Persoalan Wasiat dan Polemik Suksesi Keraton Surakarta
KGPH Hangabehi secara terbuka menyampaikan keraguan terhadap keabsahan surat wasiat mendiang Pakubuwono XIII yang disebut-sebut meminta Gusti Purbaya sebagai penerus takhta. Sikap ini muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai proses suksesi Keraton Kasunanan Surakarta, meskipun upacara Jumenengan PB XIV untuk Gusti Purbaya telah dilaksanakan pada hari Sabtu (15/11) pagi.
Hangabehi, yang juga dinobatkan sebagai PB XIV versi Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan Gusti Moeng, menolak tudingan dari GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani yang menyebut dirinya berkhianat kepada saudara-saudaranya karena menolak penobatan Gusti Purbaya. Ia menilai label tersebut tidak tepat, karena hingga kini ia belum pernah menerima penjelasan jelas tentang isi wasiat Pakubuwono XIII.
Menurutnya, tidak ada proses rembuk keluarga atau penyampaian resmi mengenai isi wasiat yang diklaim menjadi dasar penetapan Gusti Purbaya sebagai raja penerus. “Sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa isi wasiat Sinuhun PB XIII itu. Tidak ada kesepakatan, tidak ada ajakan rembuk,” ujar Hangabehi, dikutip dari Radar Solo (Jawa Pos Grup), Minggu (16/11).
Keheranan atas Penetapan Takhta
Hangabehi mengungkap adanya momen yang membuatnya heran, yaitu ketika jenazah PB XIII hendak diberangkatkan. Saat itu, ia mendadak mendengar adanya kepyakan atau penetapan tertentu yang sebelumnya tidak pernah dibahas dalam keluarga. Ketika menanyakan hal tersebut kepada GKR Timoer, ia hanya mendapat jawaban bahwa hal itu akan dibicarakan oleh “keluarga inti”.
Namun Hangabehi menilai istilah “keluarga inti” justru menimbulkan kebingungan. Ia menegaskan bahwa baik dirinya maupun adik kandungnya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan apa pun mengenai wasiat ataupun suksesi. “Saya tidak tahu keluarga inti yang dimaksud siapa saja. Saya dan adik kandung saya justru tidak pernah diajak rembuk,” ujarnya.
Bantah Ada Kesepakatan dengan Pejabat Negara
Hangabehi juga membantah anggapan bahwa pertemuan keluarga dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, dan Wali Kota Solo Respati Ardi telah menghasilkan keputusan tentang penerus takhta. Ia menyebut pertemuan tersebut murni membahas bantuan teknis untuk kelancaran prosesi adat dan pemakaman PB XIII ke Imogiri.
“Itu bukan rapat keluarga dan tidak ada kesepakatan apa pun tentang suksesi. Pemerintah hanya menanyakan apa yang dibutuhkan untuk prosesi adat dan pemakaman,” jelasnya.
Upacara Jumenengan Berlangsung Khidmat
Di sisi lain, prosesi Jumenengan PB XIV untuk Gusti Purbaya tetap berlangsung khidmat di Keraton Surakarta pada hari Sabtu pagi. Upacara pengambilan sumpah digelar tertutup, dihadiri sentana dalem serta jajaran pejabat adat.
GKR Timoer sebagai juru bicara keraton menyebut penobatan ini menandai babak baru bagi Keraton Surakarta. Menurutnya, sabda dalem di Watu Gilang bukan hanya ikrar kepemimpinan, tetapi simbol pemulihan martabat keraton.
“Era SISKS Pakubuwono XIV resmi dimulai. Era yang diharapkan membawa keraton menuju kejayaan baru,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa di tengah modernisasi, paugeran dan adat tetap menjadi pijakan utama Keraton Surakarta dalam menjaga warisan budaya Mataram.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











