Krisis Energi dan Langkah AS untuk Menstabilkan Pasokan Minyak
Krisis energi yang sedang terjadi akibat perang di kawasan Timur Tengah membuat Amerika Serikat (AS) merasa khawatir. Pemerintah AS resmi mengambil langkah untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran, dengan mengizinkan perdagangan minyak mentah asal negara tersebut yang saat ini sudah berada di laut.
Keputusan ini dikeluarkan oleh Departemen Keuangan AS dan bersifat sementara serta sangat spesifik. Kebijakan ini hanya berlaku bagi minyak Iran yang sudah dimuat ke kapal tanker sebelum tanggal 20 Maret 2026. Para pembeli diberikan tenggat waktu hingga 19 April mendatang untuk menyelesaikan transaksi dan pengiriman.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa langkah ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Donald Trump. Tujuannya adalah untuk menambah pasokan energi global guna menjaga stabilitas harga yang sempat mengalami fluktuasi akibat konflik.
“Kami membuka ‘keran’ pasokan yang sudah tersedia. Ada sekitar 140 juta barel minyak yang akan segera masuk ke pasar global untuk meredakan tekanan pasokan,” ujar Bessent dalam pernyataannya.
Namun, meskipun Washington memberikan pelonggaran, pihak Iran justru merespons dengan dingin. Juru Bicara Kementerian Minyak Iran, Saman Ghoddoosi, menyebut klaim AS tersebut sebagai “omong kosong”. Ia menegaskan bahwa Iran saat ini tidak memiliki stok minyak berlebih yang sedang mengapung di laut.
Menurutnya, pengumuman dari AS hanyalah strategi psikologis untuk menenangkan para pembeli minyak di pasar internasional. Meski begitu, harga minyak dunia tetap terpantau naik. Minyak mentah jenis Brent melonjak 3,26 persen ke level 112,19 dolar AS per barel.
Meski masih di bawah angka psikologis 120 dolar AS, pasar tetap waspada mengingat konflik di Timur Tengah telah berlangsung selama tiga pekan terakhir. Langkah AS ini merupakan kali kedua dalam waktu dekat mereka melonggarkan sanksi energi, setelah sebelumnya kebijakan serupa diterapkan pada minyak asal Rusia yang juga sedang dalam perjalanan di laut.
Ancaman Trump untuk Mengakhiri Perang
Trump sebelumnya memberikan sinyal bahwa ia bakal menarik rem darurat dalam perang melawan Iran. Meski mengklaim kemenangan sudah di depan mata, ada satu masalah besar yang belum kelar, yaitu Selat Hormuz masih terkunci.
Menurut laporan Axios, Trump menyebut militer AS sudah hampir mencapai semua target operasinya. “Kita sudah sangat dekat untuk memenuhi objektif perang kita,” tulis Trump, memberikan harapan bahwa konflik berdarah yang pecah sejak tiga minggu lalu ini bakal segera berakhir.
Meski Trump ingin meninggalkan medan tempur, kondisi di lapangan ternyata tidak semanis kata-katanya. Selat Hormuz, urat nadi minyak dunia, saat ini masih dalam kondisi terblokade. Iran bersikeras hanya mengizinkan kapal dari negara “sahabat” yang lewat, sementara kapal yang berafiliasi dengan AS dan sekutunya dilarang melintas.
Dampaknya adalah harga BBM di seluruh dunia, termasuk di Amerika, meroket tajam. Wall Street pun dibuat “senam jantung” setiap kali ada perkembangan baru dari Timur Tengah.
Di sisi lain, Trump juga tidak tinggal diam menghadapi keras kepalanya Teheran. Ia memberikan ultimatum 48 jam bagi Iran untuk membuka total Selat Hormuz. Jika tidak, Trump mengancam akan membombardir pembangkit listrik di seluruh Iran, dimulai dari yang terbesar.
“Jika Iran tidak MEMBUKA PENUH Selat Hormuz dalam 48 jam… Amerika Serikat akan menghantam dan melenyapkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka,” ancamnya melalui Truth Social.











