Pengalaman Traveling di Baku, Azerbaijan
Mengamati sambil traveling adalah hobiku. Bukan hanya sekedar foto-foto, membuat video, tertawa, atau belanja saja, tetapi lebih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lebih positif. Ketika kembali dari perjalanan, aku tidak hanya mendapatkan oleh-oleh dan belanjaan yang nilainya tidak seberapa, tetapi juga bahan-bahan yang bisa aku eksplorasi tentang apa yang aku lihat, alami, dan jalani. Aku bisa bercerita lebih daripada banyak cerita di media sosial tentang apa yang ada di negara-negara yang aku kunjungi.
Begitu juga ketika aku traveling bersenang-senang dan bersama untuk mengeksplorasi pengamatanku bagaimana aku bisa mengakses berbagai tempat, walau memang banyak kendala dengan kursi rodaku. Sewaktu aku blusukan ke permukiman-permukiman di Baku, ibukota Azerbaijan, setelah aku traveling dari Armenia dan Georgia, aku benar-benar mendapatkan bahan-bahan tulisan yang memang aku inginkan. Bagaimana aku berjuang dengan Zoyir, blusukan, dan tidak mudah untuk naik turun permukiman serta permukaan jalan yang berbatu dan sangat sulit medannya untuk kursi rodaku.
Aku pun banyak bertanya kepada Zoyir, karena sedikit banyak dia tahu dan merasakan kehidupan di era Soviet, walau tidak lama. Aku banyak bertanya tentang kehidupan masa kecilnya serta bagaimana Zoyir survive untuk menjadi seseorang yang aku kenal sekarang. Dari situ aku bisa membayangkan, setidaknya ada seorang saksi mata dan dia pun memang warga Asia Tengah, yang sama dengan 15 negara-negara yang baru Merdeka dari Soviet di tahun 1991.
Kehidupan yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan, aku bisa mendatangi permukiman-permukiman yang jauh dari ekspektasiku! Dan, dari situlah aku benar-benar tertarik untuk lebih mempelajari, bagaimana mereka survive, bagaimana mereka berjuang untuk hidup yang lebih baik atau bagaimana ternyata mereka memang sudah “mager” dengan kehidupan lama mereka, walau sekarang ini, tempat tinggal mereka tidak layak lagi untuk ditinggali.
Ketika aku masuk ke tulisan-tulisan ku tentang permukiman di Baku Azerbaijan dan “menemukan” beberapa permasalahan yang berhubungan dengan konsep Khrushchevka yang katanya tidak layak lagi dihuni, tetapi sebagian lagi berkata, mereka tetap tidak mau pindah walau diminta pemerintah untuk pindah, karena mereka sudah mager dan kerasan serta sudah terbiasa!
Apapun permasalahan tentang permukiman di Baku Azerbaijan, aku tidak mau lebih dalam lagi, karena itu bukan urusanku sebagai seseorang yang hanya sekedar “lewat” dan sedikit mempelajarinya. Tetapi yang aku mau katakan, secara pandangan luas tentang kota Baku, aku hanya bilang, “Baku jauh lebih baik dari Jakarta secara fisik perkotaannya dan hampir 100% akses untuk keliling kota Baku, dengan berbagai cara dan perjuanganku di atas kursi roda.”
Jadi, aku hanya mau menuliskan sebuah kota Baku yang cantik, indah, serta super modern yang bersama terbangun dalam kota yang super modern dan kota lama yang heritage, serta aksesibilitasnya yang asik.
Budaya dan Wisata Kota Baku
Karena Azerbaijan sebenarnya berada di antara Eropa dan Asia Tengah, sebagian dari dua benua yang berbeda, akhirnya Baku memadukan Timur dan Barat dengan menarik dan di beberapa area, sangat indah. Kota Tua atau Old City of Baku adalah Situs Warisan Dunia UNESCO, dan kawasan pusat kota modern memiliki jalan-jalan yang dipenuhi pepohonan dan pusat perbelanjaan eksklusif.
Jalan-jalan santai dimana aku dengan kursi rodaku tetap bisa berselancar di atas jalur sepeda adalah bagian menyenangkan dari kehidupan di Baku, terutama di Plaza Air Mancur yang rindang (juga pusat kehidupan malam kota), dan kawasan tepi Caspia Lake yang memiliki banyak cafe serta pusat perbelanjaan.
Pecinta sejarah akan menikmati Shirvanshah Palace, sebuah kastil batu pasir abad pertengahan, sementara Menara Perawan adalah struktur batu setinggi 29 m yang mungkin berusia ribuan tahun (berasal dari abad ke-12).
Tepat di dekat Plaza Air Mancur terdapat Museum Sastra Nizami, sebuah penghormatan kepada para penyair Azerbaijan. Museum Carpet di pesisir Caspia Lake juga populer, menyimpan karpet langka, kuno, dan indah.
Catatan:
Semua detail ini akan kutuliskan di setiap titik lebih detail, segera. Aku hanya ingin menuliskan betapa Baku sebagai ibukota Azerbaijan, sudah mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi warganya serta wisatawan-wisatawan dunia yang datang ke Baku.
Pelayanan Kesehatan di Baku
Banyak referensi yang mengatakan tentang kualitas Kesehatan Azerbaijan di atas rata-rata dunia walau tetap masih belum cukup jika dibandingkan dengan beberapa negara yang sudah bersertifikasi tentang standar pelayanan kesehatannya. Azerbaijan memiliki sistem perawatan kesehatan publik yang komprehensif, tetapi bagi ekspatriat yang tinggal di Baku.
Standar fasilitas publik bahkan di ibukota masih belum berkualitas tinggi, tetapi perawatan yang diterima di fasilitas swasta lebih baik dan terdapat persentase staf berbahasa Inggris yang lebih tinggi. Fasilitas swasta dilisensikan oleh Kementerian Kesehatan tetapi beroperasi secara independen. Kualitas perawatan kesehatan di Baku jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain.
Rumah sakit utama adalah Rumah Sakit Internasional Caspian. Rumah sakit utama di Baku yang selalu menjadi rujukan beberapa rumah sakit di Azerbaijan.
Transportasi di Baku
Bagaimana dengan transportasi, terutama tentang transportasi umum di kota Baku? Baku memiliki jaringan transportasi umum yang luas, termasuk bus, trem, dan bus listrik, yang sangat murah. Namun, transportasi umum tidak selalu dapat diandalkan atau berstandar tinggi.
Karena, walau aku belum sempat mencoba traveling dengan transportasi umum di Baku, tetapi aku belum melihat tanda logo “kursi roda” yang menjadi tanda bahwa transportasi itu layak dan akses untuk kursi roda. Pilihan yang paling efisien adalah metro bawah tanah kota, yang merupakan pilihan transportasi umum paling populer bagi warga asing. Metro ini relatif bersih dan aman, dan karena dirancang dengan kemegahan era Soviet, pemandangannya sendiri layak untuk dilihat. Walau kriterianya bukan sekedar indah saja, tetapi bagaimana metro bisa akses untuk kursi roda.
Aku memang lebih memilih berselancar di atas kursi roda ditemani oleh Zoyir sebagai “malaikat pelindungku”, karena aku bisa menikmati permukaan-permukaan jalan serta detail-detail apa yang bisa menjadi contoh atau sebaliknya, sepanjang perjalanananku di pedestrian atau jalur sepeda kota Baku.
Kondisi jalan di Azerbaijan, bahkan di ibu kota, belum cukup baik. Aku traveling dari ujung kota sana dan kembali dari ujung kota sini, memang ada beberapa kondisi jalan maupun pedestrian, yang tidak akses. Tetapi, jalur sepeda lah yang membuat aku nyaman untuk tidak naik turun dari dan ke atas pedestrian yang bisa berbeda tinggi sampai 20 cm!
Hal ini dapat membuat mengemudi berbahaya dan parkir sulit. Pengemudi di Baku juga tidak menentu dan cenderung tidak mematuhi peraturan lalu lintas.
Kesemuanya itu menurutku adalah masalah-masalah yang wajar dari semua negara, terutama dari negara-negara muda seperti Azerbaijan. Membangun negara dan ibukota sampai sekarang sejak tahun 1991, dari perhitungan kehidupan sebuah negara, itu belum lama. Tetapi, Azerbaijan mampu membangun dengan keadaan yang sudah sangat baik, menurut kacamataku sebagai seorang arsitek dan city planner.
Jadi untukku, masalah-masalah apapun yang dihadapi oleh Azerbaijan, itu akan terselip ketika Azerbaijan semakin lama bertumbuh menjadi salah satu negara muda, yang akan lebih baik lagi. Sabar dan tunggu saja, apa yang terjadi di Azerbaijan terutama ibukota Baku untuk 5 atau 10 tahun ke depan.
What next?
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











