai membutuhkan perbaikan.
“Saya sempat merenung itu, ‘Perasaan dulu kita sudah menganggarkan, tetapi kenapa masih kurang?’ Setelah dicek, ternyata banyak perumahan baru. Untuk perumahan yang benar-benar baru, kami minta bersabar. Namun perumahan yang dibangun pada tahun, misalnya 2010 atau 2014, tentu sudah lebih dari sepuluh tahun, sehingga jalannya mulai butuh perbaikan. Awalnya mungkin hanya pengerasan, tetapi ketika hujan mulai becek. Inilah PR saya,” kata Dedy.
Momentum Pergeseran Anggaran
Setelah dilantik, Dedy langsung melihat anggaran yang tersedia. Anggaran tersebut bukan disusun olehnya, melainkan masih merupakan produk pemerintahan sebelumnya. Ia bersyukur adanya kebijakan Presiden melalui Inpres Nomor 1 Tahun 2025. Kebijakan itu kemudian diturunkan lagi melalui surat dari Kementerian Dalam Negeri terkait pergeseran anggaran.
“Momentum tersebut dimanfaatkan untuk mengalokasikan anggaran ke sektor yang lebih mendesak. Program sebelumnya bukan berarti tidak penting, tetapi dapat ditunda,” tutup Dedy.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











