2 Desember 1992, Cekoslowakia terpecah menjadi dua negara: Ceko dan Slowakia. Peristiwa ini terjadi setelah Revolusi Beludru yang berjalan damai.
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
Intisari-Online.com –
Lebih cepat dari jadwal yang ditentukan, kini ada dua negara baru di Eropa Tengah. Ceko dan Slowakia. Sebuah antiklimaks dari kemenangan Revolusi Beludru.
Dunia Dalam Berita 2 Desember 1992 mewartakan pemisahan resmi Cekoslowakia menjadi dua negara merdeka. Negara Ceko dan Negara Slowakia. Ini lebih cepat satu bulan dari rencana semula.
Pemisahan negeri yang terletak di tengah Eropa dan berbatasan dengan Polandia di Utara, Jerman di Barat, Austria dan Hungaria di Selatan dan Rusia di Timur, sebelumnya dijadwalkan pada 1 Januari 1993.
Pemimpin nasionalis Slowakia, Vladimir Meciar, dan Perdana Menteri Cekoslowakia, Vaclav Klaus, pada 20 Juni 1992 mengumumkan kesepakatan mereka untuk memecah republik yang sudah berusia 74 tahun menjadi dua negara merdeka secara damai.
Perpecahan Cekoslowakia sebenarnya sudah banyak diramalkan pengamat dunia. Terutama setelah melihat hasil pemilu yang berlangsung 6 Juni 1992. Vaclav Klaus, yang waktu itu masih menjabat Menteri Keuangan, diangkat menjadi Perdana Menteri, berkat kemenangan partai yang dipimpinnya ODS (Partai Demokratik Sipil).
Saat menjabat menjadi Menteri Keuangan, Klaus memberlakukan kebijakan moneter yang radikal. Bagi warga etnis Ceko, yang terletak di bagian barat Cekoslowakia, kebijakan itu, walau terasa pahit, toh bisa menekan inflasi dan memacu sektor swasta. Tapi di bagian Timur, tempat bermukim suku bangsa Slowakia, kebijakan itu menyebabkan tingkat pengangguran naik menjadi 11,3 persen. Atau empat kali lebih tinggi ketimbang di Ceko.
Inilah yang menyebabkan Vladimir Meciar memimpin gerakan demokrasi masyarakat Slowakia.
Komposisi etnik
Komposisi etnik dan geografi Cekoslowakia memang “mendukung” perpecahan itu. Menurut data yang ada pada Grolier Academic Encyclopedia, penduduk Cekoslowakia terbagi di antara dua suku bangsa besar, Ceko (64,3 persen) dan Slowakia (30 persen).
Sedang sisanya diisi oleh suku bangsa Jerman (0,5 persen), Hungaria (4 persen), dan etnik lainnya; Polandia (0,5 persen), Ukrania (0,3 persen) dan Rusia (0,1 persen). Bahasa resmi yang digunakan juga dua jenis, Ceko dan Slowakia. Hanya saja karena kedua bahasa itu amat mirip, kedua suku bangsa itu bisa berkomunikasi dengan baik tanpa melalui penerjemahan.
Sejarah Cekoslowakia dapat dilacak sampai pada abad ke-6. Kawasan Cekoslowakia modern ini dulu diduduki oleh bangsa Slavia. Pemerintahan pertama yang terbentuk di wilayah ini adalah pemerintahan Ceko yang didirikan pada abad ke-7. Pemerintahannya dipimpin oleh Samo. Tapi negara ini runtuh setelah Samo wafat.
Nasib yang sama juga dialami oleh kekaisaran Morovia Agung, yang berdiri pada abad ke-9 dan membawahi kawasan Slowakia, Morovia, dan Bohemia. Kekaisaran ini terpecah belah pada abad ke-10 dan wilayah Slowakia menjadi bagian dari kerajaan Magyar, yang muncul kemudian.
Di Bohemia juga muncul kerajaan baru yang lebih kuat. Para penguasa kerajaan ini mampu mempertahankan kerajaan Bohemia sampai enam abad lebih. Bahkan salah satu rajanya, Charles IV, menjadi kaisar Romawi.
Kerajaan ini baru agak bergoyang ketika John Huss dan pengikutnya mengobarkan Perang Huss. John Huss membakar perasaan anti-Katolik dan anti-Jerman dalam perangnya itu.
Perang saudara itu menyebabkan munculnya berbagai pemberontakan di berbagai wilayah Bohemia. Tapi Raja Habsburg, yang memimpin Bohemia waktu itu, bisa meredam gejolak yang menggoyang kerajaannya.
Namun dia masih harus menghadapi tantangan baru. Yakni menahan gerakan Katolikisasi dan Jermanisasi. Bangsa Ceko dan Slowakia baru bisa bangkit dari tekanan bangsa Jerman pada abad 19.
Pada abad itu nasionalisme memang sedang merebak di seluruh daratan Eropa. Akhirnya setelah seribu tahun terpisah, bangsa Ceko dan Slowakia kembali bersatu di bawah satu negara, Cekoslowakia, yang memproklamirkan kemerdekaannya pada 1918.
Di bawah komunisme
Di bawah kepemimpinan Tomas G. Masaryk, yang memimpin gerakan pembebasan Cekoslowakia dari tempat pengasingannya dan juga menjadi presiden pertama negeri itu (1918 – 1935), Cekoslowakia tumbuh menjadi negara demokrasi.
Tapi pada September 1938 Adolf Hitler meminta Cekoslowakia menyerahkan kawasan Sudeten, yang didiami suku bangsa Jerman. Kalau tidak, Fuhrer mengancam akan mengirim tentaranya untuk merebut wilayah tersebut.
Walau Eduard Benes, presiden yang menggantikan Masaryk, sudah mengabulkan tuntutan itu, tentara Jerman tetap saja menyerbu Cekoslowakia. Bagian barat Cekoslowakia dimasukkan ke dalam wilayah negaranya, sedangkan Slowakia dijadikan negara boneka.
Setelah kekalahan Nazi Jerman, Cekoslowakia kembali didirikan pada 1945 dengan batas wilayah persis seperti sebelum 1938, kecuali propinsi Ruthenia, yang diambil oleh Uni Soviet. Benes, yang dipaksa turun oleh Nazi Jerman, kembali ke kursi kepresidenan.
Cuma kaum Komunis Cekoslowakia, yang memanfaatkan keberadaan tentara Soviet di negerinya, dan juga pengaruh kuat yang dimiliki oleh Soviet di Eropa bagian tengah dan timur, mampu mengambil posisi kunci.
Dan pada 1948, terjadi kudeta tak berdarah di Cekoslowakia. Benes digulingkan dan digantikan oleh Klement Gottwald, pemimpin partai komunis Cekoslowakia. Di bawah Klement Gottwald dan penerusnya Antonin Zapotocky dan Antonin Novotny, Cekoslowakia menjadi negara satelit Uni Soviet.
Tapi sejak 1968, petinggi-petinggi yang beraliran lebih liberal menduduki posisi penting dalam partai komunis Cekoslowakia. Pergeseran peta politik ini menyebabkan setengah juta pasukan Pakta Warsawa menyerbu Cekoslowakia, dengan dalih melenyapkan gerakan ‘kontra-revolusi’.
Dan Alexander Dubcek, sekretaris partai komunis Cekoslowakia, yang mempelopori liberalisasi dicopot dan digantikan oleh Gustav Husak, seorang tokoh komunis yang ortodok. Yang juga menjadi presiden pada 1975.
Sejak itu pertikaian antara kaum komunis dan pengusung demokrasi terus berlangsung. Pada 1977, ratusan intelektual Cekoslowakia menandatangani sebuah manifesto yang mengecam penindasan hak asasi manusia di Cekoslowakia.
Akhirnya demokrasi kembali berkuasa pada 1989, setelah Revolusi Beludru yang dimotori oleh Vaclav Havel berhasil menumbangkan kekuasaan komunis. Sayang sekali, kemenangan itu ternyata justru membuat Cekoslowakia menjadi terbelah dua.
Bagi orang luar, hal ini mungkin dipandang sebagai antiklimaks. Tapi bagi rakyat Ceko dan rakyat Slowakia, mungkin inilah jalan terbaik.
Sekilas Revolusi Beludru
Revolusi Beludru atau Revolusi Tenang menjadi bagian dari perpecahan yang terjadi Cekoslovakia. Revolusi Beludru adalah peristiwa transisi kekuasaan tanpa kekerasan yang terjadi di negara tersebut yang di kemudian menghasilkan negara Ceko dan Slowakia.
Peristiwa yang terjadi pada November hingga Desember 1989 ini bertujuan menentang sistem pemerintahan satu partai. Revolusi Beludru dipimpin oleh Vaclav Havel, yang ingin memperjuangkan sebuah negara yang demokratis.
Ketika itu Cekoslovakia adalah negara komunis. Masyarakatnya terdiri dari dua etnis, yaitu Ceko dan Slovakia, yang memiliki perbedaan pendapat terkait arah politik.
Slovakia memilih jalan desentralisasi atau pemisahan kekuasaan, sementara Ceko mengingingkan pemusatan kontrol pemerintahan yang berpusat di Praha. Pada akhirnya, upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik Cekoslowakia adalah dengan Revolusi Beludru.
Revolusi Beludru terjadi akibat ketidakpuasan masyarakat terhadap partai tunggal yang menguasai politik di Cekoslovakia sepenuhnya. Adapun partai tunggal yang berkuasa penuh di Cekoslovakia saat itu adalah Partai Komunis Cekoslovakia.
Partai Komunis Cekoslowakia mulai berkuasa sejak 25 Februari 1948, menyusul kemenangan Uni Soviet pada Perang Dunia II. Sepanjang pemerintahannya, Partai Komunis Cekoslowakia bersikap sangat keras terhadap lawan politiknya.
Perbedaan pendapat akan dengan mudah dicap sebagai musuh negara oleh Partai Komunis Cekoslowakia yang berkuasa penuh. Dalam perkembangannya, masyarakat menganggap Partai Komunis Cekoslowakia tidak bisa mengakomodasi kepentingan sosial Cekoslovakia.
Pasalnya, kehidupan Cekoslovakia tidak demokratis, keterbukaan sangat minim, hak menyampaikan pendapat pun dibungkam. Sedangkan pemerintah sangat berkuasa dalam segala hal, mulai dari pendidikan, informasi, militer, pers, ekonomi, hingga keamanan.
Seiring waktu, pemerintahan otoriter Cekoslovakia mengalami kendala dengan melemahnya ekonomi. Pada 1985, Uni Soviet, yang sedikit meluweskan pemerintahan, juga membuat Partai Komunis Cekoslowakia melonggarkan pemerintahannya.
Walau begitu, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Cekoslovakia masih dirasa kurang memuaskan bagi masyarakat. Melemahnya ekonomi dan tekanan dari masyarakat membuat pemerintah semakin bebal dan menangkapi berbagai aktivis demokrasi, salah satunya adalah Vaclav Havel.
Puncak Revolusi Beludru terjadi pada akhir 1989, di mana masyarakat Cekoslovakia turun ke jalan untuk menyerukan kebebasan dan menuntut dibebaskannya Vaclav Havel. Pada akhirnya, tuntutan untuk membebaskan Vaclav Havel dikabulkan berkat dukungan masyarakat yang semakin kuat.
Tapi perjuangan untuk menjadi negara yang bebas dan demokratis masih terus berlangsung. Mahasiswa menjadi salah satu elemen terdepan dalam gerakan revolusi ini.
Usaha tersebut mulai menemui hasil, ditandai dengan runtuhnya Pakta Warsawa yang beranggotakan negara Eropa Timur. Pakta Warsawa adalah aliansi militer negara-negara Blok Timur bentukan Uni Soviet pada masa Perang Dingin, yang bertujuan menandingi aliansi NATO.
Runtuhnya Pakta Warsawa pun berpengaruh besar terhadap politik dalam negeri Cekoslovakia, di mana Partai Komunis Cekoslowakia mulai meletakkan kekuasaan penuhnya. Selain itu, pemerintah juga menghapuskan segala pasal-pasal yang memberikan Partai Komunis Cekoslowakia kekuasaan tidak terbatas pada 30 November 1989.
Revolusi Beludru memiliki makna pemisahan diri dapat dilakukan secara damai tanpa melalui perang. Setelah pasal yang memberikan Partai Komunis Cekoslowakia kekuasaan tidak terbatas dihapus, untuk pertama kalinya Cekoslovakia mengadakan pemilihan umum (pemilu).
Pemilu ini mengantarkan Vaclav Havel menjadi Presiden Cekoslovakia pada Desember 1989. Namun, empat tahun setelah menjadi Presiden Cekoslovakia, Vaclav Havel harus melihat kenyataan pecahnya negara Cekoslovakia.
Revolusi Beludru mengakibatkan pecahnya Cekoslovakia menjadi dua negara, yaitu Ceko dan Slowakia, yang kemudian dikenal dengan sebutan Perpisahan Beludru. Selain itu, Revolusi Beludru mempengaruhi politik internasional, terutama bagi negara-negara Eropa Timur.
Salah satunya adalah runtuhnya Tembok Berlin yang memisahkan antara Jerman Barat dan Jerman Timur, yang kemudian berujung pada Reunifikasi Jerman.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











