Perseteruan dalam Dunia Skincare yang Menimbulkan Kontroversi
Fitri Salhuteru, seorang pengusaha ternama, memberikan pernyataan terkait kasus yang melibatkan Nikita Mirzani dan Reza Gladys. Menurutnya, Nikita Mirzani bukanlah pelaku utama dalam kasus ini, melainkan korban dari sebuah konflik yang berujung pada vonis 6 tahun penjara atas dugaan pemerasan, pengancaman, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Kontroversi ini bermula dari ulasan buruk yang diberikan oleh Nikita Mirzani terhadap produk skincare milik Reza Gladys. Perseteruan ini kemudian berkembang menjadi kasus hukum yang menyeret banyak pihak. Fitri mengklaim bahwa sosok Dokter Detektif, atau yang dikenal sebagai Doktif, adalah pihak yang paling diuntungkan dari kekacauan ini.
Sejak tahun 2024, industri skincare Tanah Air menjadi sorotan publik karena perseteruan antara aktris Nikita Mirzani dengan dokter sekaligus pengusaha skincare Reza Gladys. Kini, Nikita Mirzani harus mendekam di penjara setelah kasusnya ditolak Mahkamah Agung. Ia dinyatakan bersalah atas dugaan pemerasan, pengancaman, dan TPPU.
Fitri Salhuteru, yang merupakan mantan sahabat Nikita Mirzani, menyatakan bahwa sang aktris hanya korban dalam kasus ini. Ia menuding Dokter Detektif sebagai pihak yang paling diuntungkan dari kisruh ini. Selain aktif sebagai dokter, Doktif juga dikenal sebagai pembuat konten edukasi tentang skincare di media sosial.
“Seperti yang aku selalu bilang dari awal, dia (Nikita) hanya korban sekarang yang paling diuntungkan dalam huru hara ini siapa kalau bukan si Bopeng (Doktif)?”, ujar Fitri dalam salah satu unggahan Instagram Story-nya.
Meski mengaku tidak memiliki kepentingan dalam kasus ini, Fitri menegaskan bahwa ia akan terus menyuarakan kebenaran. “Aku nggak akan berhenti bersuara, karena aku tidak punya kepentingan, dari awal aku tidak punya kepentingan aku hanya ingin masyarakat itu pinter mana yang untuk kepentingan masyarakat mana yang untuk pemerasan,” tambahnya.
Fitri juga menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi Nikita Mirzani yang harus mendekam di penjara, sementara Doktif masih bisa melakukan aksinya tanpa hambatan. “Sudah tau kan sekarang si Bopeng masih wara-wiri cari mangsa untuk diperas sementara yang terinspirasi kasihan,” imbuhnya.
Hubungan Doktif dan Nikita Mirzani yang Mulai Renggang
Dalam unggahan lain, Fitri Salhuteru menyebut kembali momen lawas soal perseteruan Doktif dengan pengusaha sekaligus selebgram Shella Saukia. Pada Januari 2025 lalu, Doktif dan Shella Saukia sempat terlibat adu mulut di sebuah restoran. Shella Saukia secara terang-terangan menyebut Doktif sebagai pembohong.
Fitri menyinggung ucapan Shella tersebut dalam salah satu unggahannya. “Samira, fakta nih ya, fakta lagi. Fakta, lu gak usah nunggu-nungguin orang bikin konten-konten, konten-konten, ya. Yang penting ini, lu sudah menjadi rekaman jejak digital kalau SS (Shella Saukia) dengan lantam dan berani mengatakan pertama kali lu penipu di muka seluruh masyarakat Indonesia, ya,” ujarnya.
Doktif pernah menyinggung hubungan Fitri dan Shella yang kini merenggang lewat unggahan di media sosialnya. Namun, Fitri menjelaskan bahwa hubungan mereka tetap baik. “Paham loh Samira, bopeng, nah itu yang penting kalo gua nggak ada masalah sama SS, gausah juga sering-sering ketemu pertama dia bukan bestie gua, temen biasa ya,” jelasnya.
Meskipun begitu, Fitri tetap memberikan dukungan pada apa pun yang dilakukan oleh Shella Saukia. “Gua selalu mendukung apa pun yang dilakukan oleh SS,” katanya.
Di akhir komentarnya, Fitri menyinggung hubungan Doktif dan Nikita Mirzani yang kini disebut mulai merenggang. Bahkan saat Nikita Mirzani mendekam di penjara akibat laporan Reza Gladys, Doktif belum terlihat membesuk sang aktris. “Samira, yang bener-bener dilepeh itu dibuang, diludahin lu sama si NM (Nikita Mirzani) lu coba besuk sana, besuk ya orang yang sudah terinspirasi sama lu,” sindir Fitri.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











