Gubernur Sumbar Minta Prabowo Tegaskan Sikap Indonesia dalam Konflik Timur Tengah
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, mengeluarkan pernyataan terkait memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Ia menilai bahwa tindakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat berpotensi memperluas konflik dan menimbulkan dampak global, termasuk bagi Indonesia.
Mahyeldi menyayangkan pecahnya perang yang dinilainya justru dimulai oleh Amerika Serikat, meski selama ini mengusung misi perdamaian dunia. Ia menyoroti pentingnya sikap tegas dari Presiden Prabowo Subianto dalam forum internasional sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan menolak peperangan.
“Kita sesalkan adalah Amerika dengan Board of Peace (BoP)-nya. Namanya peace, perdamaian. Tapi Amerika pula yang mengawali perang ini,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia juga berharap Presiden Indonesia dapat menunjukkan sikap tegas di forum internasional sebagai negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan menolak peperangan. Menurut Mahyeldi, tindakan tersebut patut dikecam karena berpotensi memperluas konflik dan menimbulkan dampak global, termasuk bagi Indonesia.
Dampak Perang pada Jemaah Umrah dan Pasokan Minyak Nasional
Mahyeldi mengingatkan bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga berimbas pada sektor lain, termasuk jemaah umrah asal Indonesia yang saat ini berada di Tanah Suci. Pemprov Sumbar mulai melakukan langkah antisipasi untuk meminimalkan dampak yang mungkin timbul di daerah.
Selain itu, ia menyoroti langkah Iran yang disebut telah menutup Selat Hormuz. Penutupan jalur strategis tersebut dinilai dapat berdampak besar terhadap distribusi minyak dunia.
“Apalagi Selat Hormuz sudah ditutup oleh Iran. Ini juga ancaman. Menteri ESDM sudah menyampaikan jatah minyak kita sekitar 21 hari. Kalau lewat 21 hari itu akan berdampak pada kita,” ungkapnya.
Koordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah
Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah terkait kepulangan sekitar 2.500 jemaah umrah asal Sumbar yang saat ini masih berada di Tanah Suci. Hal itu disampaikan Mahyeldi menyusul memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada sejumlah penerbangan.
“Saya kira pasti ada yang tertahan karena penerbangan tidak bisa terlaksana. Tentu ini akan kita koordinasikan dengan Kementerian Haji dan Umrah,” kata Mahyeldi saat dikonfirmasi di Mapolda Sumbar.
Menurutnya, koordinasi tersebut tidak hanya menyangkut kepulangan jemaah umrah, tetapi juga rencana keberangkatan haji ke depan apabila situasi konflik belum mereda.
Belum Ada Perubahan Jadwal Kepulangan Jemaah Umrah
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 2.500 jemaah umrah asal Sumbar dijadwalkan kembali ke Indonesia sesuai agenda yang telah ditetapkan. Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumbar, Rifki Diflaizar, mengatakan para jemaah tersebut terbagi dalam dua program, yakni Awal Ramadan dan Full Ramadan.
Sebanyak 1.000 jemaah mengikuti program Awal Ramadan dan telah berangkat pada 22 Februari 2026 melalui berbagai travel haji dan umrah. Mereka dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 5 Maret 2026 dan mendarat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).
Sementara itu, 1.500 jemaah lainnya mengikuti program Full Ramadan dan berangkat pada 23 Februari 2026. Mereka direncanakan kembali ke Padang sekitar 26 Maret 2026. Rifki menegaskan, hingga kini belum ada pembatalan atau perubahan jadwal kepulangan jemaah asal Sumbar.
Jumlah Jemaah Umrah Indonesia yang Masih Berada di Arab Saudi
Secara nasional, sekitar 58.000 jemaah umrah asal Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi di tengah konflik Iran versus Israel-Amerika yang meletus sejak Sabtu (28/2/2026). “58 ribu lebih jemaah kita masih tertahan di Arab Saudi,” kata Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Ichsan Marsha, dikutip dari YouTube Kompas TV, Senin (2/3/2026).
Meski situasi Timur Tengah memanas, hingga tiga hari menjelang kepulangan 1.000 jemaah Sumbar pada 5 Maret 2026, pihak Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumbar belum menerima informasi penundaan. “Saya sudah menghubungi seluruh travel umrah di Sumbar, belum ada penundaan keberangkatan jemaah dari Arab Saudi ke Indonesia tanggal 5 Maret 2026,” tegas Rifki.











