Kepemimpinan Gubernur Maluku yang Berbasis Kolaborasi
Gubernur Maluku, Hendrik Izaac Lewerissa, mengakui bahwa pembangunan tidak mungkin dilakukan sendiri. Dalam wawancara dengan sejumlah media, ia menekankan pentingnya kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media massa. Menurutnya, media merupakan salah satu elemen kunci dalam membangun kesadaran dan partisipasi publik terhadap berbagai isu dan program pemerintah.
Sebagai Gubernur ke-14 Maluku, Hendrik Izaac Lewerissa adalah gubernur kedua yang berasal dari latar belakang praktisi hukum. Sebelumnya, Johannes Latuharhary pernah menjabat sebagai gubernur pertama pada tahun 1950-1955. Hendrik sendiri telah menjalani tugasnya selama 302 hari sejak dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto bersama 961 kepala daerah lainnya di Jakarta pada 20 Februari 2025.
Latar Belakang dan Visi Pemimpin Baru
Lewerissa, yang lahir pada tahun 1968, merupakan alumnus Temple University di Amerika Serikat. Selain itu, ia juga memiliki latar belakang sebagai pengacara dan anggota DPR-RI. Dalam wawancara tersebut, ia menyampaikan bahwa generasi barunya telah mengalami berbagai era pendidikan, mulai dari Orde Lama, Orde Baru, Reformasi hingga era digital.
“Kami generasi baru yang merasakan perubahan-perubahan ini dan berbeda dari gubernur-gubernur sebelumnya,” ujarnya saat menerima kunjungan media di kantor gubernur Ambon.
Dalam diskusi tersebut, ia membahas beberapa pencapaian dan tantangan yang dihadapi selama masa jabatannya. Ia juga menyampaikan harapan agar media dapat menjadi mitra dalam menyampaikan informasi tentang capaian pemerintah.
Peran Media dalam Pembangunan
Hendrik menegaskan bahwa ia tidak anti-kritik. Sebagai mantan aktivis kampus, pemegang beasiswa luar negeri, dan pengacara profesional, ia sangat memahami pentingnya logika dan kritik sebagai mata uang berharga. Ia bahkan menyatakan bahwa ia akan merangkul semua media, baik yang mendukung maupun yang kritis.
Ia juga berharap agar media seperti Tribun dan Kompas dapat menjadi “public encourage”, yaitu pendorong aspirasi publik. “Beritakan juga sosok-sosok lokal seperti pemuda yang mendorong gerakan anti stunting atau aktivis lingkungan,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan Masa Depan
Salah satu isu yang disampaikan oleh Hendrik adalah peristiwa tanah longsor di Maluku Tengah. Ia menekankan bahwa bukan semua urusan publik harus dibebankan kepada pemerintah. Media juga harus mendorong masyarakat untuk saling membantu, gotong royong, dan mandiri.
“Saya lihat foto longsor di M, itu sebenarnya bisa dikerjakan oleh pemuda di sana. Kalau kirim peralatan ke sana makan waktu dan biaya lagi,” jelasnya.
Selain itu, masalah transfer keuangan daerah (TKD) pusat ke daerah juga menjadi perhatian khusus bagi pemerintah provinsi. Menurut Hendrik, fiskal Maluku masih sangat bergantung pada TKD pusat. Perubahan kecil saja dapat berdampak besar bagi daerah.
“Makanya, tahun ini kami akan realisasikan pinjaman dari SMI (sarana Multi Infrastruktur) Kemenkeu,” ujarnya.
Komitmen untuk Masa Depan
Dalam kesempatan ini, Hendrik juga menyampaikan permintaan maaf karena baru tahu bahwa TribunAmbon adalah bagian dari corporate associated Kompas Gramedia. Ia menegaskan bahwa ia tidak akan ragu-ragu untuk bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk media.
Pada akhir wawancara, ia menegaskan komitmennya untuk memimpin Maluku selama empat tahun ke depan. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk media dan masyarakat, ia optimistis bahwa Maluku akan semakin berkembang dan maju.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











