Eskalasi Konflik Timur Tengah: Persiapan Serangan Terhadap Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan pernyataan bahwa kemungkinan terjadinya konflik bersenjata dengan Iran bisa berlangsung selama empat minggu jika ketegangan terus meningkat. Peristiwa ini dimulai setelah Iran mengklaim melakukan serangan rudal dan pesawat tanpa awak terhadap sejumlah pangkalan militer yang disebut terkait dengan AS dan Israel. Langkah tersebut dianggap sebagai balasan atas serangan rudal gabungan antara AS dan Israel yang terjadi pada hari Sabtu (28/2/2026).
Serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Dalam laporan terbaru, serangan tersebut menargetkan puluhan lokasi di sedikitnya 18 dari 31 provinsi di Iran, menyebabkan ratusan korban jiwa dan luka-luka.
Washington meminta Inggris untuk memberikan izin dalam melancarkan serangan terbatas yang bersifat defensif. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada hari Minggu (1/3/2026) malam waktu setempat. Pemerintah Inggris menyetujui permintaan tersebut setelah mempertimbangkan aspek keamanan dan hukum.
“Satu-satunya cara untuk menghentikan ancaman adalah menghancurkan rudal di sumbernya di depot penyimpanan atau peluncur yang digunakan untuk menembakkannya,” ujar Starmer dalam video yang diunggah di platform X. Ia menambahkan bahwa AS meminta izin penggunaan pangkalan militer Inggris untuk tujuan pertahanan yang spesifik dan terbatas. “Kami telah mengambil keputusan untuk menerima permintaan ini,” tambahnya.
Keputusan Inggris: Tidak Terlibat Lebih Jauh
Meskipun memberikan izin penggunaan pangkalan militer di Kepulauan Chagos, pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka tidak akan terlibat lebih jauh dalam konflik tersebut. London juga merilis ringkasan nasihat hukum yang menegaskan bahwa keputusan ini tidak menandakan keterlibatan Inggris secara lebih luas dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Dalam pernyataan terpisah, Starmer menekankan bahwa Inggris tidak akan bergabung dalam serangan ofensif. “Kami tidak bergabung dalam serangan ini tetapi akan melanjutkan tindakan defensif kami. Kita semua mengingat kesalahan Irak, dan kita telah belajar dari pelajaran tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Inggris tidak terlibat dalam serangan awal terhadap Iran dan tidak akan mengambil bagian dalam tindakan ofensif.
Namun, menurutnya, Iran tengah menjalankan strategi “bumi hangus”, sehingga Inggris mendukung pertahanan kolektif sekutu dan perlindungan warganya di kawasan.
Sikap Bersama E3
Sebelumnya pada Minggu malam, Jerman, Perancis, dan Inggris—yang dikenal sebagai kelompok E3—membuka kemungkinan untuk “memungkinkan” aksi militer terhadap Iran bersama AS dan sekutu di kawasan. Dalam pernyataan bersama, para pemimpin tiga ekonomi terbesar Eropa itu menyatakan, “Kami akan mengambil langkah-langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan, berpotensi dengan memungkinkan tindakan defensif yang perlu dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran menembakkan rudal dan drone dari sumbernya.”
Namun, pernyataan tersebut belum menyatakan bahwa ketiga negara akan ikut serta dalam serangan AS dan Israel terhadap Teheran. E3 juga menyerukan Iran agar segera menghentikan serangan terhadap negara-negara sekutu Barat dan pangkalan militer di Timur Tengah.
Mereka menyatakan bahwa para pemimpin E3 “terkejut oleh serangan rudal yang tanpa pandang bulu dan tidak proporsional yang diluncurkan Iran terhadap negara-negara di kawasan, termasuk yang tidak terlibat dalam operasi militer awal AS dan Israel.” Mereka menambahkan, “Serangan ceroboh Iran telah menargetkan sekutu dekat kami dan mengancam personel militer serta warga sipil kami di seluruh kawasan.”
Penolakan Kanselir Jerman
Di sisi lain, Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak mengkritik Presiden AS Donald Trump atas serangan tersebut. Ia menilai, Eropa masih membutuhkan dukungan Washington dalam menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina.
Sementara itu, Senator Partai Republik AS Lindsey Graham sebelumnya mengkritik Inggris, Perancis, dan Jerman karena dinilai kurang vokal mendukung serangan terhadap Iran. “Secara kolektif kalianlah yang salah karena menolak membantu rakyat Iran,” tulisnya di X.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."











