Kasus Teror terhadap Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto
Kasus teror yang dialami oleh Ketua Badan Eksekutiv Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, menimbulkan kekhawatiran akan semakin sempitnya ruang kebebasan berpendapat di Indonesia. Setelah menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan nasional, Tiyo menerima ancaman teror melalui pesan WhatsApp. Ancaman tersebut mencakup ancaman penculikan dan tuduhan bahwa ia adalah agen asing.
Kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional warga negara untuk menyampaikan pandangan tanpa ancaman atau intimidasi. Tiyo diketahui mengkritisi kebijakan Presiden Prabowo Subianto serta menyoroti kasus tragis seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya. Ancaman yang diterimanya dinilai sebagai bentuk represi terhadap mahasiswa yang berani bersuara.
Pandangan Akademisi
Ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia, Prof. Masduki, menilai kritik yang disampaikan Tiyo berangkat dari nurani dan kondisi bangsa. Ia menegaskan kampus seharusnya memberikan perlindungan kepada mahasiswa yang mengalami tekanan. “Ketika terjadi represi atau teror, ini menjadi ujian apakah kampusnya memberikan pembelaan,” ujarnya.
Masduki menyebut represi terhadap mahasiswa kritis sudah bisa diprediksi sejak awal dan kemungkinan skalanya akan meningkat. Dalam KBBI, represi berarti penekanan atau penindasan. Ia menilai peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi negara yang seharusnya mencari solusi substantif dari akar masalah.
Apresiasi Keberanian Mahasiswa
Masduki menambahkan, kritik Tiyo seharusnya dipandang sebagai masukan positif bagi pemerintah. Ia menyoroti kebijakan alokasi anggaran pendidikan yang dialihkan besar-besaran ke program makan bergizi gratis. “Keberanian ini seharusnya menjadi sentilan, kenapa justru datang dari mahasiswa dan tidak dilakukan oleh dosen maupun akademisi UGM,” imbuhnya.
Sikap DPR
Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, mengecam keras teror terhadap Ketua BEM UGM. Politisi PKB itu menyebut tindakan tersebut sama saja dengan praktik pembungkaman. “Tindakan teror kepada adinda Tiyo tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu,” katanya dalam keterangan tertulis.
Hilman mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas dalang di balik aksi teror. Ia menegaskan suara Tiyo adalah wujud keterbukaan dan kebebasan berpendapat yang dilindungi hukum. “Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” ujarnya.
Anak SD Bunuh Diri di NTT, Tiyo Surati UNICEF dan Kritik Keras Prabowo
Pada Jumat (6/2/2026) lalu, Tiyo Ardiyanto mengunggah surat yang dikirimkan oleh BEM UGM kepada UNICEF. Surat dengan bahasa Inggris dan tertanggal Kamis, 5 Februari 2026 serta ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell tersebut diunggah di akun Instagram pribadi milik Tiyo.
Surat ini berisi kritikan keras terhadap pemerintah Indonesia, buntut kasus tewasnya siswa kelas IV SD di NTT berinisial YBS yang diduga bunuh diri di dekat sebuah pondok tempat almarhum tinggal bersama sang nenek. Dalam suratnya, Tiyo mengawali dengan kalimat: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Menurut Tiyo, peristiwa tewasnya YBS adalah tragedi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi. Tiyo menilai, tragedi tersebut bukanlah takdir maupun insiden terisolasi, melainkan hasil dari kegagalan sistemik. Ia menekankan, hak setiap anak untuk mendapat akses pendidikan dijamin oleh Undang-undang 1945 dan sejalan dengan Pasal 28 dalam Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak.
Deretan Teror yang Dialami Tiyo
Dikutip dari artikel Kompas.com yang tayang pada Jumat (13/2/2026), Tiyo mengaku mendapat sejumlah ancaman teror pada periode 9-11 Februari 2026 setelah menyuarakan kritik sosial di media sosial terkait kasus anak bunuh diri di NTT. Mahasiswa Jurusan Filsafat UGM angkatan 2021 itu mengungkap, dirinya mendapat ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat. Lalu, ia juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tak dikenal saat sedang berada di sebuah kedai pada Rabu (11/2/2026). Menurutnya, kedua penguntit tersebut adalah laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.
Tak hanya dikuntit, Tiyo juga menduga dirinya dipotret diam-diam. “Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” ujar Tiyo. Tiyo menjelaskan, dua orang yang diduga menguntit dirinya itu sempat dikejar, tetapi akhirnya menghilang.
“Saya Akan Terus Baik-baik Saja”
Pada Kamis (12/2/2026), Tiyo mengunggah tangkap layar artikel berita online yang bertajuk Ketua BEM UGM Diteror Usai Suarakan Kasus Anak Bunuh Diri di NTT dalam akun pribadi media sosial Instagramnya. Dalam unggahannya itu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut maupun gentar dalam menghadapi berbagai ancaman teror.
Tiyo juga berterima kasih atas dukungan dari masyarakat Indonesia dan meyakinkan bahwa dirinya akan terus baik-baik saja. Berikut unggahan Tiyo:
Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di Republik ini, selama itulah penguasa yg zalim tidak akan hidup tenang. Terima kasih untuk Rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja.
Saya akan terus baik-baik saja.











