"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Hukum  

YLBHI Meragukan Motif Dendam Andrie Yunus Diteror

Kritik terhadap Analisis Mengenai Motif Penyiraman Air Keras terhadap Andrie Yunus

Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menyampaikan ketidakpercayaannya terhadap analisis yang disampaikan oleh eks Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI periode 2011-2013, Laksamana Muda (Purn) Soleman B Ponto. Analisis tersebut menyebut bahwa ada dendam pribadi di balik kasus penyiraman air keras terhadap Aktivis KontraS, Andrie Yunus.

Menurut Isnur, dugaan adanya dendam pribadi dari jajaran personel BAIS TNI terkait peristiwa aksi penolakan para aktivis terhadap RUU TNI pada Maret 2025 lalu tidak memiliki hubungan sebab-akibat dengan kasus penganiayaan Andrie. Ia menilai bahwa pernyataan tersebut kurang tepat dan perlu dipertanyakan kebenarannya.

Pembahasan RUU TNI di Fairmont Tidak Diawasi oleh Personel TNI

Isnur menjelaskan bahwa pembahasan RUU TNI di Hotel Fairmont Jakarta tidak dijaga oleh personel TNI. Sehingga, adanya dugaan bahwa anggota BAIS memiliki dendam pribadi terhadap Andrie adalah pernyataan yang tidak akurat.

“Di Fairmont itu enggak ada (personel TNI). Itu kan forumnya DPR, bukan forumnya TNI. TNI enggak ada yang jaga di situ,” ujar Isnur dalam acara Ngobrol Seru by IDN Times.

Tudingan Motif Dendam Pribadi Harus Dibuka ke Publik

Isnur kemudian mendorong agar dugaan motif dendam pribadi dari personel BAIS terhadap Andrie dibuka ke publik. Hal ini dilakukan agar narasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Termasuk dalam hal ini adalah dugaan adanya sanksi terhadap personel BAIS karena gagal menjaga rapat RUU TNI berjalan kondusif. Menurut Isnur, saat ini belum ada bukti yang kuat mengenai hal tersebut.

“Kita sebenarnya gak perlu menduga-duga. Kalau yang memang seperti itu, tinggal dibuka. Sekarang apakah para pelaku ini merupakan orang lain yang diberikan sanksi di peristiwa Fairmont? Kan jelas. Ada putusan peradilannya, ada pemeriksaannya. Saya gak yakin itu ada,” tegasnya.

Eks Kabais Ungkap Dugaan Motif Dendam Pribadi

Sebelumnya, dalam forum diskusi yang sama, Ponto menyebutkan dugaan motif dendam pribadi dari para pelaku lapangan terhadap Andrie. Ia menyinggung langkah Andrie dan dua koleganya yang menerobos masuk pembahasan revisi Undang-Undang TNI di ruang rapat di Hotel Fairmont pada Maret 2025 lalu.

“Pasti kan saat itu ada tentara yang berjaga di luar. Masuknya Andrie (ke ruang rapat), kalau yang saya tahu, ini akan kena ke tentara yang berjaga di luar. Mereka kena hukuman makanya punya dendam pribadi,” kata Ponto.

Dalam pandangannya, jika yang menggerakkan aksi teror terhadap Andrie adalah dendam pribadi, maka akan sulit dikendalikan oleh atasannya. Ketika ditanya apakah hal itu bermakna ia memastikan empat pelaku di lapangan juga ada di Hotel Fairmont pada Maret 2025, Ponto mengaku tak yakin.

“Barang kali, mungkin (bisa empat pelaku yang menyiram air keras juga penjaga Hotel Fairmont). Itu kan kalimat saya juga mungkin. Tapi, kalau melihat ini, saya tahu psikologisnya prajurit, ada kalanya begitu,” tuturnya.

Ponto menjelaskan bahwa sanksi yang diberikan biasanya bisa beragam, misalnya penundaan kenaikan pangkat, tidak boleh mengikuti pendidikan jenjang karier militer, dan sebagainya.

“Barangkali. Mungkin. Itu kan saya juga mungkin. Karena kapten, itu biasanya mereka komandan-komandan di situ. Tapi saya juga enggak tahu. Tapi kalau melihat ini dengan adanya seperti itu, yang saya tahu psikologisnya para prajurit itu ada kalanya seperti begitu. ‘Gara-gara kamu masuk, gara-gara ini aku terhukum. Kalau aku terhukum, sudah, kumat usilnya. Kita carilah siapa itu yang bikin kita terhukum’,” jelas Ponto.

“Karena begitu itu kan langsung yang dicari siapa yang jaga. Kita enggak tahu apa yang hukumannya terhadap mereka. Kita enggak tahu. Tapi kebiasaannya seperti itu. Ada yang tunda pangkat, ada yang tidak boleh sekolah, ada yang macam-macam,” imbuh dia.

IDN Times menelusuri kembali dokumentasi visual pada 15 Maret 2025. Para penjaganya terlihat mengenakan pakaian sipil. Sehari usai terjadi penerobosan, TNI baru menyiagakan kendaraan taktis di depan Hotel Fairmont.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *