Perang Rusia-Ukraina Memasuki Hari ke-1.491, Zelenskyy Kecam Tidak Ada Kemajuan Damai
Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.491 pada Rabu (25/3/2026). Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa tidak ada kemajuan nyata dalam proses negosiasi damai karena Rusia dianggap tidak serius dalam mencari solusi perdamaian.
Setelah menerima laporan dari tim negosiasi Ukraina yang kembali dari Amerika Serikat, Zelenskyy menegaskan bahwa situasi masih sulit. Ia mengungkapkan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk bergerak menuju perdamaian, melainkan hanya ingin mendapatkan keuntungan lebih banyak dari minyak dan memperpanjang waktu untuk serangan lanjutan.
“Kami harus melakukan segala sesuatu yang mungkin dan perlu untuk memastikan bahwa Rusia benar-benar tertarik pada diplomasi,” kata Zelenskyy dalam pidato malam hari. Ia juga menekankan bahwa perdamaian harus bisa diandalkan dan bukan hanya sekadar kesepakatan sementara.
Zelenskyy juga memerintahkan tim negosiasi Ukraina untuk terus bekerja dengan mitra mereka agar diplomasi menjadi lebih substansial. Ia menekankan pentingnya penyelesaian isu-isu kemanusiaan seperti pertukaran tahanan. Selain itu, tim tersebut juga diminta memberikan penjelasan kepada mitra Eropa dan Kanada tentang pertemuan di Florida.
Akar Konflik dan Perkembangan Terbaru
Perang antara Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022, ketika Rusia meluncurkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah kota di Ukraina. Konflik ini merupakan puncak dari ketegangan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Awalnya, Ukraina mulai menjalin hubungan dekat dengan negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat, yang membuat Rusia merasa pengaruhnya di kawasan tersebut terancam.
Pada tahun 2014, ketegangan meningkat setelah Revolusi Maidan di Kyiv yang membawa perubahan arah politik Ukraina menjadi lebih pro-Barat. Sebagai respons, Rusia mencaplok wilayah Krimea, sementara konflik bersenjata terjadi di Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang diduga didukung oleh Rusia.
Pada 2022, situasi memanas hingga Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi militer besar-besaran. Rusia menyatakan tujuan invasi adalah melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas serta menghentikan perluasan NATO. Tindakan ini mendapat kecaman luas dari dunia internasional, termasuk sanksi ekonomi dari negara-negara Barat dan bantuan militer serta keuangan kepada Ukraina.
Moldova Darurat Energi Imbas Serangan Rusia
Moldova menetapkan status darurat energi setelah jalur listrik utama yang terhubung ke Eropa terputus akibat serangan Rusia di Ukraina. Status darurat ini berlaku selama 60 hari dan mulai berlaku pada Rabu (25/3/2026).
Perdana Menteri Alexandru Munteanu meminta masyarakat untuk menghemat penggunaan listrik, terutama pada jam sibuk. Moldova yang biasanya bergantung pada pasokan listrik dari Rumania melalui jaringan yang melintasi wilayah Ukraina selatan, kini menghadapi gangguan serius. Ditemukan drone jatuh di dekat jalur tersebut, sehingga diperlukan proses pembersihan ranjau sebelum perbaikan bisa dilakukan.
Menteri Energi Dorin Junghietu memperkirakan pemulihan jaringan listrik memakan waktu hingga tujuh hari. Presiden Moldova Maia Sandu menulis di X bahwa hanya Rusia yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Serangan Udara Besar-Besaran ke Lviv
Presiden Zelenskyy mengecam keras serangan udara besar-besaran yang dilakukan Rusia di wilayah Ukraina. Serangan tersebut terjadi pada siang hari dan menjangkau berbagai wilayah, termasuk kota bersejarah Lviv di bagian barat.
Dalam pidatonya, Zelenskyy menyebut serangan tersebut sebagai “kebejatan mutlak” dan menilai hanya orang seperti Vladimir Putin yang bisa menganggap hal ini menarik. Ia menegaskan bahwa skala serangan menunjukkan bahwa Rusia tidak berniat mengakhiri perang.
Serangan besar tersebut melibatkan ratusan drone dan rudal, termasuk serangan ke biara Bernardine di pusat kota Lviv, yang termasuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO. Kerusakan pada bangunan bersejarah ini semakin memperkuat kecaman Zelenskyy terhadap tindakan Rusia.
Korea Utara Beri Dukungan Penuh ke Rusia
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, menyatakan dukungan penuh negaranya kepada Rusia dalam pesan yang ditujukan kepada Presiden Vladimir Putin. Pernyataan ini menegaskan hubungan erat antara kedua negara sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Kim menyampaikan terima kasih atas ucapan selamat dari Putin dan menekankan bahwa DPRK dan Rusia bekerja sama untuk mempertahankan kedaulatan masing-masing negara. Ia juga menyatakan bahwa Pyongyang akan selalu bersama Moskow.
Menurut laporan intelijen Barat dan Korea Selatan, Korea Utara telah mengirim ribuan tentara serta persenjataan seperti artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh ke Rusia. Para analis menilai dukungan ini diberikan sebagai imbalan atas bantuan pangan dan teknologi militer dari Rusia.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











