"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Konflik Kekuasaan di Yaman Selatan Tutup Bandara Aden

Bandara Aden Berhenti Total, Kenaikan Ketegangan Antara STC dan Pemerintah Yaman

Penerbangan di Bandara Internasional Aden, Yaman, berhenti sepenuhnya pada Kamis (1/1/2026). Hal ini terjadi akibat meningkatnya ketegangan antara Dewan Transisi Selatan (STC) dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi serta diakui oleh komunitas internasional. Pada hari itu, seluruh penerbangan dari dan menuju Aden dibekukan tanpa pengecualian. Akibatnya, banyak penumpang tertahan di dalam terminal sambil menanti kepastian jadwal keberangkatan berikutnya.

Bandara Aden sebelumnya menjadi gerbang utama bagi wilayah Yaman yang berada di luar kendali kelompok Houthi. Salah satu penumpang yang terdampak adalah Awadh al-Subaihi, yang sedianya akan berangkat ke Kairo untuk menjalani perawatan medis. Ia mengatakan bahwa mereka sedang menderita, dan banyak pasien serta orang lanjut usia lainnya di sini sedang menunggu dalam situasi yang sulit.

Kementerian Perhubungan STC dan Sengketa Aturan Penerbangan

Kementerian Perhubungan yang berada di bawah pengaruh STC menuding Arab Saudi sebagai pihak yang memicu penghentian penerbangan melalui penerapan aturan baru. Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh penerbangan dari dan ke Aden menjalani pemeriksaan terlebih dahulu di Jeddah, yang disebut mengejutkan pihak kementerian.

Tidak lama berselang, otoritas Saudi memberikan klarifikasi bahwa pembatasan hanya diberlakukan untuk rute Aden–Uni Emirat Arab (UEA). Sumber dari Saudi bahkan membantah keterlibatan negaranya dan menyebut syarat tersebut justru ditetapkan oleh pemerintah Yaman yang diakui dunia internasional untuk penerbangan menuju UEA.

Menurut sumber Saudi lainnya, kementerian yang dikuasai kelompok selatan kemudian memilih menghentikan seluruh penerbangan karena menolak mematuhi larangan rute ke dan dari UEA. Tuduhan tersebut dibantah oleh pejabat kementerian, yang menyebut menteri tak pernah mengeluarkan perintah penutupan bandara, sementara sejumlah sumber Yaman pada hari yang sama mengatakan rute ke negara selain UEA akan segera kembali dibuka.

Perpecahan STC dan Dampaknya Bagi Koalisi Teluk

STC sebelumnya bergabung dalam koalisi pimpinan Arab Saudi yang sejak 2015 memerangi penguasaan Houthi atas sebagian besar wilayah Yaman. Namun belakangan, kelompok itu justru mendorong pembentukan negara terpisah di wilayah selatan. Pada Desember lalu, STC memperluas operasi militernya hingga ke provinsi Hadramaut dan al-Mahra yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi, dengan dukungan dari Uni Emirat Arab (UEA) yang membantu STC menguasai sebagian besar Yaman selatan dari pemerintah resmi.

Arab Saudi menuduh UEA memasok senjata kepada STC serta mendorong ekspansi ke Hadramaut dan al-Mahra yang dinilai mengancam keamanan nasionalnya. Tuduhan itu dibantah oleh UEA, yang menyatakan tetap berkomitmen mendukung keamanan Arab Saudi, di tengah perselisihan yang disebut sebagai krisis terdalam antara dua negara Teluk tersebut dalam beberapa dekade.

Pada pekan ini, UEA mengumumkan rencana penarikan sisa pasukan kontraterorismenya dari Yaman secara sukarela. Pengumuman itu muncul setelah Riyadh melancarkan serangan udara terhadap kiriman senjata yang diduga terkait UEA di pelabuhan Mukalla, sementara Rashad al-Alimi selaku kepala pemerintah Yaman yang diakui internasional memperingatkan bahwa upaya STC memperkuat posisinya di provinsi-provinsi tersebut akan menghadapi konsekuensi serius.

Sikap STC dan Latar Belakang Konflik Yaman

STC menegaskan akan terus mempertahankan keberadaannya di provinsi-provinsi yang telah dikuasai. Juru bicara STC, Mohammed al-Naqeeb, menyampaikan bahwa kelompoknya tetap berkoordinasi dengan pasukan Homeland Shield, yang sebelumnya menjadi kekuatan keamanan utama di wilayah tersebut dan berafiliasi dengan pemerintah Yaman serta koalisi pimpinan Arab Saudi.

Yaman sendiri terjerumun dalam perang saudara sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014. Hingga kini, Houthi masih menguasai sebagian besar wilayah barat laut, sementara STC dan pemerintah resmi terus bersaing memperebutkan pengaruh di kawasan selatan dan timur negara tersebut.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *