"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Tidak Diperbolehkan Masuk Ruang HCU, Anies Tulis Surat untuk Aktivis KontraS yang Disiram Air Keras

Anies Baswedan Datang Menjenguk Aktivis HAM Andrie Yunus di Rumah Sakit

Di tengah suasana yang sunyi, Anies Baswedan tiba di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada hari Sabtu, 14 Maret 2026. Tujuannya jelas: menjenguk aktivis HAM Andrie Yunus yang sedang dirawat intensif setelah menjadi korban penyiraman air keras. Namun, karena kondisi kesehatannya yang kritis, ia tidak bisa masuk ke ruang perawatan.

Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), mengalami luka bakar serius akibat aksi tak dikenal di kawasan Senen, Jakarta Pusat, pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Ia sempat menjadi narasumber dalam sebuah podcast bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” sebelum kejadian tersebut terjadi.

Karena risiko infeksi yang tinggi, Andrie ditempatkan di ruang HCU dengan standar isolasi ketat. Hal ini membuat Anies hanya bisa berada di luar ruangan dan berkomunikasi melalui keluarga korban. Di sampingnya, hadir pula Novel Baswedan, mantan penyidik KPK yang juga pernah menjadi korban penyiraman air keras pada tahun 2017.

Pesan Dari Selembar Kertas

Anies memilih cara lain untuk menyampaikan dukungan kepada Andrie. Ia membuka selembar kertas dan menulis dengan pena tinta biru. Beberapa menit kemudian, lahir pesan yang ditujukan untuk sang aktivis:

“Bung Andrie, Bung memang sedang terbaring badannya di ruang HCU, tapi gelora semangat Bung bisa dirasa sampai ke penjuru negeri. Selama Republik ini punya pejuang-pejuang seperti Andrie Yunus, pribadi yang lebih mencintai negeri ini di atas keselamatan dirinya sendiri, maka kita bisa optimis bahwa demokrasi kita akan terus berdiri tegak. Cepat sembuh dan kembali berjuang.”

Di bawah pesan itu, ia menuliskan namanya dan tanggal:

Anies Baswedan – 14/3/2026.

Meskipun tidak bisa berbicara langsung, pesan tersebut menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi keluarga Andrie. Bagi mereka, pesan ini menunjukkan bahwa perjuangan sang aktivis tidak sendirian—bahwa masih banyak orang yang menunggu ia kembali berdiri.

Kronologis Kejadian

Menurut informasi dari Koordinator KontraS, Dimas Bagus Arya, kejadian tragis ini terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.37 WIB. Andrie baru saja selesai menjadi narasumber dalam podcast yang diselenggarakan di kantor YLBHI. Setelah itu, saat melintasi Jalan Salemba I-Talang, ia dihadang oleh dua pria yang mengendarai motor matic secara melawan arah.

Tanpa aba-aba, pelaku menyiramkan air keras yang mengenai area mata, wajah, dada, dan tangan korban. Tidak ada barang berharga yang hilang, sehingga diduga kuat serangan ini berkaitan erat dengan aktivitas Andrie sebagai aktivis HAM.

Ciri-Ciri Pelaku

Dari hasil penyelidikan awal, diketahui ciri-ciri pelaku sebagai berikut:

  • Pengemudi: Menggunakan kaos kombinasi putih-biru, celana jeans gelap, dan helm hitam.
  • Eksekutor (Penumpang): Menggunakan masker buff hitam, kaos biru tua, dan celana jeans yang dilipat pendek.

Perhatian Khusus dari Kapolri

Kasus ini menarik perhatian serius dari pucuk pimpinan Polri. Kadiv Humas Polri, Irjen Johnny Eddizon Isir, menegaskan bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan atensi khusus untuk mengusut tuntas aksi teror ini.

“Kami dari segenap personel Polri, baik dari Polres Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya, termasuk Mabes Polri yang mem-back up, akan serius dan bersungguh-sungguh untuk membuat terang benderang, mengungkap, dan menangkap pelakunya, siapa pun dia,” tegas Irjen Isir.

Saat ini, tim gabungan tengah melakukan scientific investigation dengan menganalisis rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. Pengumpulan berbagai alat bukti digital sedang dalam proses analisa lebih lanjut.

Harapan untuk Keselamatan Aktivis HAM

Aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menimbulkan kekhawatiran tentang keselamatan para aktivis HAM dan demokrasi di Indonesia. Dukungan dari Anies Baswedan dan perhatian khusus dari Kapolri menjadi langkah penting dalam menegaskan bahwa kekerasan terhadap aktivis tidak akan dibiarkan begitu saja.

Bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini? Apa harapan Anda untuk keselamatan para aktivis demokrasi di kolom komentar di bawah ini.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *