Peran Batu Bara dalam Sistem Energi Global
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan, Bisman Bakhtiar, menilai bahwa batu bara masih memegang peran penting dalam sistem energi global meski banyak negara mendorong percepatan transisi menuju energi bersih. Komoditas ini dinilai tetap menjadi penyangga pasokan energi ketika terjadi gangguan minyak dan gas akibat ketegangan geopolitik.
Guncangan geopolitik global sering kali mengganggu pasokan minyak dan gas di pasar internasional. Dalam situasi tersebut, batu bara dianggap lebih tahan terhadap dampak konflik karena cadangannya tersebar di berbagai negara dan tidak terkonsentrasi di kawasan rawan konflik. “Cadangan batu bara tersebar luas dan tidak terlalu terkonsentrasi di kawasan konflik. Jadi relatif aman dan tidak terlalu terpengaruh panasnya geopolitik. Dalam situasi krisis, batu bara sering berfungsi sebagai penyangga pasokan energi primer,” ujar Bisman dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.
Pengamat energi Iwa Garniwa menyampaikan bahwa penggunaan batu bara di sejumlah negara kembali meningkat ketika terjadi gangguan pasokan energi global atau lonjakan harga minyak dan gas. Kondisi ini mendorong negara dengan kebutuhan energi besar untuk menjaga stabilitas pasokan melalui sumber energi yang relatif mudah diperoleh. “Oleh karena itu, beberapa negara seperti China dan India meningkatkan impor batu bara untuk menjaga ketahanan energi mereka. China, misalnya, meningkatkan impor batu bara hingga sekitar 500 juta ton pada 2024 untuk mengamankan pasokan energi domestik,” ujar Iwa.
Kondisi tersebut memberi peluang bagi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia. Data capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2025 menunjukkan, dari total sekitar 1,3 miliar ton batu bara yang diperdagangkan secara global, Indonesia memasok sekitar 514 juta ton atau sekitar 43 persen. “Batu bara masih bisa menjadi primadona walau banyak negara, termasuk Indonesia, mulai membatasi pembangunan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara. Kebijakan ini perlu dievaluasi apabila eskalasi geopolitik meningkat demi menjaga ketahanan energi nasional,” kata Iwa.
Ia menilai potensi batu bara juga dapat diperkuat melalui diversifikasi produk energi. Pengembangan teknologi seperti carbon capture, utilization, and storage (CCUS), gasifikasi batu bara, serta hilirisasi menjadi bahan kimia dan bahan bakar dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus menekan emisi karbon.
Pengunjung melihat contoh hasil tambang pada ajang Mineral dan Batu bara Convention Expo. – (/Prayogi)
Kinerja Produksi Batu Bara Nasional
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan realisasi produksi batu bara nasional mencapai 790 juta ton pada 2025. Pemerintah pada tahun ini menargetkan produksi sekitar 600 juta ton sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya dan penyesuaian kebutuhan pasar.
Dari sisi korporasi, anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, yakni PT Bukit Asam Tbk, mencatat total produksi dan pembelian batu bara sebesar 43,28 juta ton sepanjang 2024. Volume angkutan batu bara perusahaan mencapai 38,17 juta ton. Hingga akhir September 2025, produksi batu bara PTBA tercatat 35,90 juta ton atau meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga memperluas pasar ekspor ke Vietnam, Thailand, Korea Selatan, dan Jepang.
Di pasar domestik, PTBA mengamankan kontrak jangka panjang dengan PT PLN (Persero) serta sejumlah industri semen dan pupuk. Perseroan juga memperkuat bisnis logistik batu bara dengan meningkatkan volume angkutan hingga 30,02 juta ton pada kuartal III 2025, naik sekitar 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. PTBA juga mengembangkan proyek prioritas angkutan batu bara Tanjung Enim–Kramasan yang ditargetkan rampung pada kuartal III 2026. Proyek ini diproyeksikan menambah kapasitas angkutan hingga 20 juta metrik ton per tahun.
Kinerja Perusahaan Swasta
Pelaku swasta juga mencatat kinerja produksi yang stabil. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk melaporkan penjualan batu bara hingga kuartal III 2025 mencapai 52,69 juta ton dengan nisbah kupas 4,2 kali. PT Indo Tambangraya Megah Tbk melaporkan total produksi batu bara sebesar 21,2 juta ton sepanjang 2025. Angka tersebut menunjukkan industri batu bara masih menjaga peran penting dalam pasokan energi di tengah dinamika pasar energi global.
Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."











