Penurunan APBD Samarinda 2026 dan Strategi Efisiensi Anggaran
Pemkot Samarinda menghadapi tantangan fiskal yang signifikan pada tahun 2026, dengan anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang turun dari sekitar Rp5,8 triliun menjadi hanya Rp3,8 triliun. Hal ini memaksa pemerintah kota untuk melakukan penyesuaian anggaran secara ketat, dengan fokus utama pada pelayanan publik yang bersifat mendasar.
Kebijakan Penyesuaian Anggaran
Dalam konferensi pers yang diadakan setelah kegiatan buka puasa bersama awak media di Balai Kota Samarinda, Walikota Samarinda Andi Harun menjelaskan bahwa Pemkot akan terus memastikan pelayanan publik tetap berjalan optimal meskipun ruang fiskal daerah mengalami penurunan. Ia menekankan bahwa kebijakan penyesuaian anggaran dilakukan dengan memprioritaskan sektor pelayanan dasar sekaligus menekan belanja yang dinilai tidak mendesak.
Andi Harun menyampaikan pesan kepada masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, berharap agar hubungan dan kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dapat diperbaiki di masa depan.
Penurunan APBD yang Signifikan
Kondisi fiskal Pemkot Samarinda saat ini mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. APBD yang sebelumnya mencapai sekitar Rp5,8 triliun kini turun menjadi sekitar Rp3,8 triliun. Menurut Andi Harun, kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk melakukan langkah adaptasi dan mitigasi dalam pengelolaan anggaran.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelayanan publik yang bersifat esensial tetap menjadi prioritas utama. “Tentu saya dan Wakil Walikota memiliki program dalam visi misi yang harus kami jalankan. Namun kami tidak boleh memaksakan ambisi program yang kemudian mengorbankan pelayanan dasar,” ujarnya.
Fokus pada Program Prioritas
Andi Harun menambahkan bahwa kebijakan adaptasi yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan besaran anggaran, tetapi juga menyangkut cara pemerintah daerah mengelola belanja agar lebih efisien dan tepat sasaran. Meski APBD kota turun jauh, insyaallah pelayanan dasar dan publik akan tetap optimal.
Dalam pelaksanaannya, beberapa kegiatan pembangunan yang sudah berjalan tetap dilanjutkan meskipun menggunakan pola pembiayaan yang disesuaikan dengan kondisi fiskal. Pemkot memilih menerapkan skema pembayaran bertahap terhadap sejumlah kegiatan yang sebelumnya dapat diselesaikan dalam satu kali pembayaran.
Penghematan Anggaran di Sektor Perjalanan Dinas
Salah satu pos anggaran yang mengalami pengetatan adalah belanja perjalanan dinas di lingkungan organisasi perangkat daerah (OPD). Total anggaran perjalanan dinas di lingkungan Pemkot Samarinda mencapai sekitar Rp7 miliar. Meski demikian, kebutuhan perjalanan dinas tetap ada, terutama untuk agenda yang berkaitan dengan koordinasi kebijakan dengan pemerintah pusat.
Perjalanan dinas kini difokuskan hanya pada kegiatan yang berkaitan langsung dengan penguatan program pembangunan daerah yang dapat didukung melalui pembiayaan sektoral kementerian atau lembaga.
Efisiensi di Sektor Konsumsi Rapat Internal
Selain perjalanan dinas, Pemkot Samarinda juga melakukan efisiensi pada belanja konsumsi kegiatan internal pemerintahan. Dalam rapat internal, misalnya, konsumsi ringan tidak lagi disediakan sebagai bagian dari kebijakan penghematan anggaran. Berhemat bukan berarti berhenti belanja, tetapi penyesuaian mana yang didahulukan dan mana yang dapat ditunda.
Contohnya, rapat internal kini hanya menyediakan air minum tanpa snack, kecuali jika kegiatan tersebut melibatkan undangan dari pihak luar. Dengan kebijakan ini, penghematan mencapai sekitar 80 persen.
Prioritas pada Sektor Pendidikan
Di tengah kebijakan efisiensi tersebut, sektor pendidikan tetap menjadi salah satu prioritas dalam pengalokasian anggaran daerah. Menurut Andi Harun, sejumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan harus segera diperbaiki karena berkaitan langsung dengan keselamatan dan kenyamanan siswa.
Ia memberi contoh, seperti rehab sekolah dasar dan menengah pertama yang memang tidak bisa ditunda. Misalnya, plafon yang roboh, runtuh, atau sekolah kayu yang sudah tidak bisa dipertahankan.











