Serangan Udara Pakistan di Afghanistan Memicu Kekacauan Regional
Pada hari Ahad, 22 Februari 2026, militer Pakistan melakukan serangan udara di wilayah Afghanistan. Serangan tersebut menargetkan apa yang disebutnya sebagai “kamp dan tempat persembunyian” milik kelompok bersenjata yang diduga terlibat dalam sejumlah serangan terbaru, termasuk bom bunuh diri yang mengakibatkan korban jiwa di sebuah masjid Syiah di Islamabad.
Kementerian Pertahanan Afghanistan mengecam tindakan ini dengan menyatakan bahwa serangan itu “menghantam sebuah sekolah agama dan rumah-rumah penduduk” di provinsi Nangarhar dan Paktika, “yang mengakibatkan puluhan kematian dan luka-luka, termasuk perempuan dan anak-anak”. Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa setidaknya 17 orang tewas di Nangarhar.
Serangan ini memperburuk hubungan antara Pakistan dan Afghanistan yang sudah rapuh. Gencatan senjata yang dinegosiasikan setelah bentrokan perbatasan mematikan pada Oktober tahun lalu kini kembali dipertanyakan. Insiden ini menunjukkan ketegangan yang berpotensi memicu konflik lebih lanjut antara dua negara Asia Selatan.
Operasi Militer Pakistan dan Tuduhan Terhadap Taliban
Menurut pernyataan dari Kementerian Informasi dan Penyiaran Pakistan, militer negara itu melakukan “operasi selektif berbasis intelijen” terhadap tujuh kamp dan tempat persembunyian milik Taliban Pakistan (TTP) serta afiliasinya. Selain itu, sebuah afiliasi dari kelompok Negara Islam juga menjadi sasaran di wilayah perbatasan.
Kementerian menyatakan bahwa mereka memiliki “bukti yang meyakinkan” bahwa serangan-serangan baru-baru ini di Islamabad, Bajaur, dan Bannu dilakukan oleh para pejuang yang bekerja atas perintah kepemimpinan dan penangan mereka yang berbasis di Afghanistan. Mereka menuding pemerintah Taliban Afghanistan tidak mengambil tindakan nyata untuk mencegah penggunaan wilayah Afghanistan sebagai basis operasi kelompok bersenjata.
Pakistan menegaskan bahwa keamanan warga negaranya tetap menjadi prioritas utama. Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kedua negara bisa menjaga stabilitas regional tanpa adanya komunikasi yang jelas dan transparan.
Serangan Bom Bunuh Diri yang Mengguncang Islamabad
Beberapa jam setelah serangan udara Pakistan, seorang pelaku bom bunuh diri menyerang konvoi keamanan di distrik Bannu, menewaskan dua tentara, termasuk seorang letnan kolonel. Pada hari Senin, seorang pelaku bom bunuh diri lainnya menabrakkan kendaraan yang membawa bahan peledak ke dinding pos keamanan di Bajaur, menewaskan 11 tentara dan seorang anak. Pihak berwenang kemudian mengungkap bahwa penyerang adalah warga negara Afghanistan.
Pada 6 Februari, seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan bahan peledak saat salat Zuhur di masjid Syiah Khadija Tul Kubra di daerah Tarlai Kalan, Islamabad, menewaskan sedikitnya 31 jamaah dan melukai 170 orang lainnya. Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Meskipun pemboman jarang terjadi di ibu kota yang dijaga ketat, serangan terhadap Khadija Tul Kubra adalah serangan kedua dalam tiga bulan terakhir, yang menimbulkan kekhawatiran akan kembalinya kekerasan di pusat-pusat kota besar Pakistan.
Tuntutan Internasional dan Reaksi Afghanistan
Dalam pernyataannya, Kementerian Informasi Pakistan menyerukan kepada komunitas internasional untuk menekan Taliban agar memenuhi komitmennya berdasarkan perjanjian yang ditandatangani dengan Amerika Serikat di Doha pada tahun 2020. Perjanjian ini menetapkan bahwa Afghanistan tidak boleh digunakan sebagai basis operasi untuk serangan terhadap negara lain.
Pernyataan ini menekankan pentingnya langkah-langkah tersebut bagi perdamaian dan keamanan regional maupun global. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Afghanistan mengutuk serangan Pakistan sebagai “pelanggaran hukum internasional dan prinsip-prinsip bertetangga baik”.
Mereka berjanji akan memberikan tanggapan yang sesuai. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, Kementerian Pertahanan yang dikelola Taliban menyatakan bahwa serangan terhadap lembaga nasional dan pusat keagamaan mencerminkan kegagalan intelijen dan keamanan di pihak Pakistan. Mereka berjanji akan memberikan “tanggapan yang tepat dan terencana” terhadap serangan lintas batas Pakistan.
Ketegangan Hubungan Pakistan-Afghanistan
Pakistan telah mengalami peningkatan kekerasan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar disalahkan pada TTP dan kelompok separatis Baloch yang dilarang. Islamabad menuduh TTP beroperasi dari dalam Afghanistan, tuduhan yang dibantah oleh kelompok tersebut.
Pemerintah Taliban secara konsisten membantah melindungi kelompok-kelompok bersenjata anti-Pakistan. Namun, hubungan antara kedua negara tetap tegang setelah bentrokan mematikan pada Oktober. Pertempuran tersebut terjadi setelah ledakan di Kabul, yang oleh pejabat Afghanistan disalahkan kepada Pakistan.
Gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar pada 19 Oktober sebagian besar telah berjalan dengan baik, tetapi pembicaraan selanjutnya di Istanbul, Turki, gagal menghasilkan kesepakatan formal. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya masih belum mampu mencapai solusi permanen untuk mengatasi ketegangan yang terus-menerus muncul.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











