"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Davied, Yunus, dan Syamsinar Tolak Tawaran Chaidir Syam

Tiga Pejabat Maros yang Menolak Maju di Pilkada Kini Berada di Puncak Kekuasaan

Tiga pejabat tinggi di Kabupaten Maros yang sebelumnya menolak tawaran politik dari Bupati Chaidir Syam dalam Pilkada 2024 kini menempati posisi strategis di lingkaran kekuasaan. Mereka adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Maros Andi Davied Syamsuddin, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr La Palaloi Sri Syamsinar Rachmah, serta Kepala Dinas Kesehatan dr H Muhammad Yunus.

Fakta ini terungkap saat Chaidir Syam memaparkan dinamika politik dalam sidang terbuka promosi doktor Program Studi Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Rabu (12/2/2026). Saat itu, situasi politik Maros berubah secara mendadak setelah Suhartina Bohari, figur yang awalnya diproyeksikan menjadi pasangan Chaidir, dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam tes kesehatan.

Dalam waktu hanya tiga hari, Chaidir harus mencari calon pendamping baru sambil menjaga soliditas sembilan partai pengusung agar koalisi tidak retak. Empat nama pejabat sempat masuk radar calon wakil bupati: Andi Davied Syamsuddin, Sri Syamsinar, Muhammad Yunus, dan Muetazim Mansyur.

Namun, peta politik tidak berjalan mulus. Tiga tokoh birokrat berpengaruh memilih mundur dari bursa pencalonan. Penolakan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa kontestasi Pilkada bukan hanya tentang elektabilitas, tetapi juga pertaruhan karier birokrasi dan risiko politik yang besar.

Andi Davied Syamsuddin, sebagai Sekda, merupakan pejabat tertinggi ASN yang mengendalikan stabilitas pemerintahan daerah. Sri Syamsinar memimpin rumah sakit terbesar milik Pemkab Maros, posisi strategis yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik. Sementara Muhammad Yunus berada di garda depan sektor kesehatan, bidang yang selalu menjadi sorotan masyarakat.

Di tengah ketidakpastian, hanya Muetazim Mansyur yang bersedia melangkah maju hingga akhirnya berpasangan dengan Chaidir sebagai calon tunggal melawan kolom kosong. Secara politik, pertarungan ini tampak mudah, namun tetap menyimpan tekanan besar terkait legitimasi publik.

Menariknya, tiga pejabat yang menolak maju tidak tersisih dari pusaran kekuasaan. Mereka justru tetap bertahan—bahkan semakin kuat di struktur pemerintahan daerah. Fenomena ini menegaskan bahwa dalam politik lokal, pengaruh tidak selalu hadir di surat suara. Sebagian kekuatan justru bekerja senyap dari balik meja birokrasi.

Profil Pejabat Maros yang Tetap Berpengaruh

Andi Davied Syamsuddin, Birokrat Puncak Pengendali Pemerintahan

Lahir pada 24 September 1978, Andi Davied Syamsuddin memiliki latar belakang pendidikan yang cukup lengkap. Ia menyelesaikan SD Negeri 1 Watampone (1984–1990), SMP Negeri 2 Watampone (1990–1993), SMA Negeri 1 Makassar (1993–1996), lalu meraih D-IV di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (1996–2000) serta S2 di Universitas Hasanuddin (2002–2004).

Karier Davied terbilang lengkap di jalur birokrasi, dimulai dari staf fungsional di Sekretariat Jenderal Departemen Dalam Negeri, Kepala Seksi Pemerintahan Kecamatan Simbang, Sekretaris Lurah Pettuadae, hingga Lurah Boribellaya. Namanya semakin diperhitungkan saat menjadi Camat Bontoa (2005–2010), sebelum menduduki berbagai posisi strategis seperti Kepala Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Kepala Bagian Pengelolaan Data Elektronik, Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan, hingga Kepala Dinas Lingkungan Hidup.

Pada 2019, ia dilantik sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Maros, jabatan tertinggi bagi ASN di daerah. Pada 2021, Davied bahkan sempat menjadi Pelaksana Harian Bupati Maros, mempertegas posisinya sebagai figur sentral dalam roda pemerintahan.

dr Muhammad Yunus, Arsitek Layanan Kesehatan Maros

dr. H. Muhammad Yunus, S.Ked., M.Kes dikenal sebagai Kepala Dinas Kesehatan yang dekat dengan tenaga medis. Di bawah kepemimpinannya, pembangunan dan renovasi puskesmas menjadi prioritas guna memastikan warga Maros memperoleh fasilitas kesehatan yang memadai.

Profil singkat:
– Jabatan: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maros
– NIP: 19760709 200701 1 011
– Pangkat: Pembina Tk. I

Sebagai pimpinan sektor kesehatan, Yunus bertanggung jawab memimpin program kesehatan masyarakat, mengoordinasikan penanggulangan penyakit, serta mengembangkan strategi kesehatan seperti edukasi TBC dan vaksinasi. Beberapa kiprahnya meliputi vaksinasi calon jemaah haji, pembentukan Tim Inovasi “Sipakatau” untuk percepatan penanganan TBC, kampanye pencegahan stunting, hingga penanganan HIV-AIDS.

Ia juga aktif membangun koordinasi lintas sektor serta menyusun strategi kesehatan berbasis komunitas demi meningkatkan kualitas pelayanan publik.

dr Sri Syamsinar Rachmah, Nahkoda RSUD Terbesar di Maros

dr. Sri Syamsinar Rachmah, S.Ked menjabat sebagai Direktur RSUD dr La Palaloi sejak 2021. Sebagai pimpinan tertinggi rumah sakit daerah, ia bertanggung jawab atas operasional layanan medis, manajemen rumah sakit, serta peningkatan mutu pelayanan pasien.

Profil singkat:
– Nama: dr. Sri Syamsinar Rachmah, S.Ked
– Jabatan: Direktur RSUD dr La Palaloi
– NIP: 198011152010012022
– Periode jabatan: 2021–sekarang

Ia aktif memperkuat komitmen pelayanan dan koordinasi kelembagaan, termasuk kerja sama dengan berbagai instansi di lingkup Pemkab Maros. Rumah sakit yang dipimpinnya menjadi fasilitas kesehatan rujukan penting di Kabupaten Maros dan berlokasi di Kecamatan Turikale.

Keputusan tiga pejabat tersebut menolak pinangan politik Chaidir kala itu memunculkan beragam tafsir, mulai dari kehati-hatian menjaga netralitas ASN hingga kalkulasi matang mempertahankan karier birokrasi. Namun satu hal kini terlihat jelas: tanpa harus maju di arena elektoral, ketiganya tetap berada di jalur strategis kekuasaan daerah. Dalam politik lokal, posisi tidak selalu ditentukan oleh siapa yang bertarung, tetapi juga oleh siapa yang memilih bertahan.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *