Penuduhan Iran terhadap AS dan Israel
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Israel berada di balik gelombang kerusuhan yang sedang terjadi di negara tersebut. Klaim ini disampaikan pada Jumat (9/1/2026), dan dilaporkan oleh kantor berita milik negara, IRIB. Dalam pernyataannya, dewan menyatakan bahwa protes yang awalnya dipicu oleh ketidakstabilan ekonomi telah dimanfaatkan oleh Israel untuk menggoyahkan stabilitas nasional. Menurut dewan, unjuk rasa tersebut tidak lagi bersifat murni domestik karena telah disusupi kepentingan eksternal.
IRIB juga melaporkan bahwa pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump dinilai semakin memperkuat dugaan adanya kolusi antara Washington dan Tel Aviv. Sikap Trump dianggap menunjukkan upaya bersama untuk merusak kehidupan masyarakat Iran. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menegaskan bahwa masyarakat Iran telah berulang kali menunjukkan persatuan nasional, termasuk saat konflik bersenjata selama 12 hari antara Iran dan Israel. Dengan semangat yang sama, dewan menyatakan keyakinan bahwa seluruh rencana destruktif terhadap Iran akan dapat digagalkan.
Ancaman Trump dan Pidato Khamenei
Di sisi lain, Trump sebelumnya beberapa kali melontarkan ancaman akan menyerang Iran apabila otoritas negara itu mulai menembaki para demonstran. Dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih, Trump menyatakan Amerika Serikat mungkin akan mengambil tindakan militer jika pasukan Iran menembaki warga. “Saya hanya berharap para demonstran di Iran akan aman. Jika mereka mulai menembak, kami juga akan mulai menembak,” ujar Trump, seperti dikutip kantor berita Rusia TASS, Sabtu (10/1/2026).
Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan pidato nasional. Ia menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan menuding sebagian demonstran berupaya menyenangkan Amerika Serikat.
Iran Mengadukan PBB tentang Intervensi AS
Iran juga melayangkan protes resmi kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kecaman tersebut disampaikan oleh Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melalui surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB. Iran menuding Washington, yang disebut berkoordinasi dengan Israel, telah mencampuri urusan internal dengan ancaman dan hasutan yang disengaja demi menciptakan ketidakstabilan.
Menurut Iran, tidak ada prinsip hukum internasional yang membenarkan upaya menghasut kekerasan atau merekayasa kekacauan dengan dalih hak asasi manusia. Teheran juga menilai perubahan protes damai menjadi aksi kekerasan dan vandalisme merupakan konsekuensi langsung dari kebijakan tersebut. “Tanggung jawab penuh atas seluruh dampak yang timbul sepenuhnya berada di pundak Amerika Serikat,” tegas Iran dalam surat itu, sebagaimana dikutip Xinhua, Jumat.
Kronologi Singkat Protes di Iran
Gelombang protes di Iran mulai mencuat pada akhir Desember 2025, dipicu merosotnya nilai tukar rial yang menekan aktivitas ekonomi. Pada 29 Desember, pedagang menggelar aksi unjuk rasa di pusat Teheran. Sehari kemudian, mahasiswa dari sejumlah universitas ikut turun ke jalan, menandai meluasnya protes dari isu ekonomi ke ranah sosial.
Situasi memburuk pada awal Januari. Pada 2 Januari, kantor berita Mehr melaporkan kemunculan kelompok bersenjata bertopeng di Provinsi Ilam. Bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan pun kian intens, terutama di wilayah barat Iran.
Puncak kerusuhan terjadi pada 8 Januari. Sedikitnya 11 warga sipil, termasuk seorang anak, dilaporkan tewas. Sejumlah aparat keamanan juga kehilangan nyawa. Wali Kota Teheran Alireza Zakani menyebut puluhan fasilitas umum dibakar dan dirusak. Kerusakan meliputi masjid, bank, rumah sakit, gedung pemerintahan, serta sarana transportasi dan layanan darurat.











