Peran Dokter Tifa dalam Mengungkap Penyebab Banjir Sumatera
Dokter Tifa, yang akrab dengan panggilan Tifauzia Tyassuma, menyampaikan pandangan kritis terkait penyebab banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Ia menilai bencana tersebut bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan akumulasi dari kerusakan lingkungan yang berlangsung selama satu dekade terakhir.
Dalam sebuah renungan yang diunggahnya lewat akun media sosial @DokterTifa pada Senin (1/12/2025), Dokter Tifa menjelaskan bahwa bencana alam tidak dapat dilihat hanya sebagai cuaca ekstrem. Menurutnya, banjir adalah dampak dari kebijakan pemerintah yang mengabaikan keseimbangan ekologis.
Bencana Sebagai Hasil dari Kebijakan Rezim 10 Tahun
Ia membandingkan kondisi lingkungan di Sumatera seperti tubuh yang mengalami pembengkakan dan kerusakan organ akibat beban yang dipaksakan tanpa pemulihan. “Sebagai dokter, aku memandang Sumatera hari ini seperti pasien yang tubuhnya membiru dan membengkak, karena dipaksa menanggung beban bertahun-tahun,” tulis Dokter Tifa.
Menurutnya, banjir yang terjadi adalah “Edema Ekologis”, yaitu pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun, yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah. Ia menilai bahwa banjir bukanlah musibah semesta, melainkan hasil dari kerakusan yang merajalela.
Kerusakan Lingkungan Akibat Pembangunan Tanpa Pertimbangan
Dokter Tifa juga menyoroti kebijakan pembangunan pemerintahan Era Presiden Joko Widodo yang dinilai mengabaikan keseimbangan lingkungan. Selama sepuluh tahun, ia menilai bahwa pemerintah lebih fokus pada investasi dan pembangunan tanpa mempertimbangkan dampak buruk terhadap lingkungan.
“Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan ‘masa depan Indonesia’. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya: ‘Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?'” tanyanya.
Sumatera, menurutnya, kini menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan. Pengkhianatan yang terjadi ketika hutan dibuka demi konglomerat, sungai disempitkan demi proyek cepat jadi, tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga, perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS, dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik mengatasnamakan ‘pembangunan’.
Masyarakat Menanggung Dampak Kebijakan yang Salah
Dokter Tifa menilai masyarakat kini menanggung dampak dari rangkaian kebijakan yang membuka ruang bagi eksploitasi lingkungan. Banjir yang terjadi di Sumatera sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan.
Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor, bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati. “Aku tidak pernah melihat banjir semasif ini tanpa melihat sekaligus peta kebijakan rezim sebelumnya,” imbuhnya.
Dari peta itu, Dokter Tifa melihat satu hal, yakni rezim Jokowi mengizinkan bumi dirusak sampai tak mampu lagi menolak. Akibatnya, masyarakat sekarang harus membayar harga mahal, dari rumah hilang, ladang hanyut, penduduk mengungsi, nyawa melayang.
Harapan untuk Solusi Cepat dan Pemulihan Lingkungan
Ia berharap pemerintah pusat mengambil langkah cepat untuk memulihkan kondisi lingkungan dan memperkuat mitigasi bencana di wilayah-wilayah rawan. Ia juga menyampaikan doa agar Presiden RI, Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian dan solusi bagi warga yang terdampak banjir di Sumatera.
“Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama. Dan kita-rakyat-dipaksa menjadi saksi. Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri,” ungkap Dokter Tifa.
Ia kembali menegaskan, sejarah mencatat bencana yang terjadi di Sumatera bukan sekadar bencana. Bencana alam itu dinilainya sebagai vonis alam terhadap rezim yang telah menggali lubang bagi rakyatnya sendiri.











