"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kenali Kelompok Houthi Yaman yang Serang Israel dan Dukung Iran, Ini Akibatnya

Peran Houthi dalam Konflik Timur Tengah

Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung oleh Iran, akhirnya meluncurkan rudal ke wilayah Israel pada hari Sabtu (28/3/2026), tepat pada hari ke-30 sejak perang besar di kawasan Timur Tengah meletus. Langkah ini menandai berakhirnya sikap “menahan diri” yang sebelumnya ditunjukkan oleh kelompok tersebut sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari lalu.

Pihak Israel mengonfirmasi telah mendeteksi peluncuran rudal dari Yaman dan menyatakan tengah berupaya melakukan pencegatan. Sebelumnya, Houthi memang telah menyatakan dukungan terhadap Iran, namun belum terlibat langsung dalam konflik terbuka.

Loyalitas Houthi kepada Iran Mulai Terlihat

Menurut analis, keterlibatan Houthi sebenarnya sudah lama diprediksi. Meski berisiko terhadap posisi mereka di Yaman, serangan ini dinilai sebagai bentuk loyalitas terhadap Iran yang selama ini menjadi pendukung utama mereka.

Peneliti dari Chatham House, Farea Al-Muslimi, mengatakan keterlibatan Houthi sebenarnya bukan pilihan yang menguntungkan bagi mereka. “Mereka kemungkinan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlibat dalam perang ini, mereka tahu hal itu tidak akan menguntungkan mereka dalam hal apa pun,” kata peneliti di Chatham House, Farea Al-Muslimi, dikutip dari Kompas.com. “Namun pada akhirnya mereka harus membalas budi kepada Iran yang telah mendukung mereka selama bertahun-tahun,” tambahnya.

Dengan menargetkan wilayah Israel secara langsung, bukan pangkalan Amerika Serikat di kawasan Teluk, Houthi dinilai ingin menunjukkan bahwa mereka memposisikan diri sebagai bagian dari perjuangan Palestina, sekaligus menghindari konfrontasi langsung dengan AS.

Perusahaan konsultan risiko asal AS, Basha Report, menilai langkah berikutnya yang mungkin dilakukan Houthi adalah menyerang jalur pelayaran di kawasan. “Hal ini menciptakan tekanan tanpa melewati batas yang dapat memicu respons langsung dari AS,” tulis Basha Report.

Laut Merah Terancam Lumpuh

Keterlibatan Houthi membawa konsekuensi besar terhadap keamanan jalur pelayaran global, khususnya di kawasan Laut Merah. Dari wilayah pegunungan yang menghadap Laut Merah, Houthi memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran menggunakan drone dan rudal.

Situasi ini bukan hal baru. Dalam konflik Gaza sebelumnya, Houthi juga menargetkan kapal-kapal yang mereka anggap terkait dengan Israel. Serangan-serangan tersebut sempat mengganggu pelayaran di Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit yang menjadi pintu masuk menuju Terusan Suez dari Samudra Hindia.

Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia karena menjadi penghubung utama perdagangan antara Eropa dan Asia. Posisi strategis kawasan ini menjadi semakin vital setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz di sisi lain Semenanjung Arab.

Jika Bab al-Mandeb ikut terganggu, kapal-kapal terpaksa memutar lebih jauh melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, yang berarti biaya logistik global akan meningkat dan pasar energi dunia bisa terguncang.

Potensi Konflik Meluas ke Arab Saudi

Dalam pernyataan terbarunya, Houthi juga memberi sinyal kemungkinan serangan ke negara-negara tetangga. Secara geografis, posisi mereka dinilai lebih dekat dan lebih strategis dibanding Iran untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi maupun pangkalan Barat di kawasan Teluk.

Jika serangan tersebut benar terjadi, risiko konfrontasi langsung dengan Arab Saudi akan meningkat. Situasi ini mengingatkan kembali pada perang panjang antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang berlangsung dari 2015 hingga 2022 sebelum gencatan senjata diberlakukan.

Keterlibatan Houthi dalam konflik terbaru ini pun dikhawatirkan akan memperluas perang di Timur Tengah, tidak hanya di darat tetapi juga di jalur perdagangan laut global yang sangat vital bagi ekonomi dunia.

Mengenal Kelompok Houthi Yaman

Houthi adalah kelompok militer yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman. Negara yang berada di Timur Tengah itu berbatasan dengan Laut Merah. Dikutip dari The Guardian via Kompas.com, nama Houthi berasal dari nama sosok pendiri kelompok tersebut, Hussein Badreddin al-Houthi.

Saat ini, kelompok tersebut dipimpin Abdul-Malik al-Houthi. Houthi berdiri sejak 1999 untuk menentang pengaruh Arab Saudi di Yaman. Kelompok ini bergerak dengan ideologi melawan Israel dan AS. Houthi juga dianggap menjadi bagian dari perlawanan bersama Iran, Hamas di Gaza, dan Hizbullah di Lebanon.

Dilansir dari AP News (12/1/2024), Houthi melakukan pemberontakan kepada pemerintah Yaman pada 2014, sehingga memicu perang saudara. Pemberontakan dilakukan karena kelompok itu memprotes tindakan korupsi dan kekejaman presiden Ali Abdullah Saleh yang sudah lama berkuasa di Yaman dan sekutu Arab Saudi.

Arab Saudi berusaha membantu Yaman dengan mengintervensi pada 2015. Namun, perang terus berlanjut dan diperkirakan menewaskan 377.000 orang hingga akhir 2021. Arab Saudi dan Houthi akhirnya melakukan perundingan, pertukaran tahanan, dan gencatan senjata sebagai upaya damai. Namun, ikhtiar perdamaian tersebut hingga kini belum membuahkan hasil.

Kelompok yang diperkirakan memiliki 20.000 pejuang itu sekarang menguasai sebagian besar wilayah barat negaranya termasuk Laut Merah dan ibukota Sana’a. Kelompok Houthi sendiri didukung oleh Iran yang bermusuhan sejak lama dengan Arab Saudi.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *