"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

DPRD Bali Tanggapi Penutupan TPA Suwung, Denpasar Butuh 345.833 Kios Modern

Penutupan TPA Suwung dan Solusi Pengelolaan Sampah di Bali

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali telah memutuskan untuk menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung pada 23 Desember 2025. Keputusan ini bertujuan untuk mengolah sampah organik dan non-organik secara lebih efisien. Namun, penutupan ini menimbulkan kekhawatiran terhadap tumpukan sampah di pinggir jalan, khususnya di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung.

Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, menyampaikan bahwa akan diadakan rapat koordinasi (Rakor) antara Bupati/Wali Kota se-Bali dengan Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Rakor ini dilakukan untuk membahas solusi pengelolaan sampah setelah TPA Suwung ditutup. Menurut Dewa Jack, pihaknya akan mengusulkan pembukaan kembali TPA Suwung jika terjadi permasalahan.

Dalam surat dari Kementerian LH, disebutkan bahwa ada solusi terbaik untuk mempertimbangkan berbagai aspek regulasi kebijakan, kondisi lapangan, kapasitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) serta teba modern. Selain itu, rakor juga dilakukan karena penutupan TPA Suwung akan dilakukan saat musim tinggi, ketika banyak wisatawan berkunjung ke Bali. Hal ini diperparah oleh musim hujan yang sudah mulai terjadi.

Selain itu, rencana pembukaan kembali TPST yang sempat mangkrak dan pengadaan Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Benoa juga sedang dipertimbangkan.

Pengelolaan Sampah di Kota Denpasar

Untuk optimalisasi pengelolaan sampah organik, Kota Denpasar membutuhkan ratusan ribu teba modern atau tabung komposter. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, dibutuhkan sebanyak 345.833 teba modern atau tabung komposter. Saat ini, di Denpasar sudah dibangun 5.940 teba modern dan 12.185 tabung komposter.

Sebaran teba modern dan tabung komposter adalah sebagai berikut:
* Denpasar Utara: 1.524 teba modern dan 2.644 komposter.
* Denpasar Timur: 1.094 teba modern dan 1.300 komposter.
* Denpasar Selatan: 995 teba modern dan 1.850 komposter.
* Denpasar Barat: 1.600 teba modern dan 6.155 komposter.
* Di perangkat daerah: 727 teba modern dan 236 komposter.

Tahun 2026, Denpasar akan menambahkan 1.911 teba modern dan 2.013 teba modern.

Selain itu, di Denpasar juga terdapat 24 TPS3R dengan jumlah sampah yang terolah sebesar 71,5 ton per hari. Sedangkan timbulan sampah mencapai 551,6 ton dan yang masuk TPS3R sebesar 171,38 ton.

DLHK Denpasar juga memanfaatkan Pusat Daur Ulang (PDU) dan 338 bank sampah. Dengan memanfaatkan TPS3R, PDU, bank sampah, dan teba modern, Denpasar mampu mengolah 224 ton sampah per hari. Sisanya sebanyak 782,26 ton per hari dibawa ke TPA Suwung.

Persiapan Menjelang Penutupan TPA Suwung

Menjelang penutupan TPA Suwung, Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengumpulkan perbekel dan lurah se-Denpasar. Rapat ini digelar di Gedung Sewakadharma Lumintang, Senin 15 Desember 2025. Selain itu, pengelola TPS3R juga dihadirkan untuk mengetahui pola maksimal serta kendalanya.

Dari hasil rapat tersebut, terungkap bahwa tenaga kerja menjadi penyebab kurang maksimalnya operasional TPS3R. Bahkan ada TPS3R dalam sehari hanya mampu mengolah 1 ton, padahal timbulan sampah di wilayah tersebut mencapai 49 ton.

Perbekel Pemecutan Kaka, Anak Agung Ngurah Arwatha, menjelaskan bahwa pengolahan sampah di TPS3R Sari Sedana Bung Tomo hanya mengandalkan dua petugas. Dalam sehari, wilayahnya menghasilkan 49,38 ton timbulan sampah, namun hanya 1,6 ton yang bisa diolah di TPS3R. Sisanya dibuang ke TPA Suwung.

Gianyar Bakal Miliki TPST

Kabupaten Gianyar akan memiliki Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Sebelumnya, Gianyar rencananya dibuatkan TPST oleh Bank Dunia, tetapi rencana tersebut gagal tender. Kini, Kementerian Pekerjaan Umum menilai Gianyar sukses dalam pengelolaan sampah, sehingga TPST direalisasikan dengan biaya APBN.

Berdasarkan data DLH Gianyar, volume sampah yang dibuang ke TPA Temesi mengalami penurunan signifikan, dari 450 ton per hari menjadi 228 ton per hari. TPST ini akan dibangun di atas lahan seluas 1,2 hektare dengan lokasi di kawasan TPA Temesi. Teknologi yang akan diterapkan meliputi komposting, Refuse-Derived Fuel (RDF), dan Solid Recovered Fuel (SRF).

Sampah organik akan dipilah dan dijual kembali. RDF dan SRF sedang menjajaki dengan pengepul, salah satunya perusahaan semen. TPST ini diharapkan beroperasi pada 2027. Selama proses pembangunan, TPA Temesi yang saat ini masih berstatus lahan sewa akan tetap beroperasi. Pengelola TPST akan dilakukan oleh DLH Gianyar melalui BLUD.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *