Pada masa pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto, terjadi perubahan besar dalam sejarah Indonesia. Pergeseran ini menandai berakhirnya Orde Lama dan dimulainya Orde Baru. Saat Soeharto mulai berkuasa, Sukarno tidak lagi memiliki pengaruh yang sama di Istana Negara. Peristiwa G30S pada tahun 1965 menjadi tanda awal lengsernya kekuasaan Sukarno.
Setelah itu, era pemerintahan Soeharto dimulai dan mencapai puncaknya beberapa tahun kemudian. Meski begitu, hubungan antara Soekarno dan Soeharto tetap ada. Pada akhir masa pemerintahannya, Soeharto akhirnya lengser dan meninggalkan jabatan presiden.
Ada sebuah peristiwa tak terlupakan yang terjadi saat Soekarno harus meninggalkan Istana Negara. Menurut buku Selangkah Lebih Dekat dengan Soekarno karya Adji Nugroho, yang diterbitkan pada tahun 2017, Soekarno dipaksa untuk pergi dari Istana. Saat meninggalkan tempat tersebut, ia membawa beberapa barang berharga seperti kemeja favorit dan jam tangan Rolex. Namun, ada satu benda yang sangat berarti baginya.
Benda tersebut adalah Bendera Pusaka Merah Putih. Bung Karno membawanya dengan hati-hati dan membungkusnya hanya dengan kertas koran. Menurut Adji Nugroho, benda ini merupakan simbol dari perjuangan 1001 kisah Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Dalam buku lain, yaitu Berkibarlah Benderaku-Tradisi Pengibaran Bendera Pusaka karya Bondan Winarno, disebutkan bahwa Soekarno menyembunyikan Bendera Pusaka saat ia lengser sebagai presiden pada Maret 1967. Petugas istana negara sempat kaget karena tidak bisa menemukan bendera tersebut. Padahal, rencananya bendera ini akan dikibarkan dalam upacara peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1967.
Istana kemudian membentuk delegasi untuk menemui Soekarno di Istana Bogor. Menurut Bondan Winarno, Bendera Pusaka itu dijahit oleh Ibu Fatmawati dan merupakan milik pribadi Soekarno. Hal ini membuat kepemilikan benda bersejarah tersebut menjadi masalah kecil. Awalnya, Soekarno ragu dan menolak memberi tahu keberadaannya. Namun, ia kemudian sadar bahwa Bendera Pusaka itu bukan milik pribadi, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia.
Soekarno lalu meminta delegasi untuk kembali menemuinya pada 16 Agustus 1967. Ketika mereka kembali, Soekarno mengajak delegasi ke Monumen Nasional (Monas). Ternyata, Bendera Pusaka disimpan di ruangan bawah tanah di kaki Monas.
Setelah bendera diserahkan ke Istana, Presiden Soeharto awalnya tidak percaya bahwa bendera tersebut benar-benar Bendera Pusaka. Untuk memastikan keasliannya, Soeharto memanggil mantan ajudan Presiden Soekarno, Husain Mutahar. Mutahar adalah orang yang menjaga Bendera Pusaka saat Bung Karno dan Bung Hatta ditawan Belanda pada Agresi Militer Belanda ke dua. Saat itu, Mutahar membuka jahitan bendera dan memisahkan warna merah dan putih agar tidak disita Belanda. Setelah agresi selesai, bendera dijahit kembali dan diserahkan kepada Soekarno.
Karena tahu betul tentang Bendera Pusaka, Mutahar mengonfirmasi bahwa bendera yang disimpan Soekarno di Monas adalah asli.
Peristiwa ini juga menjadi salah satu tanda-tanda akhir kekuasaan Soekarno. Ada informasi bahwa Soeharto memberikan tiga opsi kepada salah satu istri Bung Karno, Ratna Sari Dewi. Hal ini berawal dari perintah Soeharto kepada Mayjen Soeharto untuk mengambil tindakan setelah peristiwa G30S. Dilansir dalam buku Jenderal Yoga : Loyalis di Balik Layar, Soeharto memerintahkan Brigjen TNI Yoga Sugomo dan Martono untuk merancang pertemuan rahasia dengan Ratna Sari Dewi. Tujuan pertemuan ini adalah untuk mengumpulkan informasi terkait aktivitas Soekarno sebelum peristiwa G30S terjadi. Soeharto menganggap semua orang dekat dengan Bung Karno harus diinterogasi.
Pertemuan direncanakan dilakukan pada 20 Maret 1966 di lapangan golf Rawamangun, Jakarta Timur. Menurut Yoga dalam bukunya, mengatur pertemuan ini tidak mudah karena Ratna Sari Dewi adalah istri presiden. Oleh karena itu, pertemuan diusulkan dilakukan secara tidak resmi. Rencananya, Soeharto akan bertemu dengan Dewi di lapangan golf.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











