Proyek Terminal LNG di Pantai Serangan, Denpasar: Langkah Penting Menuju Ketahanan Energi
Bali kini memasuki babak baru dalam upaya mengurangi ketergantungan pada Bahan Bakar Minyok (BBM) impor. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah rencana pembangunan terminal khusus Liquefied Natural Gas (LNG) di kawasan Pantai Serangan, Denpasar. Infrastruktur berkapasitas 145.000 m3 ini akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan ketahanan energi nasional sekaligus mendukung visi pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata.
Sebelumnya, Bali memiliki konsumsi solar yang sangat besar, mencapai 500.000 Metrik Ton (MT) per tahun. Angka ini menjadikan Bali sebagai salah satu konsumen solar terbesar di Indonesia dengan biaya pengadaan yang sangat tinggi, yakni menyentuh Rp 8,3 triliun berdasarkan harga keekonomian saat ini. Transisi dari solar menuju LNG dianggap bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk efisiensi anggaran negara.
Langkah strategis ini selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan penguatan ketahanan energi dan pengurangan impor BBM nasional hingga 20 persen. Dicky Ahmad Gustyana, praktisi bisnis energi sekaligus alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa keberadaan storage LNG di Serangan akan memberikan dampak ekonomi instan bagi negara.
“Bayangkan, dengan adanya storage LNG di Serangan ini, negara bisa menghemat hingga 500 juta USD per tahun. Dan yang paling penting,” kata Dicky kepada awak media di Bali, pada Jumat 10 April 2026.
“LNG ini bukan komoditas impor yang rentan gejolak geopolitik. Ini murni dihasilkan dari bumi Indonesia, dari ladang Tangguh di Papua,” imbuhnya.
Menurut Dicky, ketergantungan pada BBM impor sering kali menjadi titik lemah neraca perdagangan Indonesia. Karena itu, transisi ke LNG domestik dari Papua akan memberikan fondasi energi yang lebih mandiri dan terlindungi dari guncangan ekonomi eksternal.
Aspek Lingkungan yang Tidak Boleh Diabaikan
Selain faktor ekonomi, aspek lingkungan menjadi alasan kuat di balik urgensi proyek ini. Sebagai destinasi wisata kelas dunia, Bali membutuhkan pasokan energi yang lebih bersih untuk menjaga kualitas udara. Penggunaan LNG jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan solar yang polutif, yang selama ini dihasilkan dari penggunaan genset diesel secara masif.
“Bali ini etalase pariwisata Indonesia. Kalau udaranya kotor karena genset diesel di mana-mana, wisatawan bisa kabur,” ujar dia.
“Transisi ke LNG ini bukan hanya urusan energi, tapi juga urusan menjaga citra dan masa depan ekonomi Bali,” imbuh Dicky.
Transformasi energi ini juga berjalan beriringan dengan kebijakan pemerintah pusat yang berencana mempensiunkan 13 pembangkit listrik tenaga diesel di berbagai wilayah. Dukungan infrastruktur di Serangan diprediksi menjamin stabilitas suplai energi bersih bagi sektor perhotelan, restoran, hingga industri di Bali secara berkelanjutan.
Dukungan dari Seluruh Pemangku Kepentingan
Mengingat urgensi yang melingkupi aspek ekonomi dan pelestarian lingkungan tersebut, pembangunan terminal LNG di Pantai Serangan kini diharapkan mendapat dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan.
“Pembangunan storage LNG ini perlu kita dukung bersama. Ini wujud nyata dari visi swasembada energi yang dicanangkan Presiden Prabowo. Bali harus menjadi contoh percontohan transisi energi bersih di Indonesia,” tutup Dicky.











