Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Serangan di Lebanon
Tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur dalam misi perdamaian United Nations Interinterim Force in Lebanon (UNIFIL). Insiden ini terjadi dalam serangan yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah Lebanon. Identitas korban pertama yang diketahui adalah Praka Farizal Rhomadhon, anggota Yonif 113/JS yang gugur pada Minggu (29/3/2026). Ia terkena proyektil yang menghantam pangkalan misi di Ett Taibe.
Tidak berhenti di situ saja, dua prajurit TNI lagi turut gugur dalam serangan di Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026), sekitar pukul 11.00 waktu setempat. Bani Hayyan merupakan area operasi (AO) dari Indonesia Battalion (INDOBATT) di Sektor Timur. Khusus untuk dua prajurit TNI yang turut gugur dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon yaitu:
- Kapten Infanteri Zulmi dari Grup 2 Kopassus
- Sersan Satu Ichwan dari Kesdam IX Udayana
Selain itu, dua prajurit TNI juga mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Mereka adalah:
- Lettu Inf. Sulthan dari Yonif 320
- Prajurit Kepala (Praka) Deni dari AU Lanud Atang Sanjaya
Kronologi Kejadian
Insiden maut itu berawal ketika Indonesian Task Force Bravo (TFB) dengan dua kendaraan (Ran) melakukan escort atau pengawalan kepada Spanyol, CSSU (Combat Support Service Unit) dengan total rangkaian enam kendaraan. Sesampainya di Bani Hayyan, kendaraan 1 (Ran 1) mengalami ledakan hingga rusak parah. Hingga berita ini diturunkan, penyebab ledakan masih dalam proses penyelidikan.
Dalam Ran 1 terdapat Kapten Infanteri Zulmi, Sersan Satu Ichwan, Lettu Inf. Sulthan, dan Praka Deni. Hingga kini, jenazah Kapten Infanteri Zulmi dan Sersan Satu Ichwan dilaporkan masih belum bisa dievakuasi karena tingginya intensitas serangan sehingga situasi tidak memungkinkan. Sementara, dua prajurit lain yang mengalami luka menjalani penanganan medis di fasilitas China Medical di UNP 7-2, dilanjutkan evakuasi debfab menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut.
Adapun tiga personel lainnya yang berada di kendaraan 2 (Ran 2), yakni Praka Ulil Amri, Praka M. Zakariya, dan Pratu Iqbal, dilaporkan dalam kondisi selamat. Peristiwa ini terjadi sehari setelah Praka Farizal Rhomadhon, anggota Yonif 113/JS yang juga merupakan pasukan perdamaian di Lebanon, gugur akibat proyektil yang menghantam pangkalan misi di Ett Taibe dan meledak pada Minggu (29/3/2026).
Kecaman PBB dan Investigasi
Kepala Operasi Perdamaian PBB Jean-Pierre Lacroix mengecam keras insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB di Lebanon. “Kami mengutuk keras insiden yang tidak dapat diterima ini. Pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi target,” kata Lacroix kepada wartawan dalam konferensi pers di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS).
Lacroix juga menyatakan bahwa UNIFIL sedang melakukan investigasi “untuk menentukan keadaan dari perkembangan tragedi ini.” “Kami juga tetap sangat prihatin tentang beberapa insiden perilaku agresif terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL dalam beberapa hari terakhir,” tambah Lacroix.
Selain itu, Lacroix menyebut bahwa pasukan perdamaian PBB “tetap berada di lapangan, melaksanakan tugas-tugas yang diamanatkan Dewan Keamanan PBB, dalam kondisi yang sangat berbahaya ini.”
Sementara itu, Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel mengatakan bahwa penyelidikan atau investigasi terhadap peristiwa ini sedang berlangsung, tetapi akan memakan waktu. “Untuk saat ini, kami belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi, tetapi itulah yang akan ditemukan oleh penyelidikan,” tutur Kandice, dikutip dari UN News.
“Setelah penyelidikan selesai, sesuai praktik biasa, kami akan membagikannya kepada pihak-pihak terkait. Dan tergantung pada hasilnya, jika kami menemukan pihak yang bertanggung jawab, kami akan memberi tahu mereka dan kami akan secara resmi memprotes hal itu kepada mereka.”
Sejarah dan Tugas UNIFIL
Sebagai informasi, UNIFIL atau Pasukan Sementara PBB di Lebanon adalah sebuah misi penjaga perdamaian yang didirikan oleh Dewan Keamanan PBB pada 19 Maret 1978 untuk menjaga keamanan di Lebanon Selatan. Total, ada lebih dari 8.000 pasukan penjaga perdamaian dari hampir 50 negara yang bertugas di UNIFIL.
Tugas utama UNIFIL adalah memastikan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, dan membantu Pemerintah Lebanon dalam memastikan kembalinya otoritas efektifnya di wilayah tersebut. UNIFIL telah memainkan peran penting dalam memajukan perdamaian dan keamanan, termasuk dengan berpatroli di Garis Biru pemisah antara kedua negara.
Sejatinya, UNIFIL telah berperan besar dalam mengimplementasikan resolusi DK PBB yang mengakhiri permusuhan selama lebih dari 30 hari antara pasukan Israel dan Hizbullah pada 2006. Namun, Lacroix menyatakan, eskalasi yang terjadi saat ini telah menyebabkan “banyak pelanggaran” terhadap Resolusi 1701 (2006), mengutip serangan di sepanjang Garis Biru serta kehadiran pasukan Israel di Lebanon.
Bahkan, wilayah dekat markas UNIFIL di Lebanon Selatan mengalami serangan Israel. “Kami telah menyaksikan banyak sekali serangan Israel ke Lebanon Selatan di berbagai daerah, termasuk di dekat markas kami di Naqoura, di mana sekitar seminggu yang lalu, dalam beberapa hari terakhir, kami mengalami beberapa pertempuran yang sangat sengit yang dapat kami dengar,” kata Kandice.
“Markas kami di sini terkena peluru, pecahan peluru. Roket bahkan menghantam markas kami, jadi itu adalah situasi yang sangat berbahaya dan tidak menentu.”











