Reaksi Global terhadap Kematian Ayatollah Ali Khamenei
Kematian Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, memicu gelombang reaksi yang luas dan beragam di seluruh dunia. Negara-negara seperti China, Rusia, Korea Utara, serta kelompok-kelompok proksi Iran seperti Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam Palestina mengutuk tindakan yang dianggap sebagai pembunuhan terhadap tokoh penting tersebut.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan itu sebagai “pelanggaran sinis terhadap semua norma moralitas manusia dan hukum internasional.” Dalam suratnya kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, ia menyampaikan belasungkawa mendalam atas kematian Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Sayyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya.
Sementara itu, Korea Utara mengutuk serangan tersebut sebagai “tindakan agresi ilegal.” Pyongyang menilai perilaku AS dan Israel sebagai “tindakan tak tahu malu dan seperti gangster,” yang menunjukkan ambisi egois dan hegemonik mereka.
Hamas juga menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Kelompok tersebut menyatakan bahwa Khamenei memberikan dukungan politik, diplomatik, dan militer kepada rakyat dan perjuangan mereka. Mereka menuduh Amerika Serikat dan pemerintah pendudukan fasis (merujuk pada Israel) bertanggung jawab atas agresi terhadap kedaulatan Iran dan dampaknya terhadap keamanan kawasan.
Sayap bersenjata Hamas, Brigade Izz a-dine Al-Qassam, menggambarkan Khamenei sebagai “pendukung utama Poros Perlawanan dan para mujahidinnya.” Mereka menekankan bahwa dukungan yang diberikan oleh Republik Islam selama beberapa dekade telah menjadi faktor kunci dalam pengembangan perlawanan dan taktiknya.
Kelompok teror Jihad Islam Palestina menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “kejahatan perang” yang dilakukan oleh AS dan Israel dalam “serangan yang khianat dan jahat.”
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyerukan agar masjid-masjid membaca Al-Quran dan menyelenggarakan upacara berkabung untuk memperingati kematian Khamenei. Ia menyebut pembunuhan tersebut sebagai “puncak kejahatan.”
Profil Singkat Ayatollah Ali Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei memiliki nama lengkap Ali Hosseini Khamenei. Saat ini, ia berusia 86 tahun dan lahir pada tanggal 19 April 1939. Ia dikenal sebagai seorang ulama dan politikus, serta Pemimpin Tertinggi Iran sejak tahun 1989. Hal ini membuatnya menjadi kepala negara dengan masa jabatan terlama di Timur Tengah dan pemimpin Iran dengan masa jabatan terlama kedua pada abad ke-20 dan ke-21, setelah Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Ayatollah Ali Khamenei adalah anak dari pasangan Javad dan Khadijeh Mirdamadi. Ayahnya adalah seorang alim dan mujtahid, sedangkan ibunya berasal dari etnis Persia. Leluhur Khamenei adalah Sayyid Hossein Tafreshi, keturunan Sayyid Aftasi yang diperkirakan sampai ke Sultan ul-Ulama Ahmad, cucu dari Imam Syiah keempat, Ali al-Sajjad.
Ia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Ayatollah Ali Khamenei memulai pendidikan agamanya di usia empat tahun, belajar Al-Quran di Maktab. Ia kemudian melanjutkan studi seminari di hawza Mashhad, di bawah mentor seperti Sheikh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani. Pada tahun 1957, ia pergi ke Najaf, namun kembali ke Mashhad karena ayahnya tidak mengizinkannya tinggal di sana. Pada tahun 1958, ia menetap di Qom, tempat ia menghadiri kelas-kelas Seyyed Hossein Borujerdi dan Ruhollah Khomeini.
Pengakuan Kematian dan Respons Iran
Menurut media pemerintah Iran, Ayatollah Khamenei gugur sebagai martir dalam serangan AS dan Israel pada hari Sabtu. Pemimpin tertinggi Iran dibunuh di kantornya. Akibatnya, Iran mengumumkan libur 7 hari dan masa berkabung 40 hari.
Setelah mengakui kematian Ayatollah Ali Khamenei, Iran meningkatkan serangan rudal balistik terhadap Israel. Meskipun Khamenei kemungkinan tewas pada saat-saat awal perang akibat sekitar 30 bom sekitar pukul 8:00 pagi hari Sabtu, respons yang lebih intens baru datang kemudian.
Iran meningkatkan volume dan kecepatan serangan rudal balistiknya pada Minggu pagi terhadap Israel dengan beberapa putaran peringatan sirene udara yang bergema di seluruh negeri secara berturut-turut. Hal ini sebagai tanggapan atas pengakuan kematian Pemimpin Tertingginya.
Meskipun IDF masih belum mengkonfirmasi jumlah serangan rudal, secara anekdot, laju salvo dan volume ledakan pada Minggu pagi belum pernah terjadi sebelumnya. Putaran pertempuran ini terlihat lebih hebat dibandingkan putaran serangan besar terburuk pada Juni 2025, yang beberapa di antaranya melibatkan hingga 200 rudal balistik.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











