Donald Trump Pertimbangkan Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai Pemimpin Baru Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan sedang mempertimbangkan sosok Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran, sebagai pemimpin baru untuk membuka jalur komunikasi diplomatik antara AS dan Iran. Informasi ini didapatkan dari laporan yang dirangkum oleh beberapa sumber pemerintahan setempat.
Ghalibaf dinilai sebagai tokoh berpengaruh yang bisa diandalkan dalam skenario perubahan rezim. Trump ingin menerapkan pendekatan serupa seperti di Venezuela, yaitu mendukung pemimpin yang kooperatif demi mengamankan kesepakatan minyak tanpa perlu serangan militer. Meski demikian, Gedung Putih belum menetapkan pilihan pada satu tokoh tertentu dan masih mengkaji berbagai opsi yang tersedia.
“Dia salah satu yang paling berpengaruh. Tapi kita harus mengujinya, dan kita tidak bisa terburu-buru,” ujar seorang pejabat.
Trump Siapkan Skenario Suksesi
Sementara itu, Presiden Trump menyampaikan bahwa perubahan besar dalam kepemimpinan Iran kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat. Ia mengatakan akan ada “perubahan rezim yang sangat serius” di Iran. Ia juga mengeklaim proses tersebut sudah mulai berlangsung seiring melemahnya struktur kepemimpinan lama.
“Mereka benar-benar baru memulai.”
“Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid,” katanya.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa Trump disebut tidak ingin menyerang Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran. Hal ini karena ia berharap pemimpin berikutnya akan membuat kesepakatan mengenai minyak yang mirip dengan yang dibuat oleh Presiden interim Venezuela saat ini.
Praktik di Venezuela Bakal Diterapkan di Iran
Seorang pejabat menyebut pendekatan yang diinginkan Trump menyerupai skenario di Venezuela, ketika Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih peran penting setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap.
“Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela yang kita katakan, ‘Kami akan mempertahankan Anda di sana.’”
“Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,” kata pejabat itu.
Namun, beberapa sekutu Gedung Putih skeptis terhadap keinginan AS untuk memilih pemimpin Iran berikutnya seperti yang dilakukannya terhadap Rodríguez di Venezuela.
“Sepertinya hanya gertakan, seolah-olah dia mencoba mewujudkan sesuatu dengan kata-kata,” kata seseorang yang dekat dengan tim keamanan nasional presiden.
“Iran telah membuktikan bahwa mereka dapat menerima pukulan dan tetap mempersulit kita. Mereka tidak akan begitu saja menyerah dan memberikan minyak mereka kepada Trump,” imbuhnya.
Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf
Mohammad Bagher Ghalibaf merupakan tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran saat ini. Pria kelahiran 1961 ini memulai karier di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak awal berdirinya pada 1980. Selama perang Iran-Irak, ia naik cepat dalam struktur militer dan menjadi salah satu komandan penting.
Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC, sebelum ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sebagai Kepala Kepolisian Iran. Dalam karier sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama bertahun-tahun dan kini menjadi Ketua Parlemen Iran sejak 2020.
Ia juga beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden, meski selalu gagal memenangkan pemilu. Seorang peneliti senior, Dr Raz Zimmt, menyebut Ghalibaf sebagai figur “orang dalam” yang kuat.
“Ia adalah ‘orang dalam’ dengan cara yang jarang dimiliki politisi lain,” katanya.
“Tidak seperti moderat sipil, Ghalibaf memiliki koneksi dengan (Qasem) Soleimani, yang memberinya kredibilitas di IRGC.”
Meski demikian, reputasinya tidak lepas dari kontroversi. Ia kerap dituduh terlibat dalam kasus korupsi saat menjabat wali kota, meski juga dipuji sebagai sosok “konservatif pragmatis” yang mampu mengelola birokrasi kompleks.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











