Perbincangan 12 Tahun Lalu antara Harrison Ford dan Zulkifli Hasan Kembali Viral
Sebuah video yang menampilkan percakapan antara aktor Hollywood, Harrison Ford, dengan mantan Menteri Kehutanan Indonesia, Zulkifli Hasan, kembali menjadi perhatian publik. Percakapan yang terjadi pada tahun 2013 itu kembali mencuat setelah bencana alam melanda Sumatera, khususnya di kawasan Tesso Nilo.
Video tersebut merupakan bagian dari serial dokumenter “Years of Living Dangerously” yang dibuat oleh Ford. Dalam tayangan tersebut, ia mengunjungi Taman Nasional Tesso Nilo di Riau dan menyaksikan langsung kerusakan hutan yang telah berubah menjadi kebun sawit. Ford kemudian bertemu dengan Zulkifli Hasan untuk membicarakan isu lingkungan.
Isi Percakapan yang Menggemparkan
Ford awalnya mengucapkan terima kasih kepada Zulkifli Hasan atas waktu yang diberikan. Ia menyampaikan bahwa dalam 15 tahun terakhir, sekitar 80 persen hutan Indonesia telah dieksploitasi secara komersial. Ford juga menyebut adanya hubungan kuat antara bisnis dan politik di negara ini.
Zulkifli Hasan menjawab bahwa Indonesia baru saja memasuki era demokrasi dan yakin bahwa akan ada keseimbangan jangka panjang. Ford lalu bertanya tentang proyek pelestarian hutan di dataran tinggi yang masih menunggu persetujuan. Zulkifli Hasan mengatakan bahwa hanya sebagian kecil dari lahan yang disetujui, sekitar 100 ribu hektar.
Ford kemudian menyinggung kondisi Tesso Nilo, yang kini hanya tersisa 18 persen. Ia menyebutkan adanya jalan-jalan ilegal, penebangan hutan, dan kebakaran yang merusak kawasan tersebut. Zulkifli Hasan mengaku bahwa mereka terus berupaya menyelesaikan masalah, tetapi situasi berbeda dari Amerika Serikat.
Ford menegaskan bahwa banyak waktu telah dilewatkan untuk menghentikan aktivitas tersebut. Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa Indonesia sedang dalam proses reformasi dan kadang-kadang menghadapi surplus demokrasi. Ford akhirnya menyimpulkan bahwa di dasar tumpukan kekayaan tersebut ada kejahatan, pelanggaran hukum, dan korupsi.
Video Kembali Viral
Video percakapan ini kembali viral di media sosial, khususnya di akun YouTube The Years Project. Kolom komentar di akun tersebut ramai dengan respons warganet. Banyak yang menyebut bahwa isu kerusakan hutan yang diungkapkan Ford sudah terjadi 12 tahun lalu, tetapi sampai tahun 2025 masih terjadi.
Pada 28 Oktober 2014, Taman Nasional Tesso Nilo resmi diukuhkan seluas 81.793 hektare. Namun, sebelum 2014, luas hutan tersebut telah mengalami pengurangan. Tangkapan satelit melalui Google Earth menunjukkan bahwa pada 2009, kawasan masih hijau, tetapi mulai 2012, beberapa wilayah berwarna coklat. Pada 2014, hampir separuh kawasan berwarna cokelat.
Kayu Gelondongan Jadi Sorotan
Kayu gelondongan mendadak menjadi sorotan saat banjir melanda Sumatera. Video yang menampilkan aliran air cokelat pekat di Sungai Batang Toru membawa kayu-kayu gelondongan berbagai ukuran. Kayu-kayu tersebut diduga hasil pembukaan lahan ilegal.
Organisasi lingkungan seperti WALHI menyoroti bahwa kayu-kayu tersebut diduga berasal dari illegal logging dan aktivitas perusahaan di kawasan hutan Batang Toru. Praktik ini meninggalkan sisa tebangan yang terseret banjir, memperparah dampak bencana.
Desakan DPR dan Respons Menteri Kehutanan
Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mendesak pemerintah membentuk tim investigasi untuk mengungkap asal-usul kayu-kayu tersebut. Ia menilai perlu dilakukan evaluasi menyeluruh untuk memastikan apakah ada unsur pidana di balik bencana ini.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa bencana banjir dan longsor menjadi peringatan keras atas kekeliruan dalam pengelolaan lingkungan. Ia menyatakan komitmen untuk meninjau ulang sejumlah program dan izin yang terkait dengan pemanfaatan kawasan hutan.
Kondisi Terkini di Sumatera
Sumatera kini dilanda banjir bandang dan longsor besar sejak akhir November 2025. BNPB melaporkan lebih dari 174 orang meninggal, 79 hilang, dan ratusan luka-luka. Wilayah terdampak mencakup Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pengungsian massal terjadi karena jembatan putus dan akses jalan terputus.
Faktor penyebab bencana meliputi curah hujan ekstrem, kerusakan hutan, serta topografi rawan longsor. Dampak sosial dan ekonomi sangat signifikan, termasuk kerusakan infrastruktur dan gangguan perdagangan.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."









